Medan, Mediaperkebunan.id
Iklim tahun 2022 menurut prediksi BKMG dan BoM Australia adalah kondisi ENSO La Nina lemah-moderat dari Januari dan diprediksi hingga Juni/Juli; kondisi IOD hingga Juli netral; curah hujan akan normal-atas normal; musim kemarau tidak ekstrim; dry spell tidak berpotensi panjang. Hasril Hasan Siregar, Peneliti Senior Pusat Penelitian Kelapa Sawit, menyatakan hal ini.
Dengan kondisi demikian maka iklim 2022 tidak akan menjadi pembatas bagi produksi kelapa sawit. Prediksi oleh institusi-institusi iklim internasional dengan model-model global juga juga umumnya La Nina-netral sampai akhir 2022. Sesuai iklim 2020 (tanpa kekeringan), 2021 (tanpa kekeringan), dan 2022 (diprediksi tanpa kekeringan) maka iklim tidak menjadi faktor pembatas dan diprediksikan produksi 2022 akan normal-cukup baik (meningkat landai).
Meskipun demikian, dampak perubahan iklim terhadap kelapa sawit tetap harus diwaspadai. Dampak terhadap kelapa sawit dengan suhu udara semakin meningkat maka lahan sesuai kemungkinan menjadi tidak sesuai. Lahan dataran tinggi (650 – 850 m dpl) yang sebelumnya tidak sesuai menjadi sesuai untuk kelapa sawit (suhu udara minimum rata-rata > 18oC ). Contohnya beberapa kebun di dataran tinggi Sumatera Utara (Simalungun, Karo dan Tapanuli Selatan) mulai tahun 1996, juga beberapa kebun di Jawa Barat.
Musim hujan semakin basah dan musim kemarau semakin kering, frekuensi banjir dan kekeringan meningkat sehingga produksi kelapa sawit bisa fluktuatif dan semakin rendah. Musim hujan yang semakin basah dengan curah hujan yang lebih tinggi menyebabkan potensi banjir, lebih rentan kerusakan infrastruktur jalan sehingga dapat menganggu panen-angkut-olah kelapa sawit.
Musim kemarau yang semakin kering berdampak pada cekaman kekeringan sehingga mengakibatkan rendah dan berluktuasinya produksi kelapa sawit. Peningkatan frekuensi iklim ekstrim terutama kekeringan akan menganggu perkembangan bunga-buah dan produksi, bahkan bila frekuensi <3 tahun maka cekaman yang terjadi akan semakin akumulatif. Kekeringan dapat menstimulasi kemunculan bunga jantan (menurunnya sex ratio), sehingga menurunkan cadangan buah; menyebabkan kegagalan tandan yang baru terbentuk; bunga betina yang terbentuk mengalami aborsi sebelum berkembang, terutama terjadi pada tanaman muda berumur 3-5 tahun; proses kematangan tandan lebih cepat namun tidak sempurna dan berukuran kecil.