Jakarta, mediaperkebunan.id – Pada periode April 2025 yang lalu, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) nasional mengalami peningkatan sebanyak 2 persen, dari 4.391 ribu ton pada Maret menjadi 4.479 ribu ton.
“Kenaikan produksi ini karena faktor musiman,” ucap Mukti Sarjono selaku Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dalam sebuah keterangan resmi yang dikutip Mediaperkebunan.id, Sabtu (28/6/2025).
Di saat yang sama, kata Universitas Gadjah Mada dan Texas A&M University di bidang pertanian ini, produksi minyak inti sawit atau palm kernel oil (PKO) juga naik dari sebelumnya sebanyak 417.000 ton menjadi 425.000 ton.
Kalau dihitung secara tahunan atau year on year (yoy) antara April 2025 dengan April 2024, Mukti Sarjono bilang total produksi CPO ditambah PKO mencapai 18.039 ribu ton atau sekitar 0,85 persen lebih tinggi dari produksi april 2024 yang mencapai sebesar 17.887 ribu ton.
Sementara itu, sambungnya lagi, total konsumsi CPO dalam negeri mengalami penurunan, dari 2.168 .000 ton pada bulan Maret menjadi 2.100 ribu ton pada bulan April 2025. Konsumsi untuk pangan pada bulan April turun menjadi 871 ribu ton atau sebesar -2,02 persen dari bulan sebelumnya yakni sebesar 889 ribu ton. Sedangkan konsumsi oleokimia naik menjadi 183 ribu ton atau sebesar 0,32 persen dari bulan sebelumnya sebesar 182 ribu ton.
Penurunan juga terjadi pada konsumsi biodiesel yakni menjadi 1.046 ribu ton atau sebesar -4,58 persen dari bulan sebelumnya sebesar 1.097 ribu ton. Total ekspor produk sawit pada bulan April turun menjadi 1.779 ribu ton atau -39,2 persen dari ekspor bulan sebelumnya sebesar 2.876 ribu ton.
Penurunan ekspor CPO terbesar terjadi pada produk minyak sawit olahan yang turun menjadi 1.241 ribu ton dari 2.128 ribu ton pada bulan Maret (-41,7 persen). Mukti Sarjono juga bilang kalau ekspor oleokimia ternyata mengalami penurunan menjadi 368 ribu ton dari 407 ribu ton pada bulan Maret atau minus sebanyak 9,6 persen.
Berdasarkan negara tujuan ekspornya, secara nominal penurunan ekspor yang besar pada bulan April dibandingkan bulan Maret terjadi untuk tujuan Uni Eropa (UE) minus 156.000 ton, India minus 155.000 ton.
“Selanjutnya, ke Amerika Serikat (AS) minus 113.000 ton, Pakistan minus 109.000 ton, dan ke Bangladesh minus 86.000 ton,” tutur Mukti Sarjono lebih lanjut.
Secara YoY sampai dengan bulan April, ekspor mengalami penurunan dari 9.715.000 ton pada tahun 2024 menjadi 9.416.000 ton pada tahun 2025 atau minus 3,08 persen.
“Penurunan terbesar terjadi untuk tujuan India yaitu minus 1.055.000 ton atau minus 68 persen, ke UE minus 818.000 ton atau minus 62 persen,” beber Mukti Sarjono.
“Kemudian ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) minus 746.000 ton atau minus 62 persen, dan Pakistan minus 385.000 ton atau minus 42 persen,” tambah pria kelahiran Slawi, Provinsi Jawa Tengah (Jateng), pada 25 Juni 1958 ini.
Dia menyebutkan, nilai ekspor produk kelapa sawit bulan April mengalami penurunan dari US$ 3,283 milliar pada bulan Maret menjadi US$ 2,069 milliar atau turun sebesar 37,0 persen. Walaupun demikian, nilai ekspor Januari sampai April mengalami kenaikan dari US$ 8,307 milliar pada 2024 naik menjadi US$ 10,818 milliar pada tahun 2025 atau stok naik sekitar 30,2 persen.
Hal ini disebabkan harga rata-rata produk CPO meningkat pada bulan Januari-April tahun 2025 yakni sebesar US$ 1.183 per ton Cif Rotterdam, di mana harga tersebut lebih tinggi dari rata-rata Januari-April tahun 2024 sebesar US$ 1.001 per ton Cif Rotterdam.
Dengan stok awal bulan April sebesar 2.017 ribu ton, produksi CPO plus PKO naik menjadi 4.904 ribu ton, konsumsi dalam negeri turun menjadi 2.100 ribu ton dan ekspor turun menjadi 1.779 ribu ton, maka stok diakhir April naik menjadi 3.046 ribu ton.