Medan, mediaperkebunan.id - Keberhasilan pengelolaan pabrik kelapa sawit (PKS) tidak lagi hanya diukur dari tingginya angka Oil Extraction Rate (OER) maupun Kernel Extraction Rate (KER). Lebih dari itu, perusahaan dituntut untuk membangun trading mindset, pola pikir bisnis yang berorientasi pada penciptaan keuntungan maksimal (maximum profit).
Hal tersebut ditegaskan oleh Praktisi Persatuan Praktisi Kelapa Sawit Indonesia (P3PI), Bonar Saragih, dalam konferensi Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026 yang berlangsung di Medan, Sumatera Utara, Kamis (9/7/2026).
Dalam paparan bertema "Dapatkan Cuan Besar dengan Trading Mindset Dalam Pengelolaan Pabrik Kelapa Sawit", Bonar menjelaskan bahwa target utama pabrik bukanlah sekadar mengejar rendemen tinggi, melainkan memperoleh absolute margin yang merupakan kombinasi antara persentase keuntungan dan volume produksi.
"Setiap keputusan operasional harus dipandang dari sisi bisnis, bukan hanya aspek teknis," ujar Bonar.
Pada aspek bahan baku (raw material), Bonar menyebutkan bahwa sekitar 80 persen keberhasilan profit PKS ditentukan oleh akurasi proses grading Tandan Buah Segar (TBS). Menurutnya, harga pembelian TBS idealnya didasarkan pada kandungan minyak (oil content), bukan semata-mata volume buah.
Untuk menjaga objektivitas dan akurasi, ia menyarankan penerapan rotasi petugas grading serta pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI).
"Pabrik yang membeli TBS dari pihak ketiga harus memiliki pola pikir sebagai trader, bukan pemilik kebun, sehingga fokus utama adalah memperoleh margin terbaik dari setiap transaksi," tegasnya.
Ia memberikan simulasi bahwa OER tinggi belum tentu menghasilkan laba lebih besar. Pabrik dengan OER lebih rendah namun mampu mengolah volume TBS lebih besar serta membeli bahan baku dengan harga kompetitif justru berpotensi mengantongi margin lebih tinggi. Oleh karena itu, evaluasi PKS wajib mempertimbangkan hubungan antara kualitas bahan baku, volume, harga beli, dan total keuntungan.
Dari sisi permesinan (machinery), Bonar menekankan pentingnya desain peralatan yang berorientasi pada minimisasi oil loss, didukung layanan purna jual yang andal. Strategi pemeliharaan idealnya menerapkan komposisi 80 persen preventive maintenance dan 20 persen breakdown maintenance.
Beberapa langkah investasi terbukti mampu mendongkrak keuntungan dengan payback period yang singkat, seperti:
- Pemanfaatan boiler efisien yang memungkinkan seluruh cangkang dijual sebagai produk bernilai ekonomi.
- Penerapan teknologi AI untuk grading buah.
- Modifikasi sistem pemisahan minyak untuk menekan oil loss pada serat, tandan kosong, dan limbah cair.
Untuk menjalankan trading mindset, kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) harus ditingkatkan secara berkesinambungan melalui merit system, pelatihan rutin, budaya continuous improvement, serta skema remunerasi yang kompetitif dan berbasis kinerja.
Di sisi pengendalian (control system), implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP), validasi laporan, dan audit berkala menjadi instrumen krusial.
Bonar mengungkapkan data audit terhadap sekitar 190 PKS yang menunjukkan fakta mengejutkan:
- Sekitar 90 persen PKS mengalami oil loss di atas 2 persen.
- Lebih dari 50 persen PKS mencatatkan kernel loss di atas standar.
"Sebagai gambaran, PKS berkapasitas 700 ton TBS per hari dengan oil loss 2 persen padahal standar hanya 1,5 persen, berpotensi kehilangan pendapatan hingga Rp49 juta per hari atau setara Rp15 miliar per tahun," ungkapnya.
Bonar menyimpulkan terdapat empat pilar terpadu yang menentukan lonjakan profitabilitas PKS yaitu kualitas bahan baku (raw material), keandalan mesin (machinery), kualitas sumber daya manusia (talent), dan sistem pengendalian yang ketat (control system).
Keempat pilar ini harus diintegrasikan dengan trading mindset agar seluruh keputusan operasional berdampak langsung pada nilai tambah dan daya saing PKS di industri kelapa sawit nasional.