Makassar, mediaperkebunan.id – Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian resmi membuka Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 yang bertujuan meningkatkan kompetensi petani agar mampu mengelola kebun secara produktif, efisien, dan berkelanjutan.
Khusus di Sulawesi Selatan, pelatihan dilaksanakan di Kabupaten Luwu Timur, Luwu Utara, dan Wajo dengan total 540 peserta. Rinciannya, Luwu Timur sebanyak 149 peserta (5 kelas), Luwu Utara 92 peserta (2 kelas), dan Kabupaten Wajo sebanyak 299 peserta (10 kelas).

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Drs. Andi Pamereni, M.Si., mengatakan sektor pertanian dan perkebunan merupakan salah satu pilar pembangunan ekonomi daerah.
Ia menjelaskan bahwa sekitar 13 persen wilayah potensial perkebunan di Kabupaten Wajo diperuntukkan bagi komoditas kelapa sawit, dengan potensi pengembangan mencapai sekitar 35 ribu hektare. Namun hingga saat ini, lahan yang telah ditanami baru sekitar 8.000 hektare.
Menurutnya, pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas petani sawit sehingga berdampak pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. "Kami mengharapkan dengan kegiatan ini peningkatan SDM, khususnya petani sawit di Kabupaten Wajo, bisa lebih meningkat dan berkontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat," ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa salah satu persoalan utama kebun sawit rakyat di Wajo adalah penggunaan bibit yang belum bersertifikat. "Dari lahan sawit swadaya masyarakat yang ada di Kabupaten Wajo, banyak yang belum mengetahui budidaya yang baik. Bibit yang ditanam itu belum tentu bersertifikat," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Hj. Nurul Fitriany Alimuddin, S.P., mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Wajo yang terus mendorong peningkatan kapasitas petani sawit.
"Ini menjadi wujud dari kegigihan upaya Dinas Kabupaten Wajo agar petani bisa melakukan pelatihan hari ini. Wujud perhatian Kabupaten Wajo untuk meningkatkan kualitas petani," ujarnya.
Nurul juga meminta agar penggunaan bibit di kebun peserta didata sebagai dasar penyusunan program bantuan, termasuk Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan bantuan sarana prasarana.
"Mohon didata bibit yang digunakan, akan menjadi data bagi Kepala Dinas untuk mendapat bantuan PSR dan sarana prasarana. Hampir semua masalah sawit di Sulawesi Selatan disebabkan oleh penggunaan bibit yang belum bersertifikat. Ini menjadi tanggung jawab bersama untuk kesejahteraan petani sawit Kabupaten Wajo," tegasnya.
Ia berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola kebun secara lebih baik. "Saya harap para peserta kembali ke kebun dengan pengetahuan yang lebih meningkat, bagaimana mengelola kebun, meyakini bahwa penggunaan bibit unggul itu perlu. Tidak ada lagi bahasa bahwa PKS tidak mampu membeli TBS dengan harga yang sesuai, tetapi semua TBS laku dengan harga yang sesuai," katanya.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Dinas Lawu Utara, Pasalongan, S.P., M.Si. menyampaikan bahwa salah satu kendala yang dialami oleh petani sawit di Sulawesi Selatan adalah harga TBS yang sangat rendah. “Di Kalimantan dan Sumatera harga TBS mendekati Rp. 4000 tapi kami masih di Rp. 2600 tertinggi. Kualitas TBS yang kami hasilkan bagus dan tanahnya subur, sehingga teknis budidaya menjadi PR,” ungkapnya.

Pasalongan mengaku dari pemerintah daerah Lawu Utara sudah menyuarakan mengenai hal ini tetapi belum juga ada tindak lanjut. “Bupati dan perwakilan DPRD dari Lawu Utara sudah turun menyuarakan harga sawit yang rendah, tapi belum ada tanda-tanda menuju kebaikan. Mudah-mudahan akhir tahun isa membaik,” pungkasnya.
Melalui pelatihan ini, diharapkan petani sawit di Kabupaten Wajo semakin memahami teknik budidaya yang sesuai Good Agricultural Practices, mampu meningkatkan produktivitas kebun, serta memperkuat daya saing perkebunan sawit rakyat secara berkelanjutan.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Direktur AKPY Dr. Idum Satia Santi mengatakan bahwa keberhasilan industri sawit tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, teknologi, maupun investasi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya.
"Kami percaya bahwa kemajuan industri sawit Indonesia tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, teknologi maupun investasi, tetapi juga ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya," katanya.
Idum menjelaskan, melalui dukungan BPDP, pada tahun 2026 AKPY mendapat amanah melaksanakan Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit di tujuh provinsi, yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan yang mencakup 17 kabupaten.
Program tersebut meliputi Pelatihan Teknik Budidaya Kelapa Sawit, Teknik Panen dan Pascapanen, Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), Pengelolaan Sarana dan Prasarana Perkebunan Kelapa Sawit, serta Teknik Pemetaan Kebun.
"Secara keseluruhan, AKPY mendapat kepercayaan untuk melatih sebanyak 2.619 peserta dari berbagai sentra perkebunan sawit Indonesia. Bagi kami, angka tersebut bukan sekadar jumlah peserta. Di balik angka tersebut terdapat ribuan keluarga petani, ribuan hektar kebun yang dikelola, dan harapan besar agar sawit rakyat Indonesia semakin produktif, semakin berkelanjutan, dan semakin sejahtera," jelasnya.
Menurut Idum, saat ini industri sawit menghadapi berbagai tantangan mulai dari rendahnya produktivitas kebun rakyat, tanaman tua yang membutuhkan peremajaan, pengelolaan pemupukan yang belum optimal, hingga tuntutan dunia terhadap praktik perkebunan berkelanjutan.
Selain itu, perubahan iklim, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), serta perkembangan teknologi juga menuntut petani untuk terus belajar dan beradaptasi.
"Keberhasilan sawit Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk yang digunakan. Tetapi juga ditentukan oleh kualitas manusianya. Ditentukan oleh kualitas petaninya," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa investasi terbaik bagi petani bukan hanya membeli pupuk maupun alat panen, melainkan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. "Ilmu yang kita peroleh hari ini akan terus memberikan manfaat bagi kebun dan keluarga kita di masa yang akan datang," katanya.
Pada pelatihan budidaya kali ini, peserta akan mempelajari berbagai aspek Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari penggunaan benih unggul, pengelolaan tanah, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyerbukan.
Idum mengingatkan pentingnya penggunaan bibit bersertifikat sebagai fondasi utama produktivitas kebun. "Mulai dari pembelian bibit jangan sampai online yang murah tapi ternyata bibitnya palsu. Kita akan sedih selama 25 tahun. Betapa pentingnya penggunaan bibit unggul yang bersertifikasi," ujarnya.
Selain itu, peserta juga akan mendapatkan materi mengenai pengelolaan tanah yang sehat melalui pemanfaatan pupuk organik berbahan limbah sawi sampai pada serangga penyerbuk (polinasi) yang juga memiliki pengaruh penting secara langsung terhadap pembentukan tandan buah segar (TBS). "Kita akan diajari mengelola tanah yang sehat agar tetap subur, bagaimana menyikapi kelangkaan pupuk atau memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar kita dari kelapa sawit sendiri yang bisa diolah menjadi pupuk organik," jelasnya.