Medan, mediaperkebunan.id – Sebanyak 90 pekebun kelapa sawit swadaya dan pendamping pekebun asal Kabupaten Aceh Singkil berhasil menyelesaikan Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan pada 20–25 Juli 2026 di Hotel AIHO Medan. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Pekebun Kelapa Sawit (SDM-PKS) Tahun 2026 yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan dilaksanakan oleh PT Koompasia Enviro Institute (KEI).
Pelatihan dilaksanakan dalam tiga angkatan, yaitu Angkatan IV, V, dan VI, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia perkebunan agar pekebun mampu mengelola usaha taninya secara lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan. Program ini menjadi salah satu bentuk investasi pemerintah dalam memperkuat daya saing perkebunan kelapa sawit rakyat melalui peningkatan kompetensi pekebun.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh yang diwakili oleh Kepala Bidang Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian dan Pekebunan , Mukhlis, S.P., M.A. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa peserta memiliki peran penting sebagai agen perubahan dalam pembangunan perkebunan di daerah masing-masing.
"Peserta yang telah memperoleh ilmu dan keterampilan selama pelatihan diharapkan tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi mampu membagikan pengalaman dan pengetahuan tersebut kepada petani lain sehingga manfaat program ini dapat dirasakan lebih luas," ujarnya.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Aceh Singkil, Nirwana Angkat, S.P., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Program SDM-PKS yang dinilai sangat membantu peningkatan kompetensi pekebun swadaya.
"Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil menyambut baik pelaksanaan Program SDM-PKS karena memberikan kesempatan bagi pekebun swadaya untuk meningkatkan kompetensi dan wawasan. Kami berharap para peserta menjadi agen perubahan yang mampu menerapkan praktik budidaya yang baik, meningkatkan produktivitas kebun, serta mendorong kemajuan sektor perkebunan kelapa sawit di Aceh Singkil," katanya.
Selama enam hari pelatihan, peserta mengikuti pembelajaran yang mengombinasikan teori, diskusi interaktif, studi kasus, dan praktik lapangan. Materi yang diberikan meliputi regulasi dan kebijakan perkebunan, penggunaan benih unggul bersertifikat, persiapan lahan, teknik penanaman, pemeliharaan tanaman, pemupukan berimbang, konservasi tanah dan air, hingga pengendalian hama, penyakit, dan gulma sesuai prinsip Good Agricultural Practices (GAP) dan budidaya kelapa sawit berkelanjutan.
Direktur PT Koompasia Enviro Institute (KEI), Henry Marpaung, mengatakan bahwa peningkatan kapasitas pekebun merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan industri kelapa sawit nasional.
"Melalui Program SDM-PKS, kami tidak hanya memberikan materi pelatihan, tetapi juga membangun pola pikir serta kemampuan teknis pekebun agar mampu mengelola kebunnya secara lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan. Harapannya, ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan sehingga mampu meningkatkan produktivitas, kualitas hasil panen, dan kesejahteraan pekebun," jelas Henry.
Sementara itu, Trainer PT Koompasia Enviro Institute, Arfian Syahputra, menjelaskan bahwa metode pelatihan dirancang berbasis pengalaman lapangan sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan kondisi nyata yang mereka hadapi sehari-hari di kebun.
"Kami mendorong peserta untuk aktif berdiskusi mengenai tantangan yang mereka alami di kebun masing-masing. Dengan pendekatan tersebut, materi menjadi lebih mudah dipahami dan solusi yang diperoleh dapat langsung diterapkan setelah mereka kembali ke daerah," ujar Arfian.
Sebagai bagian dari proses pembelajaran, peserta juga mengikuti kunjungan lapangan (field trip) ke Verdant Bioscience PT Timbang Deli Indonesia di Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Di lokasi tersebut peserta mengamati secara langsung penerapan praktik budidaya kelapa sawit pada areal Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), Tanaman Menghasilkan (TM), serta sistem pengelolaan pembenihan.
Melalui observasi lapangan dan diskusi bersama tim teknis perusahaan, peserta memperoleh pemahaman mengenai penerapan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari pemeliharaan tanaman, pengelolaan kebun, hingga sistem produksi benih unggul dan penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan di perkebunan kelapa sawit. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi referensi praktis yang dapat langsung diterapkan ketika peserta kembali mengelola kebun masing-masing.
Salah seorang peserta pelatihan, Alamin, mengaku memperoleh banyak wawasan baru yang akan menjadi bekal dalam meningkatkan produktivitas kebunnya.
"Selama ini kami banyak belajar dari pengalaman di lapangan. Setelah mengikuti pelatihan ini, kami jadi memahami teknik budidaya yang lebih baik, mulai dari pemilihan benih, pemupukan hingga pengendalian hama dan penyakit. Ilmu yang kami dapatkan akan kami terapkan di kebun dan kamibagikan kepada petani lain di kampung," ungkap Alamin.
Sebagai tindak lanjut pascapelatihan, seluruh peserta menyatakan komitmennya untuk mengimplementasikan teknik budidaya kelapa sawit yang baik dan benar sesuai materi yang telah diperoleh selama pelatihan. Komitmen tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam meningkatkan produktivitas kebun sekaligus memperkuat penerapan praktik budidaya kelapa sawit berkelanjutan di tingkat pekebun swadaya.
Untuk memastikan penerapan hasil pelatihan berjalan secara efektif, PT Koompasia Enviro Institute akan melaksanakan program monitoring dan pendampingan di lokasi peserta. Melalui kegiatan ini, tim pendamping akan memantau penerapan teknologi budidaya yang telah diajarkan, mengevaluasi tingkat adopsi inovasi oleh pekebun, serta mengukur dampak pelatihan terhadap peningkatan produktivitas dan kualitas pengelolaan kebun.
Program pendampingan tersebut menjadi bagian dari komitmen PT Koompasia Enviro Institute dalam memastikan bahwa transfer pengetahuan tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan. Melalui monitoring dan pendampingan secara berkala, berbagai kendala yang dihadapi pekebun dapat segera diidentifikasi dan diberikan solusi teknis yang tepat sehingga manfaat Program SDM-PKS dapat dirasakan secara nyata, terukur, dan berkelanjutan.
Melalui Program SDM-PKS Tahun 2026, BPDP, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan PT Koompasia Enviro Institute berharap lahir semakin banyak pekebun kelapa sawit yang memiliki kompetensi teknis, mampu menerapkan praktik budidaya yang baik sesuai prinsip keberlanjutan, serta menjadi motor penggerak dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekebun di daerahnya masing-masing. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh 90 peserta pelatihan, tetapi juga memberikan dampak yang lebih luas terhadap pengembangan perkebunan kelapa sawit rakyat yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan di Kabupaten Aceh Singkil.