Jakarta, mediaperkebunan.id - PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang paruh pertama tahun ini. Subholding BUMN perkebunan di bawah PTPN III (Persero) tersebut meraup laba bersih konsolidasian (unaudited) sebesar Rp3,23 triliun pada Semester I 2026, melonjak hingga 54 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Melonjaknya bottom line perusahaan berjalan seiring dengan pertumbuhan pendapatan yang menembus Rp23,41 triliun, atau naik 11 persen YoY. Penjualan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi Rp19,36 triliun, didorong oleh kuatnya permintaan pasar domestik serta perluasan pasar ekspor.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menjelaskan bahwa kenaikan harga jual rata-rata CPO sebesar 6 persen (menjadi Rp15.034/kg) dimaksimalkan melalui efisiensi biaya serta peningkatan volume produksi.
"Pengendalian biaya dan peningkatan produksi menjadi tulang punggung perusahaan. Fundamental inilah yang membuat kenaikan harga CPO sebesar 6 persen di pertengahan tahun 2026 mampu membuahkan lonjakan laba hingga 54 persen," kata Jatmiko.
Efisiensi Operasional dan Penekanan Cash Cost
Di sektor operasional perkebunan, produktivitas CPO perusahaan mencapai 2,14 ton per hektar pada semester pertama, dengan tingkat rendemen CPO kebun sendiri berada di angka 23,48 persen.
Lonjakan keuntungan ini juga dipicu oleh kemampuan manajemen menekan beban operasional (Cash Cost) komoditas sawit hingga ke level Rp3.707/kg. Pengendalian beban pokok tersebut menjaga margin keuntungan tetap sehat di tengah lonjakan inflasi dan dinamika pasar global.
Secara fundamental, posisi keuangan perseroan menunjukkan tren penguatan:
- EBITDA: Mencapai Rp6,05 triliun (tumbuh 29% YoY).
- Total Aset: Naik 6% YoY menjadi Rp81,57 triliun.
Genjot Ekspor CPO dan Strategi Bisnis Kopi
Selain memperkuat pasar domestik, PTPN IV PalmCo mengakselerasi penjualan ekspor ke negara tujuan utama seperti Tiongkok dan India. Pada periode 25 Mei hingga 8 Juli 2026, perseroan mencatatkan pengiriman ekspor CPO sebanyak 129.500 ton.
Sementara itu, pada komoditas non-sawit, manajemen mengambil langkah strategis dengan menunda jadwal panen kopi akibat pergeseran iklim. Penundaan ini dilakukan demi mempertahankan standar kualitas specialty grade (petik merah). Langkah mempertahankan mutu produk ini terbukti tetap memberikan kontribusi positif, di mana lini bisnis kopi menyumbang laba bersih sebesar Rp2,49 miliar.
Fokus Semester II: Peremajaan Sawit Rakyat dan Energi Terbarukan
Memasuki paruh kedua tahun 2026, PTPN IV PalmCo bersiap mempercepat program pemupukan serta memperkuat pasokan bahan baku untuk pengembangan renewable biogasoline sebagai bentuk dukungan terhadap ketahanan energi nasional.
Di samping itu, perseroan terus menggenjot program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) guna meningkatkan produktivitas kelapa sawit secara nasional secara berkelanjutan.