Serangan Ganoderma di Kebun Petani Labuhanbatu Selatan Kian Mengkhawatirkan, Perlu Perhatian Serius

Serangan Ganoderma di Kebun Petani Labuhanbatu Selatan Kian Mengkhawatirkan, Perlu Perhatian Serius

Labuhanbatu Selatan, mediaperkebunan.id – Serangan penyakit Ganoderma sp. di kebun kelapa sawit milik petani swadaya terus meluas dan menjadi ancaman serius bagi produktivitas perkebunan rakyat. Kondisi ini dirasakan langsung oleh Sumarno, petani sawit sekaligus perwakilan Sawitku Masa Depanku (SAMADE), yang kebunnya berada di Desa Tanjung Selamat, Kecamatan Kampung Rakyat, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara (Sumut).

Menurut Sumarno, kebunnya sangat terdampak penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh Ganoderma. “Kalau dihitung-hitung, kebun saya satu lokasi luasnya 10 hektare. Sekitar satu hektare itu sudah terserang Ganoderma, karena banyak juga tanaman yang sudah saya sisih,” ujarnya.

Serangan tersebut tidak terjadi secara sporadis, melainkan muncul dalam spot-spot yang semakin meluas, menandakan penyebaran patogen yang sulit dikendalikan di tingkat petani kecil.

Upaya Petani Kendalikan Serangan Ganoderma: Isolasi, Penyisipan, dan Trichoderma

Dalam keterbatasan pengetahuan dan pendampingan, Sumarno dan petani lain berupaya melakukan tindakan preventif secara mandiri. Untuk tanaman yang sudah mati akibat Ganoderma, petani biasanya membiarkannya, menggali lubang baru, melakukan penyisipan, serta menambahkan Trichoderma.

Serangan ganoderma kebun petani

Sementara itu, tanaman yang masih menunjukkan gejala awal dicoba untuk diisolasi. “Yang masih terserang kita isolasi, lalu kita kasih Trichoderma sama kompos. Penanggulangan yang bisa kami lakukan ya seperti itu,” jelasnya.

Namun, hasilnya belum sepenuhnya memuaskan. Dalam beberapa bulan terakhir memang terlihat adanya perubahan, tetapi tanaman tidak bisa kembali normal. “Ujung-ujungnya tetap mati juga, karena pengendaliannya memang susah. Selain di penanggulangan, tantangannya ada di pencegahan supaya Ganoderma itu tidak muncul,” tambah Sumarno.

Sumarno menduga, munculnya Ganoderma berkaitan erat dengan pengolahan tanah saat peremajaan (replanting). Pada tanaman generasi pertama, kebunnya tidak pernah terserang Ganoderma. Penyakit ini baru muncul setelah dilakukan underplanting dan tanaman lama dihabiskan.

Ia juga mencermati kondisi lingkungan sekitar kebun. “Di sekitar kebun saya banyak peternakan sapi milik masyarakat. Saya tidak yakin, tapi mungkin itu juga berpengaruh terhadap penyebaran Ganoderma yang begitu cepat. Kami butuh informasi yang jelas soal ini,” katanya.

Menurutnya, kondisi serupa juga dialami banyak anggota SAMADE lainnya di berbagai lokasi kebun petani swadaya. Dampak Ganoderma terhadap produksi sangat signifikan. Tanaman yang tidak sehat sulit berbuah optimal. Sebelum replanting dan serangan Ganoderma, Sumarno mengaku sekali panen bisa mencapai 5–6 ton.

“Dulu dalam satu bulan bisa panen dua kali, totalnya bisa 12–13 ton. Sekarang satu bulan rata-rata hanya sekitar 8 ton,” ungkapnya. Penurunan ini jelas memukul pendapatan petani swadaya yang sangat bergantung pada hasil panen.

Berharap Peran Pemerintah di Tingkat Petani

Ironisnya, menurut Sumarno, peran pemerintah dalam penanganan serangan Ganoderma di kebun petani sangat tidak terasa. Penyuluh pertanian lapangan (PPL) dinilai tidak pernah memberikan edukasi khusus terkait pencegahan maupun pengendalian Ganoderma.

“Tidak pernah ada penyuluhan tentang antisipasi atau pencegahan Ganoderma, baik sebelum maupun sesudah terkena. Kalau ada, itu biasanya dari pihak produk,” ujarnya. Kondisi ini sangat kontras dengan perusahaan perkebunan besar yang memiliki sistem pengendalian penyakit secara intensif dan terstruktur.

Sumarno berharap ke depan, pemerintah dapat memasukkan aspek pengendalian Ganoderma secara serius dalam Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), terutama terkait pengolahan tanah yang benar sejak awal.

“Pelatihan pembuatan kompos yang dicampur Trichoderma saja tidak pernah ada. Bahkan banyak petani tidak tahu bahwa Trichoderma bisa digunakan untuk pencegahan,” katanya. Menurutnya, edukasi mendalam dan berkelanjutan sangat dibutuhkan oleh petani swadaya.

Dalam konteks inilah, 3rd International Symposium Ganoderma (ISGANO) 2026 yang akan digelar di Medan pada 10–12 Februari 2026 menjadi harapan baru bagi petani sawit. Forum internasional ini diharapkan menjadi ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan solusi nyata dalam menghadapi Ganoderma dari ahlinya.

“Kami dari SAMADE sedang mengajukan ke BPDP untuk ikut ISGANO. Mudah-mudahan ada respons. Kalau ada fasilitasi, kami ingin mengajak petani supaya bisa bercerita langsung tentang kebunnya yang terkena Ganoderma,” pungkas Sumarno.

Melalui ISGANO 2026, suara petani diharapkan tidak lagi terpinggirkan, dan penanganan Ganoderma dapat dilakukan secara lebih ilmiah dan terintegrasi.