PASPI Ingatkan Ancaman Ganoderma: Tanpa Kebijakan Nasional, Sawit Indonesia Terancam Habis pada 2050

PASPI Ingatkan Ancaman Ganoderma: Tanpa Kebijakan Nasional, Sawit Indonesia Terancam Habis pada 2050

Jakarta, mediaperkebunan.id – Penyakit ganoderma pada kelapa sawit bukan lagi sekadar isu teknis budidaya, melainkan ancaman yang berdampak besar bagi keberlanjutan industri sawit nasional. Dr. Ir. Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) menegaskan bahwa tanpa penanganan serius dan terkoordinasi, Indonesia berisiko akan kehilangan sawit dalam beberapa dekade ke depan.

“Ini masalah besar. Kalau ganoderma tidak kita tanggulangi, 2050 bisa habis sawit kita. Jadi jangan main-main. Ini bukan sekadar penyakit tanaman biasa,” tegas Tungkot. 

Ia mengibaratkan ganoderma sebagai silent killer bukan hanya menyerang tanaman, tetapi juga mengindikasikan kerusakan kesehatan tanah yang berdampak langsung pada produktivitas jangka panjang.

Menurutnya, serangan ganoderma sudah terjadi sejak generasi pertama tanaman, bahkan saat ini sudah terdeteksi di pembibitan. Hal ini mematahkan anggapan lama bahwa ganoderma baru muncul pada tanaman generasi kedua.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa ganoderma bukan lagi isu lama atau mitos. Ditambah lagi, ada indikasi kuat bahwa perubahan iklim ikut memperparah penyebarannya. Artinya, persoalan ini perlu dikaji dan ditangani secara menyeluruh,” jelasnya.

Tungkot menilai Indonesia saat ini belum memiliki kebijakan nasional khusus untuk pengendalian ganoderma. Padahal, penyakit strategis lain seperti flu burung atau organisme pengganggu tanaman pangan telah memiliki protokol biosekuriti yang jelas. 

“Kita belum punya protokol biosekuriti ganoderma. Belum jelas siapa berbuat apa di fase pencegahan, siapa di fase pemberantasan. Ini akan melibatkan banyak pihak baik dari pemerintah pusat dan daerah, karantina di pelabuhan, hingga dunia usaha. Semua ini perlu dikoordinasikan agar tidak tumpang tindih dan informasinya terbuka,” ujarnya.

PASPI mendorong agar kebijakan tersebut dituangkan dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) karena menyangkut lintas kementerian dan pemerintah daerah sehingga tidak cukup hanya diatur melalui Permentan. Peraturan teknis turunan nantinya dapat menyusul untuk mengatur aspek-aspek spesifik di lapangan.

Selain kebijakan, Tungkot juga menekankan pentingnya program jangka panjang untuk menghasilkan varietas kelapa sawit yang benar-benar toleran terhadap ganoderma. PASPI berharap dengan kebijakan nasional yang kuat dan dukungan riset berkelanjutan, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk mengendalikan ganoderma dan menjaga keberlanjutan industri sawit sebagai salah satu sektor strategis perekonomian nasional. 

“Bukan sekadar klaim atau promosi, tapi varietas yang secara ilmiah terbukti tahan. Para ahli pemuliaan menyatakan ini bisa dicapai dalam lima tahun dengan dukungan sumber daya yang memadai. Ini tanda bahwa harapan itu ada,” pungkasnya.

Sebagai bagian dari upaya kolektif menghadapi ancaman penyakit strategis di perkebunan, para pemangku kepentingan mulai dari peneliti, praktisi, perusahaan, regulator, hingga petani diundang untuk berpartisipasi dalam 3rd International Symposium Ganoderma (ISGANO) 2026 yang akan digelar pada 10–12 Februari 2026 di Hotel Adimulia Medan. Konferensi internasional ini mengangkat topik utama Ganoderma, Fusarium oxysporum, Elaeidobius kamerunicus, serta hama dan penyakit tanaman, dengan menghadirkan narasumber handal dari dalam dan luar negeri.

Selain sesi konferensi, 3rd ISGANO 2026 juga diramaikan pameran inovasi produk pengendalian ganoderma serta field trip ke kebun terdampak untuk mengamati langsung serangan Ganoderma dan praktik pengendalian di lapangan.

Informasi lebih lanjut dapat mengunjungi website isgano.com atau menghubungi contact person berikut : Ika (0812-8718-2301).