Program PSR Bikin Penasaran Mahasiswa UGM dan Universitas Zurich, Ini yang Mereka Lakukan!

Program PSR Bikin Penasaran Mahasiswa UGM dan Universitas Zurich, Ini yang Mereka Lakukan!

Pontianak, mediaperkebunan.id – Program peremajaan sawit rakyat (PSR) dicanangkan dan dimulai sejak tahun 2017 lalu oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia, H. Joko Widodo (Jokowi), ditandai dengan penanaman perdana di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Selanjutnya Presiden Jokowi juga melakukan penanaman yang kedua dalam program yang sama, Program PSR di salah satu ruas perkebunan milik rakyat yang ada di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Provinsi Sumatera Utara (Sumut) pada bulan November 2017.

Dan sejarah kontemporer kemudian mencatat bahwa Program PSR yang pendanaannya dilakukan melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang kini menjadi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) itu terus berlangsung di berbagai provinsi sentra perkebunan kelapa sawit.

Pelaksanaan program PSR ini ternyata menimbulkan rasa penasaran dari tum mahasiswa Program Studi (Prodi) Strata-1 (S-1) Jurusan Antropologi Budaya, Universitas Gajah Mada (UGM) l, serta mahasiswa dari University of Zurich, Swiss.

Adapun para mahasiswa Antropologi Budaya UGM tersebut, seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari laman resmi UGM, Kamis (5/6/2025), terdiri dari Ana Choirina Afdila dan Muhammad Fahmi Rafsanjani.

Sementara mahasiswa dari University of Zurich bernama Tobias Graf. Ketiga mahasiswa tersebut akhirnya memutuskan untuk melakukan penelitian yang berfokus pada pengungkapan relasi dan masalah sosial.

“Khususnya yang tercipta selama pelaksanaan program PSR,” ungkap Ana Choirina Afdila, salah satu mahasiswa peneliti.

Lokasi penelitian yang mereka pilih ada di Desa Pampang Dua, Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

Di Desa Pampang Dua itu, sambung Ana Choirina Afdila, mereka mengumpulkan data dan catatan lapangan atau field notes dengan menggunakan metode observasi partisipan selama 3 bulan sejak April 2025 lalu.

Ana Choirina Afdila memaparkan bahwa beberapa perkebunan kelapa sawit milik rakyat di Provinsi Kalbar tengah memasuki tahap peremajaan yang harus dilakukan secara bertahap.

“Kami melakukan riset terkait berbagai pertimbangan seperti biaya, tenaga kerja, kelangsungan produksi, dan persoalan sosial seperti akses lahan,” kata Ana Choirina Afdila.

Kata dia, penelitian yang mereka lakukan juga mengangkat topik mengenai alternatif ekonomi masyarakat selama program PSR berlangsung.

“Penelitian ini ditujukan untuk mengungkap persoalan yang berkembang di kalangan petani sehubungan dengan peremajaan kelapa sawit,” kata Ana Choirina Afdila.

“Apakah mereka (para petani – red) mau terus menanam sawit? Bagaimana cara mereka mengakses biaya peremajaan? Dan apakah ada alternatif ekonomi selain sawit yang terbuka untuk mereka selanjutnya?” demikian penegasan Ana Choirina Afdila.