Pakar Biomedis IPB University Temukan Fakta Mengejutkan Soal Air Kelapa

Pakar Biomedis IPB University Temukan Fakta Mengejutkan Soal Air Kelapa

Bogor, mediaperkebunan.id – Dr Rini Madyastuti Purwono yang merupakan pakar biomedis dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University berhasil menemukan sebuah fakta dari manfaat yang menarik dari air kelapa dan berpotensi mengejutkan dunia kesehatan.

Menurut Dr Rini Madyastuti Purwono, seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari laman resmi IPB University, Minggu (8/6/2025), air kelapa punya manfaat yang sangat baik bagi kesehatan manusia yang menderita gangguan Bayu ginjal. Dr Rini Madyastuti Purwono menguraikan bahwa batu ginjal merupakan salah satu gangguan paling umum dalam sistem saluran kemih, baik pada manusia maupun hewan kesayangan.

Diriya mengungkapkan, batu ginjal menempati urutan ketiga dalam masalah sistem urinari, dan kasusnya cenderung berulang dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun setelah kejadian pertama.

“Batu ginjal terbentuk dari akumulasi massa kristal dalam kondisi jenuh yang berlangsung lama di sistem urinari,” beber Dr Rini Madyastuti Purwono menerangkan.

“Kristal ini dapat mengandung berbagai senyawa organik maupun anorganik seperti kalsium, magnesium, fosfat, dan sel-sel yang luruh,” ucap pakar yang akrab disapa Dr Rini tersebut.

Menurutnya, keberulangan kasus ini menjadikan manajemen pencegahan sebagai langkah yang harus diprioritaskan dalam penyembuhan gangguan batu ginjal. Dr Rini bilang, ukuran massa batu ginjal yang besar dapat mengakibatkan nyeri hebat, bahkan hingga pingsan akibat obstruksi tau terjadi penyumbatan di saluran urin.

Kata dia, proses pembentukan batu ginjal atau urolithiasis sangat kompleks yang melibatkan ketidakseimbangan antara agen promotor seperti hiperkalsiuria, hiperfosfatemia, dan hipomagnesemia, serta faktor pH urin yang memengaruhi jenis batuan yang terbentuk.

Suasana asam ini, sambung Dr Rini, cenderung membentuk batu kalsium oksalat, sementara itu suasana basa justru memicu terbentuknya batu jenis struvite, dan ini biasanya terkait dengan infeksi. Dalam penelitian terbaru, ujar Dr Rini Madyastuti Purwono, fakta air kelapa terbukti memiliki potensi besar sebagai agen alami pencegahan pembentukan batu ginjal.

“Air kelapa mengandung magnesium, fosfat, kalium, sitrat, dan antioksidan yang berperan aktif dalam menghambat proses nukleasi hingga agregasi kristal penyusun batu ginjal,” tutur Dr Rini Madyastuti Purwono lebih lanjut.

“Magnesium dalam air kelapa mampu bersaing dengan kalsium untuk membentuk magnesium oksalat yang lebih mudah larut. Fosfat juga membantu membentuk senyawa yang larut, mencegah kristal membesar,” terang Dr Rini.

Menurut dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University ini, kandungan kalium dan sitrat dalam air kelapa dapat membantu mengubah suasana urin dari asam menjadi basa, yang menguntungkan dalam pencegahan batu ginjal tipe kalsium oksalat. Selain itu, dia melihat bahwa efek diuretik dari air kelapa mampu meningkatkan volume urin, sehingga hal itu akan mengencerkan konsentrasi mineral pembentuk batu.

“Dalam uji praklinik yang dilakukan menggunakan hewan coba, pemberian air kelapa secara ad libitum menunjukkan hasil signifikan,” ungkap Dr Rini Madyastuti Purwono kembali.

Menurut Dr Rini, parameter seperti kadar Blood Urea Nitrogen (BUN) dan kreatinin menurun, kerusakan nefron lebih rendah, serta tidak ditemukan endapan kristal dalam tubulus ginjal.

“Ini menjadi bukti kuat bahwa air kelapa dapat mencegah kekambuhan batu ginjal, terutama bila dikonsumsi rutin satu hingga dua cangkir per hari,” kata Dr Rini Madyastuti Purwono.

Selain air kelapa, rebusan daun alpukat juga menunjukkan efek serupa. Ekstraknya bekerja sebagai diuretik dan antioksidan yang membantu mencegah agregasi kristal serta memperbaiki jaringan ginjal yang mengalami lesi.

Meski demikian, Dr Rini mengingatkan bahwa manajemen alami hanya akan efektif untuk pencegahan atau apabila batu ginjal masih berukuran kecil.

“Untuk batu ginjal berukuran besar, penanganan tetap harus melalui prosedur medis seperti operasi atau terapi Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) di rumah sakit,” tegas Dr Rini Madyastuti Purwono.