Atasi 40 Juta Hektar Lahan Kritis, PT Pramudita Darya Parma Hadirkan Solusi Bioteknologi di Inagritech 2026

Atasi 40 Juta Hektar Lahan Kritis, PT Pramudita Darya Parma Hadirkan Solusi Bioteknologi di Inagritech 2026

Jakarta, mediaperkebunan.id - Lahan pertanian dan hutan produktif di Indonesia menghadapi ancaman serius akibat degradasi tanah. Menjawab tantangan tersebut, PT Pramudita Darya Parma memaparkan solusi berbasis bioteknologi melalui produk Pupuk Hayati Dinosaurus dan meluncurkan inovasi terbaru Dinosaurus Liquid Soil Enhancer dalam ajang Inagritech 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Sesi pemaparan bertajuk "Solusi Degradasi Lahan Indonesia dengan Peran Bio-Teknologi" menghadirkan dua pembicara utama, yakni Miftah Gurnita Purnama selaku Project Management PT Pramudita Darya Parma dan Freddy Wijaya selaku Production Director sekaligus Founder Pupuk Dinosaurus.

Darurat Degradasi Tanah di Indonesia

Dalam pemaparannya, Miftah Gurnita Purnama menggarisbawahi paradoks kesuburan tanah Indonesia. Ungkapan klasik "tongkat kayu dan batu jadi tanaman" kini terancam oleh penurunan kualitas tanah yang masif.

"Berdasarkan penelitian BRIN tahun 2023, lebih dari 65% kondisi tanah di Indonesia memiliki kandungan bahan organik kurang dari 2%, padahal tingkat idealnya berada di angka 2–3%. Data UNCCD juga menunjukkan 32,6 juta hektar atau 17% total lahan di Indonesia telah terdegradasi. Jika dikerucutkan ke lahan produktif, angkanya mencapai 43,35 juta hektar atau sekitar 23,3%," ujar Miftah.

Miftah menjelaskan empat faktor utama penyebab degradasi lahan berdasarkan kajian akademis:

  1. Deforestasi dan Konversi Lahan: Alih fungsi hutan tropis menjadi industri, pemukiman, dan pabrik.
  2. Pertanian Intensif: Penggunaan input kimia besar-besaran tanpa mengembalikan nutrisi organik alami tanah.
  3. Perubahan Iklim: Cuaca ekstrem dan tak menentu yang mempercepat erosi.
  4. Ketergantungan Pupuk Kimia: Petani terbiasa memakai pupuk kimia karena murah, berdaftarkan subsidi, serta memberikan hasil visual yang cepat, meski merusak kesuburan tanah jangka panjang.

Inovasi Bioteknologi: Mengembalikan Ekosistem Tanah

Sebagai solusi, PT Pramudita Darya Parma menghadirkan Pupuk Hayati Dinosaurus yang mengombinasikan 18 jenis mikroba alami (seperti Azotobacter sp, Azospirillum sp, dan Streptomyces sp). Miftah menguraikan empat manfaat utama dari mikroba ini:

  • Pelepas Unur Hara: Menguraikan nutrisi terikat dalam tanah agar siap diserap tanaman.
  • Stimulator Pertumbuhan (Growth Engine): Merangsang perakaran agar lebih panjang, kuat, dan optimal menyerap air.
  • Pengendali Hama dan Patogen: Menekan risiko penyakit tanaman secara alami.
  • Penambat Nitrogen: Menyerap nitrogen dari udara sehingga memangkas kebutuhan pupuk kimia sintetis.

Uji coba di lapangan membuktikan efektivitas bioteknologi ini. Pada budidaya padi di Indramayu, penggunaan pupuk hayati mampu meningkatkan hasil panen sebesar 35%, dari 6,8 ton menjadi 9,2 ton per hektar. Keberhasilan serupa dicatatkan pada komoditas bawang merah, jagung di Cianjur, hingga tanaman kurma di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, yang berhasil berbuah stabil setelah 3–4 tahun pendampingan.

Pada kesempatan yang sama, Freddy Wijaya selaku Production Director meluncurkan produk inovasi terbaru: Dinosaurus Liquid Soil Enhancer. Produk ini dirancang untuk mereplikasi proses pemulihan alam yang biasanya memakan waktu puluhan tahun menjadi jauh lebih cepat.

"Ketika lahan dibuka untuk pertambangan atau pertanian skala besar, topsoil (lapisan tanah atas) hilang dan ekosistemnya rusak. Sangat sulit mengandalkan pemulihan alami. Dinosaurus Liquid Soil Enhancer diformulasikan untuk mempercepat rehabilitasi lahan kritis, proses hydroseeding di area lereng, serta menghidupkan kembali mikroba tanah agar tanaman perintis bisa tumbuh," jelas Freddy.

Produk Pupuk Dinosaurus memiliki latar belakang sosial yang kuat. Awalnya dikembangkan sebagai program pemberdayaan gratis bagi petani di Nusa Tenggara Timur (NTT), kini produk tersebut dikembangkan secara berkelanjutan dengan harga kompetitif.

Nama "Dinosaurus" diambil dari dua aspek: hasil panen yang berukuran jumbo (seperti tongkol jagung yang padat) serta filosofi unik yang diberikan seorang ulama di Temanggung, yakni "saban dino nosing ngurus" (setiap hari ada yang mengurus tanah).

Dibuat dari bakteri dorman dengan masa simpan hingga 3 tahun, pupuk ini hadir dalam kemasan pouch ramah lingkungan yang mengedukasi petani untuk mendaur ulang wadahnya menjadi polybag. Saat ini, distribusinya telah menjangkau seluruh wilayah Indonesia dari Maluku hingga Merauke, serta telah menembus pasar ekspor hingga ke Eropa.

Melalui perhelatan Inagritech 2026, PT Pramudita Darya Parma membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah, swasta, serta sektor pertambangan untuk bersama-sama mengembalikan kesuburan tanah demi kedaulatan pangan dan keberlanjutan masa depan pertanian Indonesia.