Menuju Indonesia 2045, Prof. Bungaran Saragih Dorong Transformasi Pertanian Tropis

Menuju Indonesia 2045, Prof. Bungaran Saragih Dorong Transformasi Pertanian Tropis

Tangerang, mediaperkebunan.id - Masa depan pertanian Indonesia tidak cukup hanya dibangun dengan meningkatkan produksi komoditas. Kekayaan hayati yang dimiliki Indonesia perlu ditransformasikan menjadi ilmu pengetahuan, teknologi, produk bernilai tinggi, lapangan pekerjaan, serta sumber kemakmuran bagi masyarakat. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., dalam Seminar Nasional “Masa Depan Pertanian Tropis: Huluisasi dan Hilirisasi untuk Bioekonomi Bernilai Tinggi” dalam rangkaian ILDEX 2026, Rabu (16/9/2026).

Dalam keynote speech-nya, Bungaran menyoroti posisi Indonesia sebagai negara tropis dan negara kepulauan. Menurutnya, kondisi tersebut bukan sekadar karakter geografis, tetapi menjadi dasar bagi sumber daya, pola produksi, kebutuhan teknologi, sistem logistik, hingga pilihan industrialisasi Indonesia.

Indonesia memiliki kekayaan hayati yang mencakup tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan, tanaman obat, mikroorganisme, serta sumber daya genetik. Kekayaan tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk, mulai dari pangan dan pakan hingga energi, obat, kosmetik, serat, biomaterial, pupuk, serta bahan kimia berbasis hayati. Namun, Bungaran mengingatkan bahwa besarnya potensi tidak secara otomatis menjadikannya kekuatan ekonomi.

“Potensi tidak otomatis menjadi kekuatan,” tegas Bungaran. Menurutnya, kekayaan alam baru dapat menjadi kekayaan bangsa apabila didukung manusia yang memiliki pengetahuan, teknologi, kelembagaan, pembiayaan, infrastruktur, dan tata kelola yang baik.

Huluisasi sebagai Fondasi Hilirisasi

Bungaran menilai cara pandang terhadap pertanian perlu diperluas. Pertanian tidak hanya berkaitan dengan sawah, kebun, kandang, tambak, atau hutan, tetapi merupakan pintu masuk menuju sistem ekonomi yang mencakup industri benih dan bibit, pupuk, alat dan mesin, produksi biomassa, pengolahan, energi, logistik, perdagangan, pembiayaan, riset, teknologi digital, standardisasi, hingga berbagai jasa profesional.

Karena itu, ia menekankan pentingnya memperkuat sektor hulu bersamaan dengan hilirisasi. Huluisasi mencakup penguasaan sumber daya genetik, pemuliaan, industri benih dan bibit, kesehatan tanah, pakan, pupuk hayati, alat dan mesin, data, teknologi budidaya, serta pengorganisasian produsen.

“Hilirisasi yang kuat membutuhkan huluisasi yang kuat,” ujar Bungaran. Ia menjelaskan, kualitas industri hilir pada dasarnya sangat ditentukan oleh kondisi di sektor hulu. Pabrik modern membutuhkan bahan baku yang seragam, mencukupi, berkelanjutan, dan dapat dilacak. Di sisi lain, benih unggul juga belum tentu meningkatkan kesejahteraan petani apabila tidak diikuti kepastian pasar, pengolahan, dan harga yang wajar.

Penguasaan kekayaan genetik Indonesia juga dinilai penting. Bungaran mendorong agar sumber daya genetik dipelajari, dikembangkan, dilindungi haknya, serta dimanfaatkan untuk menghasilkan varietas, teknologi, proses, dan produk baru.

Hilirisasi Lebih dari Sekadar Pabrik

Dalam paparannya, Bungaran juga menggarisbawahi bahwa hilirisasi tidak seharusnya dimaknai sebatas pembangunan fasilitas pengolahan. Pabrik hanya merupakan salah satu bagian dari ekosistem yang lebih luas.

Hilirisasi, menurutnya, merupakan proses peningkatan kemampuan dari komoditas menjadi produk, produk menjadi teknologi, teknologi menjadi kekayaan intelektual, hingga akhirnya melahirkan industri-industri baru.

Kelapa sawit menjadi salah satu contoh yang disampaikan Bungaran. Indonesia telah mengembangkan berbagai produk pangan, oleokimia, kosmetik, dan bioenergi. Namun, pengembangan tersebut masih perlu diikuti peningkatan produktivitas, khususnya di kebun rakyat, percepatan peremajaan, perbaikan legalitas dan ketertelusuran, penanganan penyakit tanaman, efisiensi pabrik, serta pemanfaatan limbah menjadi energi, pupuk, dan biomaterial.

