Medan, mediaperkebunan.id - Upaya peningkatan kapasitas petani sawit rakyat terus diperkuat melalui kombinasi teori dan praktik lapangan. Sebanyak 60 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Aceh Singkil mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang digelar di Kota Medan pada 3-8 Agustus 2026.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh PT Koompasia Enviro Institute melalui Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDM-PKS), hasil kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian.
Para peserta yang terbagi dalam Angkatan VII dan VIII mengikuti serangkaian agenda intensif, meliputi lima hari pembelajaran teori di ruang kelas dan satu hari praktik lapangan langsung di PT Amal Tani – Perkebunan Tanjung Putri.
Praktik lapangan menjadi elemen vital dalam program ini agar para petani dapat melihat langsung penerapan prinsip-prinsip budidaya berkelanjutan di skala perkebunan profesional.
Mewakili Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh, Mukhlis, S.P., M.A., menegaskan pentingnya manfaat dari pelatihan ini bagi tata kelola kebun rakyat.
"Tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan seperti ini. Karena itu, manfaatkan kesempatan ini untuk menambah perbendaharaan pengetahuan tentang budidaya kelapa sawit yang baik dan benar," kata Mukhlis saat membuka acara.
Direktur PT Koompasia Enviro Institute, Henry Marpaung, menambahkan bahwa metode pelatihan dirancang interaktif untuk memastikan pemahaman materi yang mendalam.
"Kami ingin memastikan peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu melihat bagaimana prinsip-prinsip budidaya diterapkan dalam kondisi nyata. Pembelajaran kami lengkapi dengan diskusi, alat peraga, dan praktik langsung," ujar Henry.
Pelaksanaan pelatihan ini turut dipantau langsung oleh Komite SDMP BPDP, Dewi Wulandari, S.Si., melalui kegiatan monitoring dan evaluasi. Dewi mengapresiasi keaktifan peserta, salah satunya Triono, yang mampu menjelaskan kembali konsep budidaya dan mengaitkannya dengan kondisi kebun miliknya.
"Ketika peserta mampu menjelaskan kembali apa yang telah dipelajari, berarti ada proses pemahaman yang terjadi selama pelatihan. Harapannya, pemahaman tersebut dapat dilanjutkan menjadi praktik nyata ketika peserta kembali ke kebun," ungkap Dewi.
Dukungan serupa disampaikan oleh Plt. Kepala Dinas Perkebunan Aceh Singkil. Menurutnya, antusiasme peserta menunjukkan bahwa program peningkatan kapasitas SDM masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat petani di daerah.
Melalui sinergi BPDP, Ditjenbun, dan Koompasia Enviro Institute, Program SDM-PKS diharapkan mampu mendorong tata kelola perkebunan kelapa sawit rakyat di Aceh Singkil menjadi lebih profesional, produktif, efisien, dan berkelanjutan.