Prospek Harga Sawit 2027-2028 Diproyeksi Kuat, KPBN Inacom Ungkap Pendorong Utamanya

Prospek Harga Sawit 2027-2028 Diproyeksi Kuat, KPBN Inacom Ungkap Pendorong Utamanya

Medan, mediaperkebunan.id – Prospek harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) pada periode 2027-2028 diperkirakan tetap berada pada level yang relatif kuat. Hal tersebut disampaikan oleh perwakilan PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom, Ardita Sukma Perdana, dalam konferensi Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026 yang berlangsung di Medan, Sumatera Utara, Kamis (9/7/2026).

Mengusung tema "Membaca Arah Harga Sawit 2027–2028: Tren, Peluang, dan Tantangan di Masa Depan", Ardita menjelaskan bahwa ketatnya keseimbangan antara pasokan dan permintaan global menjadi pemicu utama tren positif ini. Pertumbuhan konsumsi dunia diproyeksikan berjalan lebih cepat dibandingkan laju produksi.

Berdasarkan analisis KPBN Inacom, harga FCPO di Bursa Malaysia diproyeksikan berada pada kisaran RM4.700-5.200 per ton. Sementara itu, harga CPO KPBN diperkirakan melesat pada rentang Rp15.200-16.700 per kilogram.

Dinamika harga CPO dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya tiga faktor utama yang paling mempengaruhi pasar, yaitu gangguan pasokan (supply shock), kondisi geopolitik dan harga energi, serta kebijakan pemerintah yang mendorong permintaan (policy driven demand).

Selain ketiga faktor tersebut, Ardita membeberkan lima megatren global yang akan membentuk pasar CPO hingga 2028:

  1. Transisi Energi: Peningkatan penggunaan biodiesel secara global.
  2. Kebutuhan Pangan Dunia: Pertumbuhan konsumsi minyak nabati di India, Afrika, dan Timur Tengah.
  3. Tuntutan Keberlanjutan: Regulasi ketat seperti EUDR, ISPO, dan RSPO yang mewajibkan ketertelusuran (traceability).
  4. Dinamika Geopolitik: Implikasi terhadap biaya logistik dan harga energi dunia.
  5. Sustainable Aviation Fuel (SAF): Potensi pasar baru minyak sawit untuk bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Dari dalam negeri, Indonesia dipandang sebagai penentu arah pasar CPO dunia melalui tiga kebijakan strategis: implementasi B40 menuju B50, reformasi tata kelola ekspor, dan percepatan hilirisasi industri sawit.

"Program biodiesel B50 akan meningkatkan konsumsi CPO domestik secara signifikan sehingga mengurangi volume ekspor. Di saat yang sama, reformasi ekspor pada masa transisi 2026-2028 bertujuan meningkatkan transparansi dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global," ujar Ardita.

Di sisi pasokan, pertumbuhan produksi Indonesia dan Malaysia diperkirakan tetap terbatas. Laju produksi tertahan oleh banyaknya tanaman tua, lambatnya program replanting (peremajaan), rendahnya produktivitas kebun rakyat, serta ancaman perubahan iklim seperti El Niño dan La Niña.

Harga CPO juga dipengaruhi oleh persaingan minyak nabati dunia, seperti soybean oil dari AS dan Brasil, serta sunflower oil dari kawasan Laut Hitam.

Meski terdapat sentimen bearish dari kenaikan produksi minyak nabati lain, analisis KPBN Inacom menunjukkan skenario base case 2027-2028 berada pada kondisi moderately bullish dengan probabilitas 60-65 persen. Faktor pendukung harga (bullish) dinilai masih lebih dominan.

Menghadapi volatilitas harga yang tetap tinggi, perusahaan sawit diimbau menerapkan strategi adaptif, seperti meningkatkan produktivitas dan Oil Extraction Rate (OER), mempercepat replanting, memperkuat manajemen risiko, serta menjaga efisiensi operasional dan arus kas.