Belum Tergarap Maksimal, Potensi Besar Sawit di Kabupaten Wajo Capai 30 Ribu Hektar
Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit meskipun belum menjadi daerah sentra sawit.
Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit meskipun belum menjadi daerah sentra sawit.
Pengembangan perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, dinilai memiliki prospek yang besar. Namun, di balik tingginya minat masyarakat untuk menanam sawit, petani masih menghadapi sejumlah kendala.
Perkumpulan Organisasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (POPSI) memberikan tanggapan atas pernyataan Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, yang menyebut selisih (gap) antara harga ekspor yang dilaporkan eksportir dengan harga acuan pasar internasional kini semakin menyempit sejak PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) mulai beroperasi pada 1 Juni 2026.
Jakarta, mediaperkebunan.id - Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di dunia tetapi produksi stagnan.
Penggunaan bibit kelapa sawit yang tidak bersertifikat masih menjadi tantangan serius bagi pengembangan perkebunan sawit rakyat di Sulawesi Selatan. Kondisi tersebut diperparah dengan belum tersedianya pabrik kelapa sawit (PKS) di Kabupaten Wajo yang menyebabkan harga tandan buah segar (TBS) yang diterima petani jauh lebih rendah dibandingkan daerah sentra sawit lainnya.
Dari total luas kebun sawit Indonesia 6,38 juta ha, 53% atau 8,68 juta ha merupakan perusahaan besar swasta yang punya kebun dan PKS, 6% atau 980.000 ha PTPN yang punya kebun dan PKS, 42% atau 6,24 juta ha yang hanya punya kebun saja. Sudah saatnya petani juga punya pabrik. Petrus Tjandra, Dirut PT Agroinvestam menyatakan hal pada Pekan Riset Sawit 2026 yang diselenggarakan BPDP.
PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang paruh pertama tahun ini. Subholding BUMN perkebunan di bawah PTPN III (Persero) tersebut meraup laba bersih konsolidasian (unaudited) sebesar Rp3,23 triliun pada Semester I 2026, melonjak hingga 54 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).