JAKARTA, mediaperkebunan.id – Poduksi minyak sawit (crude palm oil/CPO) pada Maret mengalami kenaikan musiman sekitar 12% dibanding Februari dari 3.883 ribu ton naik 4.349 ribu ton dan 413 ribu ton untuk PKO dari 369 ribu ton pada bulan sebelumnya.
Meski demikian ekspor CPO justru turun dari 2.912 ribu ton pada bulan Februari menjadi 2.641 pada bulan Maret.
“Penurunan terbesar terjadi pada produk olahan minyak sawit yang turun dari 2.254 ribu ton pada bulan Februari menjadi 1.880 ribu ton pada bulan Maret,” ungkap Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono di Jakarta, Jumat (14/5).
Mukti menguraikan, dari sisi negara tujuannya, penurunan ekspor terjadi untuk tujuan China (- 242,8 ribu ton), Mesir & Timur Tengah (-129,4 ribu ton), Bangladesh (-50,5 ribu ton), India (-68,3 ribu ton), Belanda (- 54,9 ribu ton) serta Malaysia.
“Sedangkan kenaikan ekspor terjadi untuk tujuan Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Rusia dan Pakistan,” ujar Mukti.
Menurut Mukti, penurunan ekspor menyebabkan nilai ekspor turun dari US$ 2.687 juta pada bulan Februari menjadi US$ 2.259 juta pada bulan Maret, meskipun harga CPO CIF Rotterdam untuk bulan Maret adalah US$ 1.030/ton yang lebih tinggi dari harga bulan Februari sebesar US$ 997/ton (+3,2%).
GAPKI mencatat, konsumsi minyak sawit dalam negeri mengalami kenaikan menjadi 1.812 ribu ton dari 1.803 ribu ton pada bulan Februari.
Konsumsi untuk industri pangan naik menjadi 911 ribu ton dari 802 ribu ton, untuk industri oleokimia naik menjadi 187 ribu ton dari 185 ribu ton. Sedangkan untuk industri biodiesel turun menjadi 714 ribu ton dari 816 ribu ton di bulan sebelumnya.
GAPKI juga mencatat, stok akhir bulan Maret naik menjadi 3.138 ribu ton dari 2.765 ribu ton pada bulan sebelumnya.
“Memperhatikan harga minyak nabati utama lain yang turun, maka sangat mungkin harga minyak sawit akan segera ikut tertarik turun,” jelas Mukti.