JAGA KESINAMBUNGAN, DIRJENBUN CARI MODEL BISNIS NURSERY MODERN KEDEPAN

JAGA KESINAMBUNGAN, DIRJENBUN CARI MODEL BISNIS NURSERY MODERN KEDEPAN

Batang, Mediaperkebunan.id

Nursery modern kelapa yang dibangun Ditjenbun bekerjasama dengan Pemprov Jateng di Kabupaten Batang akan dijadikan sentra penyedia benih unggul kelapa untuk memenuhi kebutuhan Jawa. Jika ada kelebihan maka bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan Sumatera terutama bagian Selatan.

Dalam kunjungan monitoring dan evaluasi, Dirjen Perkebunan Andi Nur Alam Syah berharap nursery ini akan terus berjalan meskipun proyeknya sudah selesai. Nursery modern ini dibangun dilahan milik Pemprov Jateng. Dari areal 150 ha lahan Pemprov Jateng 10 ha digunakan untuk nursery modern dan fasilitas pendukungnya.

Dibangun dengan APBN Ditjenbun dan dikelola langsung selama 5 tahun untuk memenuhi Gerakan Sebar Kelapa Genjah 1 juta batang dan merupakan bagian dari Program BUN 500 yaitu distribusi benih perkebunan unggul 5 juta batang.

Setelah lima tahun maka nursery modern ini diserahkan pada Pemprov Jateng. Andi berharap nursery ini terus akan menghasilkan benih kelapa unggul meskipun tidak lagi dikelola Ditjenbun. Ditjenbun akan berperan sebagai fasilitator saja.

“Benih adalah bisnis yang besar. Untuk kesinambungan nursery modern masih dicari model bisnis yang tepat, apakah menjadi Badan Layanan Umum atau dikerjasamakan dengan pihak swasta dengan berbagai hitungannya sehingga bisa menjadi Pendapatan Negara Bukan Pajak,” kata Andi Nur.

Nursery modern kelapa ini akan menjadi percontohan bagi pengembangan nursery modern di daerah lain. Untuk kelapa mungkin akan dibangun 2 nursery modern lagi sehingga seluruh kebutuhan benih kelapa bisa dipenuhi dari daerah terdekat. Demikian juga untuk komoditas prioritas lain akan dibangun nursery modern serupa.

Dengan pasokan benih unggul dari daerah terdekat maka efisiensi tercapai sebab biaya angkut lebih rendah. Mutu benih juga lebih terjaga karena penangkutan tidak terlalu lama.

Salah satu dasar pembangunan nursery modern ini adalah pengalaman dari Kejar di Solo Raya yang mendapat alokasi 200.000 batang benih kelapa. Solo Raya sekitar 60-70% lahan pertanian merupakan pekarangan. Mereka tidak menanam kelapa karena tidak bisa mengakses benih kelapa unggul. Nursery modern adalah upaya mempermudah masyarakat mengakses benih kelapa unggul.

Benih kelapa unggul yang sudah dilepas pasti bernilai ekonomi tinggi. Masalahnya masyarakat susah mengakses benih ini karena terbatasnya produksi benih akibat keterbatasan pohon induk. Karena itu nursery modern ini juga akan dipadukan dengan pembangunan kebun induk sehingga tidak perlu lagi mengambil dari daerah lain.

Saat ini nursery modern ini untuk Kelapa Genjah Kuning Bali masih mengambil benih dari pohon induk di Bali. Sedang Kelapa Genjah Kuning Nias masih menunggu benih yang diambil dari pohon induk di Sulawesi Utara.

Kedepan nursery modern ini juga akan mengembangkan Kelapa Genjah Entog dari Kebumen dan Kelapa Genjah Pandan Wangi dari Sumut. Dua jenis kelapa yang air kelapanya manis sekali ini permintaanya sangat tinggi tetapi belum bisa dipenuhi. Masyarakat juga masih kesulitan mengakses benihnya karena produksinya masih sedikit.

Dengan pembangunan kebun induk dan nursery modern secara terpadu maka efisiensi tercapai dan benih unggul bisa dijangkau masyarakat dengan mudah.

Karasteristik kelapa yang sedang dan akan dikembangkan di nursery Batang ini adalah :

Varietas Kelapa Genjah Kuning Bali sesuai ditanam di dataran rendah sampai ketinggian < 500 meter dpl, dengan curah hujan 1500 – 2500 mm/tahun. Varietas Kelapa GKB dilepas sebagai kelapa unggul Nasional tahun 2006. Kelapa GKB mulai berbuah pada umur 40 bulan. Bentuk buah bulat, bentuk buah tanpa sabut bulat, ukuran buah kecil, warna kulit buah kuning. Produksi tandan rata-rata 12-14 buah per pohon, jumlah buah 9-12 butir per tandan atau sebanyak + 60-110 butir/pohon/tahun. Kadar minyak 61,80%, agak peka terhadap penyakit Phytopthora sp.

Kelapa Dalam Bali daerah pengembangan pada lahan kering iklim basah dengan curah hujan <1500 mm/tahun, agak toleran terhadap kemarau panjang. Varietas ini dilepas tahun 2004 sebagai varietas unggul nasional. Kelapa Dalam Bali mulai berbuah umur 5 tahun dan mulai panen umur 6 tahun. Ukuran buah besar, bentuk buah bulat telur, bentuk buah tanpa sabut bulat dasar rata, dan warna kulit buah dominan hijau. Jumlah buah/tandan 6 butir dengan 12-13 tandan buah/tahun sehingga jumlah buah/pohon/tahun 75 butir. Produksi kopra 2,8 ton/ha/tahun dengan kadar minyak 69,28, dan agak tahan terhadap penyakit Phytopthora palmivora.

Kelapa Genjah Kuning Nias memiliki keunggulan antara lain potensi dalam satu pohon pertahun dapat mencapai 60-120 buah, berat daging buah dapat mencapai 159 gram dengan kadar minyak mencapai 62%. Tanaman kelapa genjah Kuning Nias ini mulai panen pada umur 4 tahun.

Kelapa Genjah Entog Kebumen memiliki ciri khas khusus yaitu buahnya paling besar di antara Kelapa Genjah lain di Indonesia. Keunggulan lain buahnya yang bulat eksotis berjumlah banyak per tandan, batangnya pendek dan kekar, serta cepat berbuah.