Medan, Mediaperkebunan.id – Gegara trek atau siklus penurunan produksi tandan buah segar (TBS), mimpi para petani kelapa sawit untuk bisa meraup cuan atau keuntungan di depan mata menjadi melayang begitu saja.
Semua ini berpangkal dari kenaikan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar domestik dan global dan tergambar dari hasil tender yang diselenggarakan oleh PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) atau tender PTP selama beberapa hari terakhir.
Kenaikan harga CPO tersebut tak pelak mendorong kenaikan harga pembelian TBS produksi para petani saat ditransaksikan di tingkat pengepul, toke, loading RAM, maupun di tingkat pabrik kelapa sawit (PKS).
Terbukti, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun oleh Mediaperkebunan.id, Rabu (12/2/2025), harga TBS di berbagai provinsi sentra perkebunan kelapa sawit di Indonesia, termasuk di Pulau Sumatera, mengalami penguatan hingga menembus level Rp 3.000 per kilogram (Kg).
Ismail dan Iskandar, dia petani sawit swadaya dari Provinsi Kepulauan Bangka dan Belitung (Babel), menyebutkan trek kali ini membuat produksi TBS mereka merosot secara drastis.
“Mungkin ada sekitar 30 persen, ada juga yang 50 persen turun produksi buah sawit saat trek begini. Padahal harga TBS lagi naik,” ucap Ismail kepada Mediaperkebunan.id melalui telepon seluler, kemarin.
Hartawan, seorang petani kelapa sawit dari Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), mengungkapkan hal yang senada, dan menilai trek sampai 30 persen dari produksi TBS per hektar (Ha).
Katimin, seorang petani sawit plasma dari Kabupaten Siak, Provinsi Riau, juga menyatakan hal yang senada. Ia bilang, trek telah berlangsung sejak November 2024 lalu dan berlangsung hingga saat ini.
“Bukan cuma kebun sawit milik petani, kami tengok kebun sawit milik perusahaan pun mengalami trek juga,” ucap pria asal Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ini.
Tetapi Katimin berpendapat bahwa perawatan kebun kelapa sawit yang dilakukan sejak awal penanaman adalah kunci utama untuk mengatasi tingginya presentase trek di kemudian hari.
“Kalau dari awal kebun kita dirawat, maka trek kemungkinan hanya 20 persen, paling tinggi 30 persen. Tapi kalau tidak dirawat maksimal, ya bisa jadi treknya sampai 50 persen dari biasanya,” ucap Katimin.
Namun situasi yang sedikit berbeda dialami oleh para petani kelapa sawit di Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), yang justru mengeluhkan penurunan harga pembelian TBS di tingkat PKS.
“Kalau trek ya enggak terlalu banyak. Yang problem sekarang ini kan harga TBS di tempat kami justru turun, padahal harga CPO naik,” ucap Rafiudin.
“Di samping itu, harga TBS di provinsi lain kami lihat naik. Ini yang masih menjadi pertanyaan bagi kami, kok bisa begini?” tegas Rafiudin, seorang petani sawit swadaya di Kabupaten Lutra.