Jakarta, mediaperkebunan.id — 6th Indonesian Palm Oil Smallholder Conference (IPOSC) & Conference 2026 merupakan forum edukasi dan informasi yang diselenggarakan setiap tahun lahir dari inisiatif petani sawit Indonesia dalam mencari pengetahuan mengenai bagaimana melakukan budidaya kelapa sawit yang benar dan baik. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara petani, pembuat kebijakan, pelaku usaha, akademisi, serta pemangku kepentingan untuk membahas industri kelapa sawit secara menyeluruh berdasarkan data, regulasi, teknologi, dan praktik budidaya di lapangan.
Ketua Panitia 6th IPOSC 2026, Hendra J. Purba, menjelaskan bahwa keberadaan pameran dalam IPOSC juga memiliki tujuan edukatif, khususnya memperkenalkan teknologi dan solusi yang dapat mendukung peningkatan produktivitas perkebunan tanpa harus melakukan ekspansi lahan. Teknologi yang diperkenalkan antara lain berkaitan dengan penggunaan bibit unggul, sarana produksi, mekanisasi, serta berbagai teknologi pendukung produktivitas perkebunan.
“IPOSC ini pada dasarnya adalah ruang edukasi yang murni berangkat dari kebutuhan petani untuk mendapatkan informasi mengenai bagaimana budidaya sawit yang benar dan baik. Pameran yang hadir di dalamnya juga diarahkan untuk memperkenalkan teknologi yang dapat membantu petani meningkatkan produktivitas, bukan untuk mendorong pembukaan lahan baru,” ujar Hendra J. Purba.
Menurut Hendra, materi dan narasumber yang dihadirkan dalam IPOSC juga dipilih untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai tantangan industri sawit. Para ahli di bidang agronomi, Ganoderma, produktivitas, serta adaptasi terhadap perubahan iklim dilibatkan agar petani memperoleh informasi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas di lahan yang sudah ada.
“Kami menghadirkan narasumber yang memiliki kompetensi di bidang kelapa sawit, mulai dari agronomi, Ganoderma, hingga bagaimana menghadapi perubahan iklim. Fokusnya adalah bagaimana petani dapat mengelola kebun yang sudah ada dengan lebih baik, meningkatkan produktivitas, dan menjaga keberlanjutan usaha,” jelasnya.
Edukasi mengenai penggunaan bibit unggul dalam budidaya kelapa sawit di perkebunan yang sudah ada sangat dibutuhkan, khususnya bagi petani Kalimantan Barat karena penggunaan bibit palsu dapat menyebabkan kerugian yang besar.
Hendra menegaskan bahwa IPOSC tidak dapat dimaknai sebagai dukungan terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar. Penyelenggara menghormati ketentuan pemerintah mengenai larangan pembukaan lahan dengan cara membakar dan memahami bahwa pengelolaan perkebunan harus dilakukan dengan memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan.
“Ketentuan mengenai larangan pembukaan lahan dengan cara membakar sudah jelas terdapat dalam peraturan daerah, Permentan, yang kemudian dikuatkan Instruksi Presiden Nomor 11 Tahun 2026. Edukasi kepada petani mengenai ini justru penting agar praktik perkebunan dilakukan secara benar, bertanggung jawab, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata Hendra.
Penyelenggara juga menyampaikan bahwa keberadaan IPOSC tidak terlepas dari upaya meningkatkan pemahaman petani mengenai tantangan lingkungan yang dihadapi industri sawit. Perubahan iklim, produktivitas, efisiensi, pengelolaan kebun, dan keberlanjutan merupakan bagian dari persoalan yang perlu dibahas secara terbuka berdasarkan ilmu pengetahuan dan kondisi nyata di lapangan.
"IPOSC tahun ini pun tidak hanya membahas sawit, tetapi juga membahas hortikultura dan menghadirkan teknologi komoditas perkebunan lainnya melalui Medbun Expo," jelas Hendra.
Dalam konteks karhutla yang sedang terjadi di Kalimantan Barat, penyelenggara menyampaikan empati dan keprihatinan yang mendalam kepada masyarakat yang terdampak, termasuk masyarakat yang harus menghadapi dampak asap, gangguan aktivitas, maupun kerugian akibat kejadian tersebut.
“Kami sangat berempati dan prihatin atas terjadinya karhutla di Kalimantan Barat. Kami memahami bahwa masyarakat saat ini sedang menghadapi situasi yang tidak mudah, terutama mereka yang terdampak langsung oleh kebakaran dan kualitas udara. Kami tidak menutup mata terhadap kondisi tersebut,” ungkap Hendra.
Lebih lanjut, Hendra menilai bahwa kondisi karhutla justru memperlihatkan pentingnya edukasi dan komunikasi yang baik mengenai pengelolaan perkebunan dan lingkungan. Menurutnya, seluruh pihak perlu mengambil peran dalam mendorong praktik perkebunan yang bertanggung jawab serta meningkatkan kesadaran mengenai pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
“Kami sangat memahami sensitivitas situasi yang terjadi saat ini dan menghormati perhatian masyarakat terhadap karhutla di Kalimantan Barat. Penyelenggara IPOSC menyampaikan keprihatinan dan empati kepada seluruh masyarakat yang terdampak. Kami berharap edukasi yang dibawa IPOSC dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk mendorong praktik perkebunan yang lebih baik, produktif, dan tetap memperhatikan lingkungan,” tuturnya.
Dengan demikian, penyelenggara berharap masyarakat dapat melihat IPOSC sebagai ruang dialog dan edukasi, bukan sebagai kegiatan yang mendukung pembukaan lahan ataupun pembakaran hutan dan lahan. IPOSC 2026 diharapkan dapat menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai perspektif dalam mencari solusi atas tantangan industri kelapa sawit, termasuk produktivitas, perubahan iklim, keberlanjutan, dan kesejahteraan petani.
“Kami menghargai setiap kritik dan perhatian publik terhadap kegiatan ini. Bagi kami, kepedulian terhadap lingkungan dan kepedulian terhadap petani bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya harus berjalan bersama. Karena itu, melalui IPOSC, kami ingin terus mendorong edukasi dan praktik perkebunan yang produktif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan,” pungkas Hendra J. Purba.
Panitia penyelenggara juga terus memantau perkembangan kondisi kabut asap dan dampaknya terhadap aksesibilitas menuju lokasi acara, termasuk terganggunya sejumlah penerbangan. Dengan mempertimbangkan aspek keselamatan dan kenyamanan seluruh pihak, panitia saat ini sedang mempertimbangkan opsi untuk menunda pelaksanaan 6th IPOSC 2026. Keputusan final akan disampaikan setelah mempertimbangkan perkembangan kondisi di lapangan serta koordinasi dengan berbagai pihak terkait.