Jakarta, mediaperkebunan.id – Setiap tahunnya, kebutuhan gula nasional untuk konsumsi dan industri mencapai 7 juta ton, sedangkan produksi gula nasional hanya mencapai 2,2 juta ton/tahun. Sehingga masih diperlukan impor. Sebagai usaha mencapai target swasembada gula 2030, PTPN akan mendorong pengembangan kawasan penanaman tebu dan restorasi pabrik gula.
Selama satu dekade terakhir, produksi gula mengalami penurunan sebesar 1,16%, dari 2,55 juta ton pada tahun 2013 menjadi 2,27 juta ton pada tahun 2023.Menurut Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 40 Tahun 2023, berisi tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol Sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel).
Direktur Produksi dan Pengembangan PTPN III, Mahmudi mengatakan, sebenarnya kalau dari Perpres No 40, terkait dari swasembada gula dan juga energi, swasembada konsumsi ditargetkankan pada 2028, dan swasembada nasionalnya 2030. “Ini kita menggunakan dua pendekatan yaitu ekstensifikasi dan intensifikasi,” ujarnya saat ditemui Rabu (20/3),
Pendekatan ekstensifikasi dan intensifikasi adalah usaha meningkatkan hasil pertanian. Keberhasilan upaya peningkatan hasil pertanian bergantung pada banyak faktor.
Intensifikasi pertanian merupakan pengubahan lahan pertanian yang ada menjadi kapasitas terbaiknya untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan berbagai cara.
Terkait eksistensifikasi, kata Mahmudi, secara nasional harus sekitar 700 ribu hektare (ha). Sedangkan PTPN kurang lebih sekitar 70 persennya.
“Dari (luas) yang ada sekarang kan paling sekitar 450 ribu hektare. Nantinya kita di tahun 2030 naik sekitar 1,2 juta hektare,” jelas Mahmudi.
Lebih lanjut Mahmudi mengatakan, ada beberapa sumber lahan yang ingin dikelola PTPN dalam usaha mencapai swasembada gula 2030 yakni HGU (Hak Guna Usaha) akan dikonversi, dari lahan-lahan petani, lahan KLHK, dan perluasan di tingkat petani.
“Mungkin jika kita berbicara tentang intensifikasi sebenarnya tidak ada yang sulit, kalau kita bicara komunitas yang mudah di dalam kita melakukan peningkatan produktivitas,” imbuh Mahmudi.
Menurut Mahmudi, kunci yang penting adalah yang pertama adanya manajemen sistem, dan kedua pupuk dan pemeliharaan tepat waktu.
“Sehingga dengan adanya kunci itu kita punya produktivitas tebu itu yang nanti sekitar 250 ton per hektar. Bahkan ada 300 ton per hektare. Jadi kita ada target 16 ribu hektar, namun dalam produktivitas kita masih baru diatas 100 ton,” jelas Mahmudi.
Dengan adanya support ini, kata Mahmudi, pihaknya mengharapkan pemeliharaan ini bisa tepat waktu. Tahun depan kita harus seluruh area, dan bisa menghasilkan gula 8 ton/ha, dengan target tahun 2028.
Keberhasilan usaha peningkatan produksi pertanian memang dipengaruhi oleh banyak faktor. Namun dari sekian banyak faktor tersebut, ada beberapa yang sangat bergantung pada upaya sumber daya manusia, antara lain penyiapan lahan, penerapan tata cara bercocok tanam yang benar, cara panen yang tepat, dan proses pasca panen yang baik.