Makassar, mediaperkebunan.id – Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit meskipun belum menjadi daerah sentra sawit. Pemerintah Kabupaten Wajo melihat komoditas ini sebagai salah satu peluang baru untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, seiring tingginya minat petani dalam membudidayakan kelapa sawit.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Drs. Andi Pameneri, M.Si., mengatakan potensi lahan perkebunan sawit di Wajo masih sangat luas. Dari sekitar 30 ribu hektar lahan yang berpotensi dikembangkan, hingga saat ini baru sekitar 8.000 hektare yang telah ditanami kelapa sawit.
"Potensi sawit di Kabupaten Wajo sangat menjanjikan dan saya lihat animo masyarakat tentang sawit ini sangat tinggi. Memang potensinya sekitar 30 ribu hektare, meskipun pada saat ini baru sekitar 8.000 hektare yang kita tanami," ujarnya, saat diwawancarai oleh Media Perkebunan pada hari Jumat (24/07/2026) di Makassar.
Menurut Andi, sebagian besar areal tersebut masih dikelola oleh masyarakat. Dari luas tanam yang ada, sekitar 2.800 hektare merupakan kebun sawit milik petani swadaya. Kondisi ini menunjukkan bahwa peluang pengembangan sawit rakyat di Kabupaten Wajo masih terbuka lebar.
Ia menilai sektor pertanian dan perkebunan merupakan salah satu pilar utama pembangunan daerah. Dengan luas wilayah Kabupaten Wajo mencapai sekitar 250.619 hektare, sektor pertanian telah memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian daerah, termasuk keberhasilan Wajo masuk delapan besar kabupaten penyumbang swasembada pangan nasional pada tahun lalu.
"Tentunya pertanian dan perkebunan merupakan pilar utama pembangunan kita di Kabupaten Wajo. Tahun lalu Kabupaten Wajo berkontribusi dalam swasembada pangan hingga masuk delapan besar secara nasional," katanya.
Meski demikian, Andi menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak hanya berfokus mempertahankan keberhasilan pada komoditas padi dan jagung, tetapi juga mulai memberi perhatian terhadap pengembangan komoditas perkebunan, termasuk kelapa sawit.
"Memang di Kabupaten Wajo meski bukan sentra sawit, tentunya peluang perkembangan sawit merupakan peluang bagi kami. Di samping program SDM, kami juga mendapatkan bantuan sarana dan prasarana, baik intensifikasi maupun ekstensifikasi untuk pengembangan dan penguatan komoditas di Kabupaten Wajo," jelasnya.
Menurut Andi, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam mendorong produktivitas perkebunan sawit rakyat. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Wajo mendukung pelaksanaan Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).
Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan secara maksimal karena materi yang diberikan tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga dilengkapi kegiatan praktik lapangan di perkebunan PTPN.
"Kami mengharapkan dengan kegiatan ini peningkatan SDM, khususnya petani sawit di Kabupaten Wajo, bisa lebih meningkat dan berkontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat," ujarnya.
Menurutnya, pelatihan tersebut akan membekali petani dengan pemahaman mengenai teknik budidaya yang baik, termasuk berbagai faktor internal maupun eksternal yang memengaruhi produktivitas tanaman.
"Kita mengharapkan bersama peserta memiliki kemampuan tentang budidaya dan faktor internal dan eksternal yang harus diperhatikan dalam budidaya sawit," katanya.
Selain peningkatan kapasitas petani, Andi juga menyoroti masih maraknya penggunaan benih ilegal atau tidak bersertifikat di kalangan petani. Menurutnya, kondisi tersebut sulit diawasi karena sebagian petani membeli bibit secara mandiri melalui platform daring maupun dari luar daerah.
"Sebetulnya masalah benih ilegal sulit untuk ditelusuri. Petani nyari sendiri di online. Yang bersertifikat sebenarnya bisa dikomunikasikan ke PTPN. Sulit ditelusuri benih yang teman-teman tanam itu bersertifikat atau tidak. Malah ada yang disampaikan beli benihnya sampai ke Kalimantan," ungkapnya.
Ia berharap melalui pelatihan ini, petani semakin memahami pentingnya menggunakan benih unggul bersertifikat serta mengetahui sumber benih yang resmi. "Melalui pelatihan ini masyarakat diharapkan bisa lebih tahu bahwa kalau memang mau mendapatkan benih unggul di mana saja," ujarnya.
Andi menjelaskan, selama ini sebagian besar petani sebenarnya telah memahami cara menanam dan memupuk sawit secara tradisional. Namun, untuk meningkatkan produktivitas kebun, petani perlu menguasai teknik budidaya yang sesuai dengan prinsip Good Agricultural Practices (GAP).
"Secara tradisional masyarakat tentu sudah tahu cara menanam dan memupuk, tapi melalui pelatihan ini diharapkan pengembangan SDM lebih sesuai dengan teknis yang ada bagaimana budidaya sawit yang baik," jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian besar kebun sawit swadaya di Kabupaten Wajo masih menghadapi persoalan kualitas benih. "Dari sekitar 2.800 hektare lahan sawit swadaya masyarakat yang ada di Kabupaten Wajo, masyarakat belum mengetahui budidaya yang baik. Bibit yang ditanam itu belum tentu bersertifikat," katanya.
Melalui penguatan kapasitas petani, penggunaan bibit unggul bersertifikat, serta dukungan program pemerintah berupa pelatihan dan bantuan sarana-prasarana, Pemerintah Kabupaten Wajo optimistis pengembangan kelapa sawit akan menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru. Meskipun belum menjadi sentra sawit, potensi lahan yang masih luas dan tingginya antusiasme masyarakat dinilai menjadi modal penting untuk mendorong kemajuan perkebunan sawit rakyat di masa mendatang.
Sebagain informasi, pelatihan AKPY di Sulawesi Selatan terdiri atas 3 kabupaten yaitu Luwu Timur, Luwu Utara, dan Wajo. Luwu Timur sebanyak 149 peserta (5 kelas Teknik Budidaya), Luwu Utara 92 peserta (2 kelas), dan Kabupaten Wajo 299 peserta (10 kelas). Total ada 540 peserta. Pelatihan untuk petani di Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Wajo berlangsung sejak tanggal 24 - 30 Juli 2026. Selain pemberian materi oleh narasumber, acara akan ditutup dengan kunjungan lapangan yang diikuti seluruh peserta di masing-masing kabupaten.