Jakarta, mediaperkebunan.id - WWF-Indonesia dan the Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC, Dewam Negara-Negara Penghasil Minyak Sawit) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untiuk kemitraan strategis memperkuat sistim komoditas perkebunan berkelanjutan (sustainable) dan meningkatkan pengenalannya pada pasar global.
Dengan tagline o Green Partnership",(kemitraan hijau), kerjasama bertujuan untuk memperkuat sistem berkelanjutan untuk komoditas perkebunan baik pada tingkat nasional maupun global. Fokus pada transparansi rantai pasok, sertifikasi, produksi yang bertanggung jawab, konservasi keanekaragaman hayati, dan inklusi petani swadaya pada keberlanjutan dan rantai pasok yang bertanggung jawab.
CPOPC akan mengadvokasi praktek keberlanjutan dan tata kelola negara-negara anggotanya. WWF Indonesia berkontribusi pada keahlian dan pengetahuan untuk mendukung pembangunan dan memperkuat transparansi rantai pasok, sertifikasi dan produksi yang bertanggung jawab.
Komoditi berkelanjutan merupakan prinsip utama pada konservasi keanekaragaman hayati, terutama pada kawasa lindung, lanskap produksi berkelanjutan, praktek produksi yang memasukan faktor lingkungan dan sosial, untuk menciptakan dampak positif pada ekonomi. Contohnya sertifikasi ISPO, WWF dan CPOPC memandang untuk diperkuat dengan kerangka kerja keberlanjutan global sehingga meningkatkan keberterimaan dan daya saing.
Aditya Bayunanda, CEO of WWF-Indonesia, menyatakan pembuatan kredibiltas komoditas berkelanjutan memerlukan kerjasama diantara negara-negara produsen, termasuk pelaku usaha, lembaga sertifikasi, masyarakat sipil, petani swaaya dan pasar global.
“Bagi kami, kredibilitas komoditas perkebunan berkelanjutan bukan hanya isu rantai pasok, tetapi upaya menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Kerjasama ini sangat penting untuk meningkatkan keberlanjutan komoditas baik di negara-negara konsumen maupun produsen, dalam hubunganya dengan transparansi rantai pasok dan mendukung petani,” katanya.
Kredibilitas komoditas perkebunan dapat direalisasikan dengan memastikan diproduksi tanpa merambah hutan, keanekaragaman hayati, hak dan kehidupan petani swadaya. “Masih ada kesenjangan antara kapasitas produksi bersertifikat dan permintaan pasar global. Kerjasama ini akan meningkatkan transparansi rantai pasok komoditas perkebunan berkelanjutan di pasar global, sehingga sertifkat ISPO dan MSPO dapat diterima pasar global,” kata Aditya lagi.
Izzana Salleh, Secretary-General of CPOPC, menyatakan negara-negara produsen minyak sawit dan pemangku kepentingan industri sudah berinvestasi dan mendemonstrasikan kemajuan yang signifikan dalam memperkat praktek berkelanjutan, melindungi HAM dan meningkatkan pendapatan sepanjang rantai pasok.
“Skema sertifikasi nasional yaitu ISPO dan MSPO menunjukkan komitmen kuat negara-negara produsen untuk keberlanjutan yang lebih maju. Masih perlu banyak perubahan terutama memastikan petani punya sumber daya, kapasitas dan kesempatan untuk ikut serta secara penuh dalam rantai pasok. Itulah sebabnya kerjasama ini sangat penting. Dengan kombinasi keahlian, pengalaman dan jaringan, bisa merealisasikan komitmen pada aksi yang bermakna dan inklusif,” katanya.