Jakarta, mediaperkebunan.id - Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di dunia tetapi produksi stagnan. Produksi sawit tahun 2021 51,3 juta ton, 2022 51,248 juta ton, 2023 54,844 juta ton, 2024 52,553 juta ton, 2025 56,333 juta , sampai April 2026 20,461 juta ton. Dwi Asmono, Ketua Bidang Riset dan Pengembangan GAPKI/Director of Sustainability, Research and Development PT Prime Agri Resources Tbk menyatakan hal ini pada Pekan Riset Sawit Indonesia 2026 yang dilaksanaan BPDP.
Kompetitor yaitu rapeseed, bunga matahari dan kedelai mendapatkan dukungan riset publik berskala besar , tahun 2021-2027 €93,5 miliar dan tahun 2028-2034 €175 miliar. Sawit sebagai komoditas tropis belum memiliki mekanisme multilateral setara, anggaran riset 5 konsorsium GAPKI baru puluhan ratusan miliar rupiah.program, bukan miliaran euro. Skala dukungan riset hulu sawit perlu tumbuh lebih cepat.
Saat ini produksi perusahaan perkebunan rata-rata 62% dari potensi, sedang petani 53%. Perbaikan agronomi mampu menaikan produksi 35-40% , jika produksi bisa mencapai potensinya maka produksi CPO bisa naik 2 kali lipat, atau setara menambah 2 juta ha lahan baru tanpa membuka hutan satu hektarpun. Fokus pada intervensi yang memberikan dampak paling besar.
Untuk menjawab produktivitas hulu, GAPKI membentuk lima konsorsium penelitian yaitu sumber daya genetik (SDG), serangga penyerbuk, pupuk hayati, Ganoderma, mekanisasi-digitalisasi-otomatisasi (MDO). Hasil yang diharapkan produktivitas lebih tinggi untuk menutup yield gap, efisiensi lebih tinggi (lebih bak dari lower cost) dengan optimalisasi penggunaan input, better sustainability untuk daya saing jangka panjang. Sudah ada hasil konkrit berupa pelepasan serangga penyerbuk Tanzania, distribusi 21.281 benih SDG Tanzania ke 14 perusahaan, kemitraan riset MDO- Badan Kejuruan Teknik Pertanian -Persatuan Insinyur Indonesia.
Konsorsium SDG dibentuk untuk pengayaan plasma nutfah lintas benua. Indonesia punya SDG dari 4 negara asal, sementara Malaysia 18. Kesenjanga keragaman genetik membatasi ruang perakitan varetas unggul baru. Setelah Tanzania saat ini dalam proses Zambia.
Serangga penyerbuk , perluasan basis genetik setelah 40 tahun dengan memasukkan dari Tanzania E.subvittatus ukuran kecil, berambut, menjangkau bagian bunga dalam dan pangkal; E.kamerunicus (baru) , reintroduksi, warna hitam perilaku lebih agresi; E.plagiatus tubuh besar, sedikit rambut, bawa polen dalam jumlah besar. Proyeksi kenaikan produksi 10-15%.
Pupuk hayati untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan hara, sudah berjalan 46,4%. Targetnya subtitusi pupuk NPK 40-60% melalui konsorsium mikroba, diuji pada fase nursery dan tanaman menghasilkan. Lokasi uji di Prime Agro, First Resources, AAL di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi. Langsung menjawab temuan defisiensi kalium di 90% lahan petani.
Konsorsium Ganoderma pendekatan terintegrasi pengendalian penyakit pangkal busuk batang yang menyerang 12 provinsi dan memangkas produktivitas hasil 50-80%. Riset paralel diajukan lewat Ditjenbun, BPDP dan kerjasama antar perusahaan terdiri dari standarisasi benih, GWAS untuk marka resistensi Ganoderma; Gano-Base/Si-Gano sebagai data base pertama penyebaran BSR; bio kontrol mikroba endofit sebagai pengendali hayati BSR. Pendekatan menyeluruh : planting material, deteksi dini, kontrol biologi, best practises manajemen, kebijakan.
Mekanisasi-Digitalisasi-Otomatisasi (MDO) untuk mewujudkan perkebunan sawit yang lebih cerdas,efisien dan presisi. Januari-Oktober 2023 saja impor alat mekanik mencapai USD2,9 miliar, dominan dari Jepang/Korea/China, sering tidak fit dengan agroekologi Indonesia , (gambut dalam, terasan >150, kelembaban kanopi diatas 80%. Topik yang disepakati dengan PII : autonomous fertilizer spreader, autonomous transporter (EV), Climsmart-OP (prakiraan iklim), autonomous precision hole digger, smart plantation security system, smart DSS (muka air dan emisi metana).
Estimasi dampak ekonomi dari program riset GAPKI :
Pengayaan SDG, meningkatkan produktivitas nasional dari 4 ton CPO jadi 5 ton, potensi tambahan devisa negara USD15,4 miliar/tahun.
Serangga penyerbuk meningkatkan fruit set 65% jadi 85%, rendemen CPO naik 2-3%, potensi tambahan devisa USD4,9 miliar/tahun.
Pengendalian Ganoderma menekan kehilangan produksi CPO 10%, potensi tambahan devisa USD6 miliar/tahun.