Tangerang, mediaperkebunan.id - Pengembangan industri kelapa sawit tidak berhenti pada produksi minyak sawit mentah (CPO), tetapi dapat diperluas melalui integrasi perkebunan, pengolahan, hingga produk bernilai tambah. Konsep tersebut disampaikan Jap Hartono, Chief Executive Officer (CEO) PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) dalam Seminar Nasional “Masa Depan Pertanian Tropis: Huluisasi dan Hilirisasi untuk Bioekonomi Bernilai Tinggi” yang digelar dalam rangkaian ILDEX 2026, Rabu (16/09/2026).
Dalam pemaparannya, Jap Hartono menjelaskan bahwa SSMS mengelola areal perkebunan seluas 136.447 hektare, termasuk 94.963 hektare area tertanam, yang tersebar dalam 27 perkebunan di Kalimantan Tengah. Areal tersebut terbagi ke dalam empat region, dengan luas satu region dapat mencapai sekitar 35.000 hektare dalam satu hamparan.
Menurut Hartono, pengelolaan perkebunan tidak hanya berorientasi pada produktivitas tanaman, tetapi juga membangun ekosistem yang saling terintegrasi. Salah satunya melalui integrasi peternakan sapi di dalam perkebunan kelapa sawit.
“Kita punya adalah salah satu kebun di Indonesia yang di tengah-tengah ada sapi di tengah kebun sawit. Ini ekosistem. Di kebun sawit kita ada lebih dari 7.000 sapi,” ujar Hartono.
Keberadaan sapi tersebut menjadi bagian dari konsep bioekonomi sirkular yang dikembangkan perusahaan. Sapi berperan dalam memanfaatkan rumput di area perkebunan, sementara kotorannya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Dengan demikian, perkebunan tidak hanya mengandalkan pupuk komposit, tetapi juga memanfaatkan biofertilizer yang berasal dari ekosistem peternakan tersebut.
“Sapinya dijadikan karyawan bertugas makan rumput. Kotorannya itu menjadi organic fertilizer. Jadi kita punya kebun sawit itu hanya makan compost fertilizer tetapi juga biofertilizer. Sapinya ini juga anak buah kita jadi kita bisa mengatur sinerginya,” jelasnya.
SSMS menggambarkan pengembangan bisnis kelapa sawit melalui rantai yang terintegrasi mulai dari upstream plantation, midstream milling and refining, refining products, hingga downstream value-added products. Integrasi tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan produk yang lebih beragam, bernilai tambah, dan berkelanjutan untuk pasar domestik maupun global.
Pada sisi hulu, SSMS mengembangkan perkebunan melalui kepemilikan kebun dan kemitraan, peningkatan produktivitas, praktik berkelanjutan, dukungan kepada pekebun, serta pengelolaan yang bertanggung jawab. Sementara di sisi midstream, perusahaan mengoperasikan pabrik yang mendukung pengolahan CPO dan palm kernel, dengan setiap region memiliki mill untuk menjaga efisiensi serta kualitas pasokan.
Produk dari pengolahan tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan refined, bleached, deodorized palm oil (RBDPO), palm fatty acid distillate (PFAD), olein, dan stearin. Selanjutnya, produk bernilai tambah dapat diarahkan ke berbagai sektor, antara lain produk pangan, oleokimia, energi terbarukan, serta pakan ternak.
Hartono menekankan bahwa pengembangan hilirisasi perlu berjalan seiring dengan penguatan sektor hulu. “Hilirisasi is no use kalau hulunya nggak perform,” tegasnya. Karena itu, penguatan riset dan pengembangan (R&D) menjadi salah satu bagian penting dalam strategi perusahaan.
SSMS juga mengembangkan Sulung Research Station sebagai bagian dari upaya riset perusahaan. Jap menyampaikan bahwa Sulung Research yang sebelumnya berada dalam bentuk departemen kini telah berkembang dan menghasilkan sejumlah inovasi, termasuk pengembangan biofertilizer serta Eladibious, yang berkaitan dengan proses penyerbukan dari bunga jantan ke bunga betina.
Menurut Hartono, penguatan riset tersebut diperlukan untuk mendukung produktivitas perkebunan. Ia menyebut bahwa jika dihitung berdasarkan produksi CPO per hektare, kebun yang dikelola SSMS dapat mencapai 7,3 ton CPO per hektare.
Di sisi lain, Hartono juga menyoroti persoalan partenokarpi pada kelapa sawit, yakni kondisi ketika perkembangan buah tidak berlangsung secara sempurna. Ia berharap pengembangan riset dapat menghasilkan material tanaman yang mampu menjawab berbagai tantangan di perkebunan, termasuk terkait Ganoderma dan optimalisasi pembentukan bunga.
“Yang kita harapkan dari BRIN bisa ciptakan bibit anti Ganoderma pasti laku sama pohon yang bisa keluarkan bunga jantan,” ungkapnya.
Konsep bioekonomi sirkular yang dipaparkan SSMS tidak hanya mencakup integrasi tanaman dan ternak, tetapi juga pemanfaatan berbagai bagian dan hasil samping dari kelapa sawit. Dalam materi presentasi, perusahaan menempatkan empty fruit bunch (EFB) sebagai bahan untuk pupuk organik dan perbaikan tanah, palm oil mill effluent (POME) untuk biogas dan energi terbarukan, serta serat dan cangkang untuk energi biomassa. Sementara batang dan pelepah dapat dimanfaatkan sebagai material berbasis bio dan mulsa.
Peluang pengembangan lebih lanjut melalui carbon credits, biomaterials, green chemicals, dan inovasi lanjutan. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana hasil samping dari proses produksi dapat kembali dimanfaatkan sehingga limbah dapat ditekan dan nilai ekonomi dari setiap bagian tanaman dapat dioptimalkan.
Hartono juga menyampaikan bahwa SSMS menerapkan pengelolaan yang terintegrasi dengan prinsip keberlanjutan dan ketertelusuran. Dalam presentasi perusahaan disebutkan bahwa SSMS memiliki 100% sertifikasi RSPO, sementara pasokan TBS dari petani dan kelompok tani disebut dapat ditelusuri. Perusahaan juga menempatkan pengelolaan menuju zero waste sebagai bagian dari pendekatan bioekonomi sirkular.
Pada akhirnya, pembangunan bioekonomi sirkular berbasis kelapa sawit membutuhkan keterhubungan antara produktivitas perkebunan, pengolahan, riset, dan hilirisasi. Bagi SSMS, penguatan sektor hulu menjadi fondasi agar pengembangan produk hilir dapat berjalan secara berkelanjutan, sekaligus membuka ruang pemanfaatan yang lebih luas terhadap hasil utama maupun hasil samping kelapa sawit.