Mendorong Transformasi Berkelanjutan Menuju PKS Unggul Tingkat Global

Mendorong Transformasi Berkelanjutan Menuju PKS Unggul Tingkat Global

Bandung, mediaperkebunan.id – Industri kelapa sawit Indonesia tengah bergerak menuju babak baru. Tak hanya sekadar bertahan dalam persaingan global, namun didorong untuk menjadi benchmark dunia dalam efisiensi, kebersihan, dan keberlanjutan. Inilah semangat yang digaungkan oleh Benny Lingga, Head of Mill Performance Management PT Triputra Agro Persada Tbk., dalam sesi pemaparan bertajuk “Driving Continuous Improvement for Palm Oil Mill Excellence” pada 3rd TPOMI 2025.

Dengan mengusung strategi “Excellence Strategy” yang berbasis perbaikan berkelanjutan, PT Triputra Agro Persada (TAPG) berkomitmen mendorong peningkatan performa pabrik kelapa sawit (PKS) secara menyeluruh. Transformasi PKS ini bukan sekadar peningkatan teknis, tetapi juga perubahan budaya kerja dari hulu hingga hilir.

“Transformasi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga budaya. Awalnya dipaksa, lalu bisa, kemudian terbiasa hingga menjadi budaya,” tegas Benny.

Langkah pertama dalam transformasi PKS adalah penetapan indikator kinerja utama (Key Performance Indicators/KPI) yang spesifik dan terukur. Menurut Benny, indikator seperti Mean Time Between Failure (MTB), Oil Extraction Rate (OER), Kernel Extraction Rate (KER), tingkat losses, serta biaya per charging menjadi fondasi evaluasi kinerja.

Selain itu, aspek keselamatan kerja (safety) dan frekuensi kerusakan mesin (breakdown) juga menjadi perhatian utama.

Advancing our excellence strategy keeps the business moving forward and growing stronger,” ungkap Benny dalam presentasinya.

Evaluasi menyeluruh terhadap semua PKS TAPG menghasilkan lima program strategis utama. Empat program sudah dijalankan secara konsisten, dan satu menjadi flagship project transformasi berkelanjutan.

Sistem grading TBS yang awalnya dilakukan secara manual di lantai dolling room, kini dipindahkan ke Tempat Bongkar Hasil (TBH). Sistem ini dikerjakan langsung oleh tim pabrik tanpa alat berat dan waktu kerja terbatas. Data kualitas buah langsung dikirim ke sistem dan dapat diakses oleh asisten kebun.

“Sistem ini terbukti meningkatkan tingkat kematangan buah menjadi 96–97% dengan data yang real-time dan transparan,” jelas Benny.

Salah satu temuan penting adalah kerugian minyak dari brondolan yang terlindas wheel loader saat pengangkutan TBS yang ditumpuk di lantai. Solusinya adalah menata ulang jadwal masuk TBS agar tidak menumpuk dan meminimalisir kebutuhan wheel loader. Ini menghasilkan penghematan biaya dan peningkatan efisiensi produksi.

Penataan ulang sistem pembuangan jangkos dilakukan dengan membangun bin yang terintegrasi dengan area top loading. Jangkos langsung diangkut oleh tim estate dengan hanya 3 sopir untuk satu PKS. Sistem ini dinilai hemat tenaga, hemat biaya, dan mengurangi tekanan pada manajemen operasional.

Implementasi 5R Activity

Penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) menjadi dasar budaya kerja baru. Target jangka menengahnya sangat ambisius: menjadikan pabrik setara pusat perbelanjaan dalam hal kebersihan dan keteraturan.

“Kami menargetkan agar pekerja bisa berguling di lantai dengan seragam putih tanpa terkena noda. Artinya, tidak boleh ada kebocoran minyak maupun uap,” kata Benny.

Transformasi PKS dengan Budaya dan Sistem Kerja (Project DANTOTSU)

Program unggulan ini diadopsi dari filosofi Jepang, DANTOTSU (断トツ), yang berarti Best of the Best. Pendekatannya adalah dengan membentuk tim terbaik dari masing-masing PKS untuk melakukan perbaikan total di satu stasiun pilot project. Setelah sukses, mereka kembali ke unit asal sebagai change agent.

“Tujuannya bukan hanya memperbaiki satu titik, tapi menjadikan improvement sebagai ‘pandemi positif’ yang menular ke seluruh unit,” ucap Benny optimis.

Filosofi DANTOTSU & YOKOTEN

Transformasi di TAPG bukan hanya sistemik, tapi juga filosofis. Dua konsep manajemen Jepang menjadi panduan: DANTOTSU, yang bermakna menjadi yang terbaik, dan YOKOTEN (横展), yang berarti menyebarkan praktik terbaik secara horizontal ke seluruh unit.

Dengan filosofi ini, tidak ada lagi ruang untuk lingkungan kerja yang kotor, sistem yang tidak standar, atau pabrik yang sulit dikelola. Sebaliknya, TAPG mengupayakan lingkungan kerja yang bersih, terstruktur, ramah pengunjung, dan mudah dikelola oleh semua lapisan tim.

Menariknya, dalam strategi transformasi TAPG, kompetisi antar perusahaan bukan menjadi tujuan akhir. Benny menekankan pentingnya kolaborasi untuk meningkatkan mutu industri sawit secara nasional.

“Kita tidak saling bersaing, tapi saling berbagi agar industri sawit Indonesia unggul di dunia,” tuturnya.