IPOSC Hadir untuk Mensosialisasikan Perkebunan Berkelanjutan, Termasuk Tata Cara Tanpa Bakar

IPOSC Hadir untuk Mensosialisasikan Perkebunan Berkelanjutan, Termasuk Tata Cara Tanpa Bakar

Jakarta, mediaperkebunan.id — Perkumpulan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) menegaskan bahwa Indonesia Palm Oil Smallholders Conference (IPOSC) merupakan forum edukasi yang sejak tahun 2019 diarahkan untuk memperkuat pengetahuan petani mengenai praktik budidaya kelapa sawit yang baik, produktif, dan berkelanjutan.

Penegasan tersebut disampaikan menyusul ramainya pembahasan mengenai rencana pelaksanaan 6th IPOSC 2026 di Kalimantan Barat di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang terjadi di sejumlah wilayah. Rencana kegiatan tersebut sebelumnya mendapat kritik di media sosial karena dinilai tidak tepat diselenggarakan ketika masyarakat Kalimantan Barat sedang menghadapi dampak karhutla.

Ketua Umum POPSI, Mansuetus Darto menjelaskan bahwa IPOSC merupakan agenda tahunan yang telah dimulai sejak 2019. Sejak awal, forum tersebut dibangun sebagai ruang bagi petani untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan mengenai pengelolaan kebun sawit secara lebih baik.

“Acara IPOSC sudah dibatalkan namun kami sempat mengalami kendala dalam pembokaran baliho sehingga sedikit terlambat,” ujar Darto.

Menurutnya, keberadaan IPOSC tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan petani sawit untuk memperoleh pengetahuan mengenai pembangunan perkebunan sawit yang berkelanjutan. Forum tersebut menjadi tempat bertemunya petani sawit dengan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas persoalan yang dihadapi petani di lapangan.

Mendorong Produktivitas, Bukan Ekspansi Lahan

POPSI menegaskan bahwa arah utama IPOSC bukan mendorong pembukaan lahan baru, melainkan bagaimana lahan yang sudah ada dapat dikelola secara optimal dan produktif.

Salah satu pendekatan yang terus didorong adalah peningkatan produktivitas melalui penggunaan bahan tanaman yang baik, penerapan teknik budidaya yang tepat, serta optimalisasi program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Dengan peningkatan produktivitas kebun yang sudah ada, kebutuhan peningkatan produksi dapat ditempuh melalui perbaikan pengelolaan, bukan semata-mata melalui perluasan areal.

Hal tersebut juga menjadi bagian dari materi yang selama ini dibawa dalam IPOSC. Forum ini membahas berbagai aspek teknis dan kebijakan yang berkaitan dengan keberlanjutan perkebunan sawit, termasuk produktivitas, PSR, perubahan iklim, pengelolaan lahan, serta pencegahan kebakaran.

IPOSC juga ditegaskan bukan kegiatan yang mendukung pembukaan lahan dengan cara membakar. Fokusnya justru pada edukasi mengenai praktik perkebunan yang sesuai dengan regulasi dan prinsip keberlanjutan.

Pembukaan Lahan Tanpa Bakar Justru Menjadi Materi Edukasi

Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam rangkaian IPOSC 2026 adalah pembukaan lahan tanpa bakar. Bagi POPSI, pembahasan mengenai hal tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada petani mengenai praktik pengelolaan lahan yang sesuai dengan ketentuan.

Artinya, membahas pembukaan lahan tanpa bakar tidak dapat dimaknai sebagai ajakan untuk membuka hutan atau memperluas perkebunan. Sebaliknya, edukasi tersebut diarahkan agar petani memahami apa yang diperbolehkan, apa yang dilarang, serta bagaimana mengelola lahan secara bertanggung jawab.

IPOSC juga dirancang untuk membahas persoalan sawit dari berbagai perspektif, termasuk bagaimana meningkatkan produktivitas kebun yang telah ada dan bagaimana menghadapi tantangan perubahan iklim. Pada agenda yang telah disiapkan, penyelenggara bahkan menghadirkan pembahasan mengenai regulasi pembukaan dan/atau pengolahan lahan serta teknis pembukaan lahan tanpa bakar bersama narasumber dari Direktorat Jenderal Perkebunan.

Karhutla Menjadi Perhatian Penyelenggara

POPSI memahami bahwa kondisi karhutla dan kabut asap di Kalimantan Barat merupakan persoalan serius yang berdampak langsung terhadap masyarakat. Karena itu, keputusan untuk tidak melanjutkan pelaksanaan IPOSC 2026 dalam kondisi tersebut diambil dengan mempertimbangkan situasi di lapangan.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa penyelenggara mempertimbangkan kondisi masyarakat dan situasi lingkungan di lokasi kegiatan. Sebelumnya, IPOSC 2026 memang direncanakan berlangsung pada 22–23 September 2026 di Kubu Raya, dengan persiapan yang telah dilakukan jauh sebelum munculnya kondisi karhutla saat ini.

“IPOSC sejak awal adalah penguatan pengetahuan petani mengenai pembangunan sawit berkelanjutan, termasuk soal pembukaan lahan tanpa bakar sesuai peraturan pemerintah. Dari IPOSC kami mendorong pertanian tanpa bakar dengan mengoptimalkan produktivitas, PSR, dan optimalisasi lahan yang sudah ada,” tegas Darto.

Dengan keputusan untuk membatalkan pelaksanaan IPOSC 2026 dalam situasi karhutla di Kalimantan Barat, POPSI menegaskan bahwa kepedulian terhadap petani dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan. Forum IPOSC ke depan diharapkan tetap menjadi ruang edukasi bagi petani untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menerapkan praktik perkebunan yang bertanggung jawab.

“Kami memahami perhatian masyarakat terhadap karhutla dan menghormati berbagai masukan yang muncul. Yang ingin kami tegaskan, IPOSC bukan forum untuk mendorong pembukaan lahan dengan cara membakar. Justru kami ingin petani memiliki pengetahuan yang benar agar mampu meningkatkan produktivitas dari lahan yang sudah ada, melakukan PSR, dan menjalankan budidaya sawit secara berkelanjutan,” pungkas Darto.