Jakarta, mediaperkebunan.id - Dari total luas kebun sawit Indonesia 6,38 juta ha, 53% atau 8,68 juta ha merupakan perusahaan besar swasta yang punya kebun dan PKS, 6% atau 980.000 ha PTPN yang punya kebun dan PKS, 42% atau 6,24 juta ha yang hanya punya kebun saja. Sudah saatnya petani juga punya pabrik. Petrus Tjandra, Dirut PT Agroinvestam menyatakan hal pada Pekan Riset Sawit 2026 yang diselenggarakan BPDP.
Setiap minggu Apkasindo membuat laporan harga penetapan TBS. Harga TBS tinggi ada di Sumsel, Sumbar, Riau, Babel dan Kalsel sedang rendah di Kalbar, Sultra, Gorontalo, Sulsel dan Banten yang ada PTPN. Beda harga sampai 25%.
“Kenapa tidak ada yang investasi membangun PKS baru di tempat yang harga TBSnya rendah. Survey Brin menyebutkan karena teknologi, PKS ini sejak yang pertama dibangun tahun 1922 sampai sekarang tidak ada perubahan teknologi secara drastis, begitu-begitu saja,” katanya.
Sekarang banyak petani tidak berani memanen buah matang karena sampai di pabrik busuk sehingga terkena penalty. Petani memanen buah agak matang bahkan mentah karena perlu uang untuk kebutuhan hidupnya. Buah mentah dan agak matang rendemennya rendah. Ini membuat produktivitas rendah, padahal pabrik butuh minyak yang banyak bukan buah.
Kebun petani menjadi tempat penyimpanan karbon dan TBSnya juga harusnya diolah di pabrik yang rendah emisi atau emisi nol, sehingga seperti petani Thailand mendapat tambahan penghasilan dari kredit karbon. Pabrik sawit rendah emisi adalah SPOT (Steamless Palm Oil Technology).
Seperti padi yang diambil hanya bulir gabahnya saja sedang jerami ditinggal di sawah, demikian juga proses pada pabrik SPOT. Buah dibrondol di kebun dan dibawa ke pabrik sedang tandan kosong dibiarkan di kebun. Ada alat pembrodolan yang disebut detacher yang hak patennya sudah dipegang Petrus. Selama ini di PKS tandan kosong merupakan limbah dan jadi masalah karena menumpuk.
Dengan teknologi ITS, biomassa tandan kosong dan pelepah dipirolisis jadi biochar, asap cair dan syngas. Biochar sekarang sedang naik daun dan ketua asosiasi pengusahanya adalah Hashim Djojohadikusumo. Teknologi pyrolisis dari ITS ini merupakan masa depan Indonesia. Syngas yang dihasilkan digunakan untuk memanaskan udara pada pabrik SPOT. Teknologi pengeringan ini juga sudah dipatenkan Petrus.
Petrus mengakui dia bukan inventor pabrik SPOT, tetapi mengamati, meniru dan memodifikasi. Dukungan real dari Ditjen Agro, Kemenperin, berupa moril, material dan kebijakan. Kebijakan berupa prioritas hilirisasi industri nasional. Aspek prioritasnya adalah peningkatan kinerja industri, urgensi injeksi teknologi dalam rangka mendukung korporatisasi petani, sertifikasi ketertelusuran keberlanjutan sebagai new standard on market access cq countering EUDR.
SPOT ini tanpa uap tetapi buahnya dipanggang dengan udara panas dari syngas. Pemanggangan ini membunuh enzim lipase pemicu kerusakan minyak, sedang zat yang bermanfaat tetap ada. Saat ini sedang diteliti pemanggang mengunakan microwave. Pada PKS konvensional, proses pemerasan minyak menggunakan screw press, kalau terlalu kuat maka nut pecah dengan konsesus ≥15%, kalau kurang maka minyak pada mesocarp tidak optimal terkutip.
Petrus membuat alat pemisah mesocarp dan nut bernama demesocarper dan sudah dipatenkan juga. Jadi pada SPOT hanya mesocarp yang masuk ke screw press dengan hasil Palm mecocarp oil (PMO). Nut yang brokennya di bawah 5% diolah jadi PKO. PKO harganya mahal jadi produksi PKOnya juga lebih tinggi.
PMO dengan banyaknya zat bermanfaat di dalamnya menurut penelitian UI bisa jadi fitronutient. Penelitian Unila bisa jadi produk water on oil emulsion sebagai bahan bakar baik biogasoline maupun biodiesel. Sedang PKO jadi bioavtur.
PMO yang sudah diolah jadi Refinery PMO olein menurut hasil penelitian UI kadar beta karoten (vitamin A) 633,356 ppm, jauh lebih tinggi daripada kapsul vitamin A yang beredar dengan kandungan 300 ppm. Tokoferol (vitamin E) 913,71 ppm. Sedang pada olein (minyak goreng) dari CPO semuanya nol.
Pabrik SPOT yang sudah berdiri ada di Muaro Jambi, pabriknya bersih karena untuk pangan. Saat ini pabrik kedua sedang dibangun sebagai teaching industry di Instiper Jogja. Sebagai Institusi Pendidikan khusus sawit, Instiper bisa mengkaji pabrik ini dari segala sisi. Pabrik ini juga akan jadi tempat bagi siapa saja yang ingin tahu SPOT.
“Pabrik SPOT ini cocok dikembangkan oleh petani. Sudah saatnya petani punya pabrik sendiri dan SPOT jawabannya,” kata Petrus.