Streptomyces, Mikroba Paling Superior Sebagai Agen Pengendali Hayati Ganoderma

Streptomyces, Mikroba Paling Superior Sebagai Agen Pengendali Hayati Ganoderma

Bandung, mediaperkebunan.id – Mikroba yang sering digunakan agen pengendali hayati banyak berperan dalam ekosistem. Peran itu adalah Trichoderma (jamur saprofit) dekomposisi bahan organik dan daur ulang nutrisi; Mikoriza (jamur obligat simbiosis) meningkatkan pengambilan nutrisi oleh tanaman lewat hubungan simbiosis; Streptomyces (bakteri filamen) memproduksi antibiotik dan mendekomposisi bahan organik dalam tanah; Hendersonia (jamur endoptik) meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cekaman dan patogen; Bacillus (bakteri sporulating) bertahan pada situasi sangat tidak ideal dengan membentuk spora tahan; Pseudomonas/Bukholderia (bakteri non spora) meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan peningkatan ketersediaan nutisi.

Rais Andersen dari PT Pascal Biotech Indonesia menyatakan hal ini pada 2nd ISGANO 2025 yang diselenggarakan Media Perkebunan dan Perkumpulan Profesional Praktisi Perkebunan Indonesia (P3PI).

Agen pengendali hayati berperan dalam menekan ganoderma dengan cara kompetisi ruang, mikroba menempati niche (ruang kecil yang tersedia) sehingga akses patogen terbatas; memproduksi zat yang dapat menghambat pertumbuhan patogen; diam dalam akar meningkatkan ketahanan tanaman; enzim membongkar dinding sel sehingga mengurangi keberadaan patogen; menghasilkan kompon yang menghambat pertumbuhan jamur; meningkatkan absorsi nutrisi sehingga ketahanan tanaman meningkat.

Kemampuan menekan penyakit yang paling tinggi adalah Streptomyces dengan memproduksi antibiotik berspektrum lebar dan enzim, meningkatkan ketahanan (level 5) kemudian Bacillus memproduksi kompon anti jamur (level 4) dan Hendersonia berkompetisi dalam jaringan tanaman dengan aktifitas anti jamur (level 4); Trichoderma berkompetisi dengan jamur menggunakan enzim (level 3); Mikoriza meningkatkan serapan nutrisi untuk meningkatkan ketahanan tanaman (level 2); Pseudomonas mengkolonisasi akar dan mendukung penyatuan dengan tanaman.

Hendersonia dan Trichoderma bisa hidup dalam pH tertentu saja tetapi toleran terhadap suhu; Actinomyces dan Bacillus bisa hidup dalam berbagai pH dan toleran terhadap suhu; Pseudomonas / Bukholderia hanya bisa hidup dalam pH tertentu dan sensitif suhu; Mikoriza bisa hidup dalam rentah pH yang luas dan sensitif suhu.

Bacillus memerlukan bahan organik dan endospora untuk bertahan; Pseudomonas / Bukhorderia memerlukan nutrisi yang konsisten dan eksudat akar; Hendersonia memerlukan jaringan tanaman inang dan dekomposisi inang sesudahnya; Tricoderma memerlukan bahan organik dan nutrisi; Mikoriza baik pada defisiensi P dan perlu karbon dari tanaman inang.

Mikroba saprofit yaitu Trichoderma, Hendersonoa, Bacillus mendekomposii bahan organik dan meningkatkan kesuburan tanah dan bisa bertahan tanpa tergantung pada apapun sedang non saprofit yaitu mikoriza , Pseudomonas / bukhlorderia sangat bergantung pada akar, mendukung pertukaran nutisi , sangat tergantung pada inangnya.Kemampuan adaptasi terhadap genangan (air berlebih), asin dan kekeringan paling rendah adalah Mikoriza, rendah sampai moderat Pseudomonas, moderat Trichoderma, moderat sampai tinggi Bacillus; tinggi Streptomyces.

Bila kondisi ideal tidak tercapai maka Streptomyces membentuk spora yang bisa terbang tertiup angin, bisa bertahan dalam kondisi yang ekstrim; Trichoderma tumbuh dalam material yang terdekomposisi bertahan dalam tanah yang kaya organik; Mikoriza memerlukan tanaman inang untuk bertahan; Bacillus membentuk endospora bisa bertahan dalam jangka pendek dalam kondisi ekstrim; Pseudomonas membentuk biofilm bergantung pada eksudat akar, Hendersonia bertahan dalam jaringan tanaman dan material yang membusuk. Bacillus, Pseudomonas, Hendersonia, Mikoriza tergantung pada tanaman secara simbiosis; Streptomyces dan Trichoderma bisa bertahan sendiri tanpa tergantung pada tanaman inang.

Paling lama bertahan dan hidup dalam kondisi yang sangat tidak ideal di tanah adalah Streptomyces (skor 9), Bacillus (7), Hendersonia (6), Trichoderma (4); Mikoriza (4); Pseudomonas/Bukhorderia (3). Streptomyces sangat superior dibanding mikroba lain karena kemampuan membentuk spora, melakukan pengendalian dengan dua aksi, sangat independent (tidak tergantung tanaman inang); bisa menyebar kemana-mana dalam jangkauan yang jauh; ketahanan terhadap lingkungan, keragaman nurisi yang diperlukan tidak tergantung pada satu jenis nurisi , efikasi jangka panjang dan peranan melengkapi kekurangan yang ada.

Streptomyces sudah diuji dalam berbagai media, bagaimana mekanisme pembentukan spora dan karateristik morfologi untuk mengetahui kemampuan adaptasi, fungsi dan potensi efektif untuk sebagai agen pengendali hayati dalam berbagai jenis tipe tanah dan cuaca. Hasilnya baik (++ dan +). Setelah itu diuji di nursery sawit hasilnya berhasil mengurangi infeksi Ganoderma sampai 63,01% dibanding kontrol. Sedang pertumbuhan vegetatif meningkat 11-18%. Uji di kebun sawit yang mengalami berbagai kondisi kelembaban, kekeringan, hujan deras, dan kompetisi dengan mikroba asli di lahan itu.

Uji lapangan menunjukkan apakah streptomyces dapat tetap hidup, mengkolonisasi akar, dan menekan Ganoderma dilakukan beberapa tahun. Streptomycetes juga terkena pupuk, herbisida dan pestisida yang menentukan apakah masih bisa berfungsi. Hasilnya pada benih yang tidak diberi perlakukan 36 bulan setelah tanam kematian 75% sedang pada benih yang diberi perlakuan streptomyces kematian hanya 6,6%.