Petrus Gunarso: Kelapa Lambang Persatuan Indonesia

Petrus Gunarso: Kelapa Lambang Persatuan Indonesia

Jakarta, mediaperkebunan.id - Petrus Gunarso, Ketua Pembina Yayasan Panca Palma Tropika Indonesia menyatakan ada 5 palma di Indonesia yang bila dikelola dengan benar, maka Indonesia bisa jadi juara dunia. Palma itu adalah nomor satu sawit, bukan asli Indonesia tetapi tumbuh baik dengan luas 16 juta ha, 60% dikelola perusahaan dan 40% petani. Indonesia sudah juara dunia.

Nomor 2 adalah sagu yang potensinya besar tetapi belum diolah padahal kapasitasnya mampu memberi makan ASEAN. Sekitar 85% sagu dunia ada di Indonesia. Penyeragaman makan nasi seluruh Indonesia membuatnya tidak tergarap.

Nomor 3 adalah kelapa, nomor 4 pinang, nomor 5 aren. Petrus meluncurkan buku ketiga Panca Palma yaitu  “Kelapa Indonesia” yang dilaksanakan tanggal 9 September bekerjasama dengan Ormas/Parta Gerakan Rakyat.

Sila ketiga Panca Sila ada Persatuan Indonesia. Buku kelapa merupakan buku ketiga Panca Palma, artinya kelapa merupakan lambang  Persatuan Indonesia karena 99% diusahakan oleh rakyat dan tersebar di seluruh Indonesia, setiap wilayah di Indonesia pasti ada kelapanya.

Mengenai kondisi kelapa sekarang Petrus menceritakan pengalamannya di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara. Di sana banyak puluhan kontainer berisi kayu kelapa yang akan dikirim ke Semarang, Yogyakarta dan Surabaya. Kayu kelapa menggantikan kayu dari hutan yang produksinya tinggal 5 juta m3/tahun. Sepanjang jalan Yogya-Solo banyak usaha penggergajian kayu kelapa.

“Kalau setiap bulan menebang ribuan batang berapa batang yang ditanam kembali. Saya keliling tidak ada penanaman kembali. Ini gambaran kelapa Indonesia sekarang, menurut data luasan tetap 3,2 juta ha tetapi produksi menurun,” kata Petrus.

Sahrin Hamid, Ketua Umum Ormas/Partai Gerakan Rakyat menyatakan kelapa adalah hal yang jarang dibicarakan partai. “Saya kenal kelapa dari Sahabat Kelapa yang dipimpin Mawardin Simpala. Kelapa punya ekosistem sendiri ada petani, pengusaha, mediator, industri. Saya berkunjung ke banyak pabrik bahkan sampai ke China. Kelapa dari ujung paling atas sampai akarnya memberi manfaat. Indonesia pernah menjadi penghasil kelapa nomor satu dunia,” katanya.

Sebagai ormas/parpol Gerakan Rakyat sangat peduli pada petani kelapa dari Sabang sampai Merauke. Kalau parpol ini menang Pemilu baik di DPR maupun pemerintahan maka akan membentuk Kementerian Kelapa. Tumbuhan ini dimiliki rakyat sehingga harus mendapat perhatian penuh. Dengan jalan ini mengembalikan kejayaan kelapa menjadi konkrit.

Ketua Koalisi Kabupaten Penghasil Kelapa (KOPEK), Nelson Pomalingo menyatakan komitmen daerah dalam memperluas area tanam kelapa hingga target 5 juta hektare, juga mendorong perbaikan harga di tingkat petani. Problem hulu adalah pembibitan, benih yang ada sekarang masih alamiah, bukan hasil riset pemuliaan.

Ketua Himpunan Pengusaha Briket Arang Kelapa Indonesia (HIPBAKI), Asep Jembar Mulyana menyatakan briket arang tempurung kelapa asal Indonesia untuk shisha adalah terbaik dan terbesar di Asia. Tidak ada produsen kelapa lain yang bisa memproduksi sesuai syarat yaitu asapnya harus putih. Industri ini menyumbang devisa negara hingga Rp6 triliun lebih per tahun.

Donatus Gede Sabon, Sekjen Forum kelapa Indonesia menyatakan sudah lama diskusi soal tata niaga kelapa diadakan tetapi sampai sekarang selalu terjebak membela petani mengorbankan industri atau sebaliknya. Sekarang pemerintah sudah bicara hilirisasi.

Industri kelapa diawali dengan industri minyak kelapa, daging kelapa diolah jadi kopra, kemudian dijadikan minyak. Berkembang industri kelapa terpadu yang mengolah daging kelapa menjadi berbagai produk, juga air, tempurung dan sabut kelapa.

Industri sawit yang sekarang besar pada awalnya hanya membuat dua produk yaitu CPO dan PKO kemudian diolah jadi produk lain. Sedang kelapa dari awal saja sudah bisa 5-6 produk sehingga kalau dikembangkan bisa lebih besar dari sawit. Gerakan Rakyat harus visioner melihat kelapa ini.

Hilirisasi sabut bukan membuat produk kemudian diekspor ke China, Eropa dan lain-lain tetapi pemerintah dengan otoritasnya harus mengarahkan industri otomotif, terutama mobil listrik yang sekarang banyak berdiri untuk menggunakan jok mobil dari sabut kelapa.

Minyak goreng kelapa tidak mungkin bersaing dari sisi harga dengan sawit sehingga didorong untuk produk oleokimia yang banyak dibutuhkan industri kosmetik dan MCT sebagai suplemen yang harganya mahal. Air kelapa menjadi produk minuman isotonik.