Muhaemin Tallo Usulkan Susu UHT MBG Berbasis Santan Kelapa untuk Serap Produksi Petani

Muhaemin Tallo Usulkan Susu UHT MBG Berbasis Santan Kelapa untuk Serap Produksi Petani

Jakarta, mediaperkebunan.id – Ketua Umum Perkumpulan Petani Kelapa Indonesia (Perpekindo), Muhaemin Tallo, mengusulkan terobosan kebijakan kepada pemerintah dengan menjadikan santan kelapa sebagai bahan baku susu UHT dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi solusi untuk menyerap melimpahnya produksi kelapa petani sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor susu.

Muhaemin menjelaskan, saat ini harga kelapa di tingkat petani masih menghadapi tekanan akibat ketidakseimbangan antara produksi dan daya serap industri. Ia mengungkapkan bahwa kondisi perekonomian petani kelapa saat ini berada di titik yang memprihatinkan. Harga kelapa di tingkat petani merosot tajam hingga menyentuh angka Rp1.800 per butir akibat ketidak seimbangan pasokan dan daya serap industri yang terbatas.

Terkait dengan hal tersebut, Muhaeimin meminta pemerintah untuk mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) yang bertujuan menjaga keseimbangan harga kelapa agar petani memperoleh harga yang layak, yakni sekitar Rp4.000 per butir.

"Petani saat ini sangat terpuruk dari segi harga. Agar petani bisa mengantongi keuntungan yang layak, harga ideal di tingkat petani berada di kisaran Rp4.000 hingga Rp5.000 per butir," tegas Muhaemin, Senin (3/8/2026).

Menurutnya, selama ini berkembang anggapan bahwa industri kekurangan bahan baku kelapa. Namun kondisi di lapangan justru menunjukkan persoalan utamanya adalah keterbatasan daya serap hasil produksi petani.

"Permintaan kelapa sebenarnya terus meningkat. Namun yang menyebabkan harga turun adalah karena pasokan berlebih, sementara permintaan dari industri masih terbatas. Akibatnya hasil produksi petani menumpuk dan tidak semuanya dapat diserap. Gudang penyimpanan industri pun sudah penuh," ujar Muhaemin.

Karena itu, ia menawarkan sebuah kebijakan baru kepada pemerintah, yakni mengganti bahan baku susu UHT yang selama ini berbasis susu sapi impor menjadi santan kelapa untuk memenuhi kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis. Langkah ini dinilai menjadi solusi ganda (win-win solution) untuk menyerap kelebihan pasokan (oversupply) kelapa lokal sekaligus menekan biaya impor susu hewani nasional.

"Selama ini bahan baku susu masih banyak diimpor dari Selandia Baru dan Australia. Kalau bahan bakunya diganti dengan santan kelapa, maka produksi petani dalam negeri akan terserap lebih banyak. Selain menolong petani, kebijakan ini juga dapat mengurangi impor," katanya.

Selain memberikan dampak ekonomi bagi petani kelapa, Muhaemin menilai penggunaan santan kelapa juga memiliki sejumlah keunggulan dari sisi kesehatan. Santan kelapa mengandung medium-chain triglycerides (MCTs), yaitu lemak rantai sedang yang lebih mudah diubah menjadi energi oleh tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan MCT dapat membantu meningkatkan rasa kenyang lebih lama, mendukung metabolisme energi, serta membantu pengelolaan berat badan jika dikonsumsi dalam pola makan yang seimbang.

Melansir dari Medical News Today, Santan kelapa juga mengandung asam laurat, senyawa yang memiliki sifat antimikroba dan antiinflamasi sehingga berpotensi mendukung sistem kekebalan tubuh. Selain itu, kandungan antioksidan berupa senyawa fenolik dapat membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.

Muhaemin juga menyoroti bahwa produk berbasis santan kelapa dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang mengalami lactose intolerance atau intoleransi laktosa, sehingga dapat memperluas akses masyarakat terhadap minuman bergizi tanpa bergantung pada produk susu sapi.

"Langkah serupa sudah diterapkan di Cina yang mulai mengarahkan konsumsi masyarakatnya ke susu nabati. Dengan mengintegrasikan susu santan ke dalam MBG, petani terselamatkan, industri berkembang, dan kita mengonsumsi produk pangan bergizi asli komoditas lokal," pungkas Muhaemin.

Ia menambahkan, pengembangan susu UHT berbasis santan kelapa tidak hanya akan memperkuat hilirisasi industri kelapa nasional, tetapi juga menciptakan pasar baru yang mampu menyerap hasil panen petani secara berkelanjutan.

"Dengan adanya kebijakan ini, petani terselamatkan, industri dalam negeri berkembang, impor dapat ditekan, dan kita memiliki produk pangan bergizi yang berasal dari komoditas lokal Indonesia," pungkasnya.