Makassar, mediaperkebunan.id – Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Melalui berbagai pelatihan teknis yang digelar di sejumlah daerah sentra maupun kawasan pengembangan sawit, AKPY ingin memastikan bahwa petani memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mampu menjawab tantangan industri sawit saat ini.
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, S.P., M.P., mengatakan kelapa sawit merupakan komoditas strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan memberikan manfaat yang sangat luas. Menurutnya, hampir seluruh bagian tanaman sawit dapat dimanfaatkan sehingga tidak ada yang benar-benar menjadi limbah.
"Program ini terus berjalan karena sawit memang menjadi salah satu komoditas unggulan yang memang sangat seksi karena dipandang dari segala sisi menarik untuk ditindaklanjuti. Jadi komoditas ini sebetulnya selama 24 jam bersama, jadi sawit itu luar biasa tidak ada yang menjadi limbah, bahkan limbah pun tidak bisa disebut limbah karena bisa dijadikan produk bernilai seperti pupuk," ujarnya.
Namun di balik besarnya potensi tersebut, Idum mengingatkan bahwa produktivitas kebun rakyat masih menghadapi berbagai persoalan mendasar, salah satunya penggunaan bibit yang tidak bersertifikat. Ia mengimbau petani agar tidak tergiur membeli bibit murah melalui jalur yang tidak jelas karena dampaknya akan dirasakan selama umur produktif tanaman.
"Mulai dari pembelian bibit jangan sampai online yang murah tapi ternyata bibitnya palsu, kita akan sedih selama 25 tahun. Betapa pentingnya penggunaan bibit unggul yang bersertifikasi," tegasnya.
Selain pentingnya penggunaan benih unggul, materi pelatihan juga membekali peserta dengan teknik budidaya yang baik (Good Agricultural Practices/GAP). Peserta akan mempelajari pengelolaan tanah agar tetap sehat dan subur, pemanfaatan limbah sawit menjadi pupuk organik, pentingnya keberadaan serangga penyerbuk (pollinator), hingga penggunaan pestisida yang tepat agar tidak mengganggu keseimbangan ekosistem kebun.
Menurut Idum, peningkatan produktivitas sawit tidak hanya bergantung pada luas lahan maupun teknologi, tetapi juga kualitas petani sebagai pelaku utama di lapangan.
"SDM yang kuat menjadi salah satu tolak ukur dalam produktivitas kebun, maka bukan hanya soal luas lahan tetapi para petani yang mau berkembang untuk belajar. Karena di era sekarang teknologi digital mau tidak mau hadir di tengah-tengah kita. Petani sekarang tidak boleh hanya mengandalkan pengalaman," katanya.
Ia optimistis petani sawit di Kabupaten Wajo memiliki potensi besar untuk berkontribusi terhadap perkembangan industri sawit nasional. Karena itu, pelatihan diharapkan mampu memperkuat kapasitas petani sekaligus mendorong penguatan kelembagaan dan dukungan sarana prasarana.
"Saya yakin kontribusi para petani di Kabupaten Wajo ini pasti sangat besar terhadap dampak sawit di Indonesia yang sudah 16 juta hektare. Harapannya dengan pelatihan ini petani semakin kuat dan sarpras akan didukung dengan bagus, kelembagaan semakin kuat sehingga mewujudkan petani yang profesional, mandiri, dan berkelanjutan," ujarnya.
Jangkau Tujuh Provinsi
Sebagai perguruan tinggi vokasi yang fokus pada pengembangan SDM perkebunan, AKPY mendapatkan amanah dari BPDP untuk melaksanakan Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit tahun 2026 di tujuh provinsi yang mencakup 17 kabupaten.
Program tersebut meliputi Pelatihan Teknik Budidaya Kelapa Sawit, Teknik Panen dan Pascapanen, Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), Pengelolaan Sarana dan Prasarana Perkebunan Kelapa Sawit, hingga Teknik Pemetaan Kebun.
Khusus di Sulawesi Selatan, pelatihan dilaksanakan di Kabupaten Luwu Timur, Luwu Utara, dan Wajo dengan total 540 peserta. Secara nasional, AKPY dipercaya melatih sebanyak 2.619 peserta dari berbagai sentra perkebunan sawit.
"Bagi kami, angka tersebut bukan sekadar jumlah peserta. Di balik angka tersebut terdapat ribuan keluarga petani, ribuan hektare kebun yang dikelola, dan harapan besar agar sawit rakyat Indonesia semakin produktif, semakin berkelanjutan, dan semakin sejahtera," ungkap Idum.
Tantangan Sawit Semakin Kompleks
Idum menjelaskan bahwa industri sawit Indonesia kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Produktivitas kebun rakyat masih perlu ditingkatkan, banyak tanaman telah memasuki usia tua sehingga membutuhkan peremajaan, sementara pengelolaan pemupukan, pemeliharaan tanaman, hingga kualitas panen dan pascapanen juga masih memerlukan perbaikan.
Di sisi lain, dunia internasional semakin menuntut praktik perkebunan yang berkelanjutan, ramah lingkungan, memiliki ketertelusuran (traceability), serta memenuhi standar keberlanjutan. Tantangan perubahan iklim dan perkembangan teknologi juga menuntut petani terus belajar dan beradaptasi.
"Karena itu, keberhasilan sawit Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk yang digunakan. Tetapi juga ditentukan oleh kualitas manusianya. Ditentukan oleh kualitas petaninya," tegasnya.
Melalui program pengembangan SDM yang didukung BPDP, AKPY berharap petani mampu meningkatkan kapasitas, keterampilan, profesionalisme, dan daya saing sehingga dapat mengelola kebun secara lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.
"Investasi terbesar yang dapat kita lakukan bukan hanya membeli pupuk atau alat panen. Tetapi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan diri kita sendiri. Karena ilmu yang kita peroleh hari ini akan terus memberikan manfaat bagi kebun dan keluarga kita di masa yang akan datang," tutup Idum.