Yogyakarta, mediaperkebunan.id - Dalam Indonesia International Cocoa Conference (IICC) ke-9, Cargill menyoroti tentang peningkatan produktivitas, praktik pengadaan biji kakao yang lebih bertanggung jawab, serta inovasi produk kakao sebagai prioritas utama untuk perkuat sektor kakao di Indonesia, dan menghubungkannya dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang di kawasan Asia Pasifik dan wilayah lainnya. Cargill menegaskan bahwa kolaborasi yang berkelanjutan antara petani, pemerintah, dan pelaku industri akan menjadi hal penting untuk mendukung pengembangan jangka panjang sektor ini.
Preferensi konsumen di Asia menunjukkan potensi yang menjanjikan bagi pengembangan produk cokelat dan kakao. Temuan terbaru studi APAC Ingredient Tracker dari Cargill mengungkapkan konsumen di Asia memiliki tingkat familiaritas yang tinggi terhadap cokelat dan bahan baku kakao yang digunakan dalam berbagai kategori produk seperti produk kembang gula, hidangan penutup, produk roti dan biskuit, dan produk olahan susu. Di Indonesia, sebanyak 76% konsumen lebih memilih membeli produk pangan yang ditanam secara lokal, sementara 91% lebih memilih makanan dan minuman yang diproduksi secara bertanggung jawab dari sisi sosial maupun lingkungan.
Berbagai tren ini memperkuat pentingnya keterkaitan antara produksi kakao lokal, pengolahan, penerapan praktik pengadaan biji kakao yang lebih bertanggung jawab, serta inovasi produk yang disesuaikan dengan preferensi konsumen Indonesia maupun pasar Asia secara lebih luas.
Kashan Rashid, Vice President & Managing Director, Cargill Food Southeast Asia, Australia and New Zealand, mengatakan Indonesia memiliki sejarah yang kuat dalam industri kakao dan peluang yang lebih besar di masa depan. Bagi Cargill, Indonesia merupakan bagian penting dari strategi pertumbuhan bisnis kakao di Asia Pasifik.
“Kami terus mendukung perkembangan industri kakao Indonesia melalui kemitraan dengan petani, investasi dalam praktik pengadaan biji kakao yang lebih bertanggung jawab, pengolahan kakao, serta inovasi produk kakao yang berorientasi pada kebutuhan pelanggan," katanya.
Sebagai salah satu negara penghasil kakao utama yang berada dekat dengan pasar konsumen Asia yang terus berkembang, Indonesia memiliki posisi yang strategis untuk menghubungkan pasokan kakao lokal dengan praktik dan wawasan pengadaan kakao yang lebih bertanggung jawab, pengolahan, serta inovasi yang dibutuhkan pelanggan di tingkat regional maupun global.
Untuk mewujudkan potensi tersebut menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan, sektor kakao Indonesia perlu berfokus pada sejumlah prioritas utama, yaitu meningkatkan produktivitas di tingkat kebun, memperluas penerapan praktik pengadaan biji kakao dan sistem keterlacakan (traceability) yang lebih andal, meningkatkan penciptaan nilai tambah produk kakao melalui pengolahan dan inovasi, serta menjaga akses terhadap pasar ekspor utama.
Petani kakao Indonesia memegang peranan penting dalam membangun rantai pasok kakao yang lebih tangguh dan bertanggung jawab, dimulai dari kebun hingga ke pasar. Melalui program Cargill Cocoa Promise, Cargill bekerja sama dengan petani, pelanggan, dan mitra lokal untuk membantu meningkatkan kapasitas para petani sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat.
Pada tahun 2026, lebih dari 7.800 petani peserta yang tergabung dalam program sertifikasi Rainforest Alliance menerima pembayaran premi senilai sekitar Rp38,8 miliar. Selama lima tahun terakhir, Cargill juga telah mendukung pembentukan delapan pusat pembibitan masyarakat, menyediakan 96.000 bibit kakao, mendistribusikan 44.000 pohon penaung, serta mendukung 52 kelompok tabungan dan pinjaman masyarakat (Village Savings and Loan Association/VSLA).
Di seluruh wilayah rantai pasok yang tercakup dalam program Cargill Cocoa Promise, perusahaan juga menerapkan sistem keterlacakan biji kakao hingga tingkat petani (first-mile traceability), pemetaan lahan, dan penilaian risiko deforestasi, yang dilengkapi dengan pelatihan dan pendampingan bagi petani mengenai praktik pertanian yang baik.
"Masa depan industri kakao Indonesia akan ditentukan oleh kolaborasi di sepanjang rantai nilai untuk mendukung petani, memperkuat praktik pengadaan biji kakao yang lebih bertanggung jawab, serta menghubungkan kakao Indonesia dengan pasar regional dan global," tutup Kashan.