Konsep serupa dapat diterapkan pada berbagai komoditas. Bungaran mencontohkan tebu yang tidak hanya dapat menghasilkan gula, tetapi juga bioetanol, listrik dari bagasse, pupuk organik, pakan, dan produk berbasis biomassa melalui ekosistem biorefinery yang terintegrasi.

Menurutnya, pendekatan tersebut membuat sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku untuk mata rantai berikutnya. Prinsip yang sama dapat diterapkan pada kelapa, kakao, kopi, sagu, rumput laut, hasil hutan, peternakan, perikanan, dan hortikultura.

Membangun Bioekonomi yang Sirkular

Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga membutuhkan sistem logistik agro-maritim yang kuat. Sentra produksi perlu terhubung dengan pelabuhan, gudang, rantai dingin, pusat pengolahan, energi, pasar, dan kawasan riset. Keterhubungan tersebut dinilai penting agar surplus produksi di suatu wilayah dapat menjadi pasokan bagi wilayah lain.

Bungaran juga mendorong pembangunan bioekonomi yang bersifat sirkular. Biomassa perlu dimanfaatkan secara optimal, dengan hasil utama diarahkan menjadi pangan atau bahan industri, sedangkan hasil samping dapat dimanfaatkan sebagai pakan, energi, pupuk, bahan kimia, maupun material. Air dan nutrien juga perlu didaur ulang, sementara emisi dan kehilangan ditekan.

Dalam konteks tersebut, Bungaran menekankan pentingnya keseimbangan antara kemajuan dan keberlanjutan. Ia mengingat kembali gagasan “Balance and Progress” yang diperolehnya dari pengalaman mengunjungi Osaka Expo pada 1970.

“Kemajuan tanpa keseimbangan dapat menghasilkan ketimpangan dan kerusakan,” katanya. Sebaliknya, keseimbangan yang menolak perubahan juga dapat menghasilkan stagnasi. Karena itu, menurut Bungaran, keseimbangan dan kemajuan perlu berjalan bersama dalam pembangunan bioekonomi.

Lima Agenda Menuju Indonesia 2045

Untuk mendorong transformasi tersebut, Bungaran menawarkan lima agenda bersama menuju Indonesia 2045. Pertama, membangun peta jalan huluisasi-hilirisasi berdasarkan komoditas dan wilayah. Peta jalan tersebut perlu menghubungkan sumber daya genetik dan produktivitas dengan pengolahan, logistik, teknologi, pasar, serta pengelolaan biomassa secara sirkular.

Kedua, membangun konsorsium inovasi yang berorientasi pada penyelesaian masalah. Peneliti, perguruan tinggi, industri, petani, pemerintah, dan lembaga pembiayaan perlu bekerja pada sasaran yang sama. Riset, menurutnya, tidak boleh berhenti pada publikasi, tetapi perlu dikembangkan menjadi prototipe, standardisasi, skala industri, dan penggunaan nyata oleh masyarakat.

Ketiga, memperkuat petani, pekebun, peternak, nelayan, serta pelaku usaha kecil sebagai bagian utama dari rantai nilai. Mereka membutuhkan akses terhadap lahan, benih bermutu, teknologi, organisasi ekonomi, pembiayaan, infrastruktur, dan pasar.

Keempat, membangun koridor agroindustri dan logistik agro-maritim yang menghubungkan desa, kota, pulau, pusat pengolahan, serta pasar domestik dan global. Kelima, membangun tata kelola nasional yang mampu belajar melalui proses pengukuran, evaluasi, perbaikan, dan pengembangan program berdasarkan hasil nyata.

Bungaran menilai transformasi tidak harus menunggu seluruh persoalan terselesaikan. Perubahan dapat dimulai dari berbagai titik, seperti laboratorium yang menghasilkan varietas baru, perusahaan yang membangun kemitraan, koperasi yang memperkuat petani, pemerintah daerah yang menghubungkan sentra produksi dengan industri, lembaga keuangan yang menyesuaikan pembiayaan dengan siklus biologis, hingga generasi muda yang memadukan teknologi digital dengan kekayaan hayati daerah.

Menutup paparannya, Bungaran menekankan bahwa Indonesia 2045 bukan sekadar momentum peringatan satu abad kemerdekaan, tetapi menjadi batas moral bagi generasi saat ini. Ia mengajak berbagai pihak menyatukan huluisasi dan hilirisasi, darat dan laut, desa dan kota, produksi dan ekologi, pertumbuhan dan pemerataan, serta kepentingan hari ini dengan tanggung jawab terhadap generasi mendatang.

“Dengan itulah kita mengubah anugerah tropis kepulauan menjadi kekuatan nasional,” pungkas Bungaran.