Medan, mediaperkebunan.id – Indonesia memiliki potensi besar untuk kembali menjadi pemain utama industri kelapa dunia. Namun, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila revitalisasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penyediaan benih unggul, peningkatan produktivitas, penguatan petani, hingga percepatan hilirisasi produk bernilai tambah.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Jelfina C. Alouw, Director General International Coconut Community (ICC), saat membawakan materi bertajuk "Revitalization of Indonesia's Coconut Industry: Challenges & Opportunities in the Global Context" pada 1st International Coconut Conference & Exposition (IICCE) 2026 di Medan.
Menurut Jelfina, pembahasan mengenai revitalisasi industri kelapa perlu dilihat dari tiga perspektif utama, yakni kondisi industri kelapa global, tantangan struktural yang dihadapi Indonesia, serta strategi pengembangan ke depan.
Secara global, Indonesia masih menjadi salah satu produsen kelapa terbesar di dunia. Dari sisi luas areal, Indonesia menempati posisi kedua setelah Filipina, sementara dari sisi produksi juga berada di peringkat kedua setelah Filipina dan di atas India.
Namun demikian, Jelfina menyoroti adanya paradoks yang tengah terjadi di industri kelapa dunia. Di satu sisi, permintaan ekspor berbagai produk kelapa terus meningkat dari tahun ke tahun, tetapi di sisi lain pertumbuhan produksi cenderung stagnan sehingga berpotensi mengganggu pasokan global.
"Dunia saat ini menghadapi paradoks antara produksi dan permintaan. Permintaan produk kelapa dan produk turunannya terus meningkat, sementara pertumbuhan produksi cenderung stagnan. Kondisi ini menjadi peluang besar bagi negara-negara produsen, termasuk Indonesia, untuk meningkatkan produksi sekaligus memperluas hilirisasi produk bernilai tambah," ujar Jelfina.
Menurut estimasi ICC, nilai ekspor produk kelapa dunia pada 2025 mencapai sekitar US$27,09 miliar, sementara total kontribusi industri kelapa secara global telah mencapai sekitar US$41,5 miliar. Kontributor terbesar berasal dari produk air kelapa, diikuti turunan minyak kelapa, produk berbahan tempurung, serta berbagai produk turunan lainnya.
Jelfina mengatakan meningkatnya permintaan tersebut didorong oleh perubahan preferensi konsumen dunia terhadap produk yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Dalam presentasinya dijelaskan bahwa permintaan kelapa didorong oleh tren clean label, kandungan Medium Chain Triglycerides (MCTs), indeks glikemik yang rendah, serta meningkatnya konsumsi air kelapa sebagai minuman alami. Selain itu, santan dan krim kelapa menjadi alternatif produk susu berbasis nabati yang pertumbuhannya sangat cepat. Dari sisi lingkungan, kelapa juga dipandang sebagai tanaman zero waste karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi.
"Nilai industri kelapa dunia tidak lagi hanya berasal dari perdagangan kelapa mentah. Pertumbuhan terbesar justru berasal dari produk hilir seperti air kelapa, turunan minyak kelapa, produk berbahan tempurung, serta berbagai produk inovatif lainnya yang memberikan nilai tambah lebih tinggi," jelas Jelfina.
Meski memiliki sumber daya yang besar, Jelfina mengingatkan bahwa industri kelapa Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar.
Salah satunya adalah kecenderungan penurunan produksi kelapa nasional selama beberapa tahun terakhir. Data ICC menunjukkan pertumbuhan produksi Indonesia masih mengalami tren negatif dengan CAGR sekitar -0,54 persen.
Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi kekurangan kebun sumber benih bersertifikat.
Dalam presentasinya disebutkan bahwa kebutuhan peremajaan tanaman tidak dapat menunggu lebih lama, sementara kapasitas penyediaan benih unggul masih sangat terbatas. Kondisi tersebut menjadi hambatan utama dalam pelaksanaan program replanting secara masif sehingga berpotensi menghambat peningkatan produktivitas nasional.
Tantangan lainnya berasal dari struktur usaha kelapa Indonesia yang didominasi oleh petani kecil.
Jelfina menjelaskan bahwa lebih dari 98 persen produksi kelapa berasal dari perkebunan rakyat yang tersebar dalam skala kecil sehingga menyulitkan sistem pengumpulan hasil, logistik, maupun penguatan rantai pasok. Selain itu, petani juga masih menghadapi fluktuasi harga di tingkat kebun serta keterbatasan akses terhadap informasi pasar yang transparan. Menurutnya, revitalisasi industri tidak akan berhasil apabila tidak dimulai dari peningkatan kesejahteraan petani.
Sebagai solusi, ICC menawarkan kerangka pembangunan industri kelapa yang bertumpu pada tiga pilar utama.
Pilar pertama adalah pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan ekspor produk hilir bernilai tambah dibandingkan ekspor kelapa bulat. Pilar kedua adalah pemberdayaan sosial dengan memperkuat ketahanan ekonomi lebih dari enam juta keluarga petani kelapa. Pilar ketiga adalah keberlanjutan lingkungan melalui pengembangan ekonomi sirkular berbasis pemanfaatan seluruh bagian kelapa menjadi energi hijau maupun produk bernilai tambah.
Untuk mewujudkan hal tersebut, ICC merekomendasikan sejumlah langkah strategis, antara lain membangun sistem informasi harga secara real time, memperluas kebun benih bersertifikat, mempercepat peremajaan tanaman tua, mengembangkan varietas unggul berbasis bioteknologi, memperkuat kelembagaan petani melalui Farmer Producer Organization (FPO), hingga mendorong hilirisasi industri dan modernisasi pengelolaan kebun menggunakan teknologi digital serta pemantauan berbasis drone.
Jelfina menegaskan bahwa revitalisasi industri kelapa Indonesia harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dengan kekuatan sumber daya alam, besarnya pasar global, serta dukungan inovasi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk kembali menjadi pemimpin industri kelapa dunia sekaligus meningkatkan kesejahteraan jutaan petani kelapa.
"Ke depan, pengembangan industri kelapa harus didukung tata kelola berbasis data, penguatan riset dan pengembangan, pemanfaatan bioteknologi, perluasan kebun benih unggul, penguatan organisasi petani, digitalisasi pertanian, serta percepatan hilirisasi agar Indonesia mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama industri kelapa dunia," pungkasnya.