PERPEKINDO Ajukan Model Peningkatan Daya Tawar Petani Kelapa

PERPEKINDO Ajukan Model Peningkatan Daya Tawar Petani Kelapa

Jakarta, mediaperkebunan.id - Kesejahteraan petani kelapa tidak cukup diselesaikan hanya dengan  menaikkan harga beli. Masalah dasarnya adalah rendahnya daya tawar petani, kurangnya transparansi harga, ketergantungan pada penjualan harian, keterbatasan pembiayaan dan belum terhubung dengan dengan nilai tambah sepanjang rantai industri. Muhaimin Tallo, Ketua Umum Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (Perpekindo) menyatakan hal ini.

Karena itu Perpekindo membuat model baru dengan tujuan meningkatkan nilai tawar petani. Petani tidak hanya menerima harga tetapi ikut menentukan nilai ekonomis hasil produksinya. Posisi lebih kuat melalui pengelompokan, transparansi, kemtraan jangka panjang, dan akses pada nilai tambah.

Terbentuk ekosistem terpadu yang menghubungkan petani, koperasi, pembiayaan, industri, data dan kecerdasan buatan.

Kondisi sekarang adalah petani berjalan sendiri-sendiri, hanya menerima harga, menjual sewaktu-waktu, harga kurang transparan, terpaksa menjual saat butuh uang, hanya menjual bahan mentah, data transaksi terbatas.

Dengan model Perpekindo maka diharapkan petani terorganisasi melalui kelompok/koperasi, ikut menentukan dan menegoisasikan harga, memilki kemitraan pembelian jangka panjang, harga berdasarkan acuan pasar dan kualitas, memiliki akses pembiayaan sesuai, ikut menikmati nilai tambah sepanjang rantai, setiap transaksi tercatat dan dapat dianalisis.

Langkah-langkah memperkuat petani adalah : petani berkelompok sehingga volume, kualitas dan kebutuhan dihimpun bersama untuk kekuatan lebih besar; produksi dikonsolidasikan, koperasi menggabungkan hasil menjadi pasokan besar, teratur dan memenuhi industri; harga harus transparan dengan acuan harga pasar, permintaan-pasokan, kualitas, biaya, nilai produk, kurs, pasar dunia.

Harga dikaitkan dengan nilai pasar, ada hubungan jelas antara harga bahan baku dengan nilai ekonomi produk olahan; ada mekanisme perlindungan saat harga jatuh dihitung berdasarkan kondisi nyata; ada insentif bagi petani dengan harga yang lebih tinggi untuk kelapa berkualitas sehingga terpacu menjaganya.

Kemitraan petani dengan pabrik selama 3-5 tahun sehingga ada kepastian dalam jangka panjang dengan harga mengikuti rumus terkait kondisi pasar; pembiaayaan tepat dengan kontrak, persediaan, pesanan, atau tagihan untuk mengurangi penjualan terpaksa; mitra pengumpul transparan , pedagang pengumpul tetap dibutuhkan dengan biaya dan keuntungan harus jelas.

Ikut menikmati nilai tambah berupa saham, bagi hasil, bonus kinerja, deviden, atau bentuk pembagian nilai lainnya; transaksi digital dengan identitas petani, kebun, jumlah, kualitas harga, pembayaran dicatat denga terstruktur; AI membantu keputusan dengan perkiraan produksi, harga, permintaan, deteksi harga tidak wajar, rekomendasi.

“Contoh harga yang transparan misalnya harga acuan Rp4000/kg, biaya pengumpulan Rp150/kg , biaya pengangkutan Rp200/kg aka harga bersih yang diterima petani Rp3.650/kg,” kata Muhaimin.

Model ini tidak menempatkan pedagang pengumpul sebagai musuh petani.  Mereka memiliki fungsi penting terutama di wilayah terpencil mengumpulkan, mengangkut, memberi modal dan mengambil risiko. Diperbaiki transparansi transaksi dan pembagian biaya.

Pedagang pengumpul dapat menjadi mitra pengumpulan dan logistik resmi dan biaya jasa yang jelas.Petani mengetahui harga acuan, biaya jasa dan uang bersih yang diterima. Koperasi menjadi wadah penguatan daya tawar dan pengelolaan data.

Transformasi yang dituju adalah merubah petani dari penerima harga jadi pihak yang menentukan dan menegoisaskan harga; petani individual jadi produsen yang terorganisasi; pemasok bahan mentan menjadi mitra dalam rantai nila; penjual harian menjadi mitra industri jangka panjang; tidak memiliki data cukup menjadi organisasi petani berbasis data.

Inti model adalah membangun ekosistem kelapa dengan harga ditentukan transparan berdasarkan nilai pasar; petani punya daya tawar lewat organisasi, industri peroleh pasokan pasti dan berkualitas, peningkatan nilai sepanjang rantai dibagikan secara adil.