Yogyakarta, mediaperkebunan.id – Yogyakarta, Batik merupakan warisan budaya tak benda yang telah ditetapkan INESCO sejak tahun 2009. Pada 18 Oktober 2014, Yogyakarta ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia berdasarkan tujuh kriteria keunggulan, termasuk nilai sejarah, keaslian, pelestarian, dan dampak ekonomi. Oleh karena itu batik tidak bisa dipisahkan dengan Yogyakarta.
Namun pelestarian batik memiliki tantangan karena masih bergantung pada paraffin yang berbahan fosil sebagai bahan dasar pembuatan malam konvensional. Stearin yang berasal dari fraksi padat minyak kelapa sawit memiliki potensi sebagai pengganti paraffin karena memiliki sifat fisik yang mirip dengan paraffin. Pada tahun 2025 telah diluncurkan inovasi malam batik kelapa sawit hasil pengembangan dari Forum Pengembangan Kampung Batik
Laweyan yang dapat menjadi solusi malam batik yang ramah lingkungan.
Namun malam batik kelapa sawit ini belum dikenal dan belum banyak dimanfaatkan oleh pengrajin batik di Yogyakarta. Dengan dilatarbelakangi hal tersebut, tim pengabdian masyarakat yang diketuai oleh Betti Yuniasih, M.Sc. melakukan pengenalan dan edukasi pemanfaatan malam batik kelapa sawit berbahan stearin kepada anggota Paguyuban Batik Kampung Tamansari pada Januari-April 2026. Sebanyak 10 orang pengrajin batik mengikuti kegiatan ini.
Betti Yuniasih menjelaskan,“Pemilihan lokasi di Kampung Tamansari dikarenakan lokasi ini merupakan salah satu sentra batik di Yogyakarta dan juga merupakan salah satu tujuan wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga harapannya kegiatan ini juga menjadi salah satu kampanye positif untuk memperkenalkan produk turunan kelapa sawit yang ramah lingkungan tidak hanya kepada pengrajin batik
namun juga pada wisatawan yang berkunjung. Selain itu pengrajin batik di lokasi tersebut belum pernah memanfaatkan malam batik kelapa sawit sehingga menjadi sasaran yang tepat untuk edukasi”.
Kegiatan pengabdian ini dimulai dengan pre test pemahaman tentang malam batik dan potensi stearin sebagai pengganti paraffin. Hasil pretest menunjukkan sebagain besar belum mengenal malam kelapa sawit dan semuanya belum pernah memanfaatkan malam kelapa sawit dalam proses membatik.
Kegiatan dilanjutkan dengan edukasi pengenalan malam batik kelapa sawit, praktek pemanfaatan malam untuk membatik, uji kualitas malam, diskusi atau FGD tentang kendala yang dihadapi saat menggunakan malam, dan kegiatan pendampingan. Hasil uji kualitas yang dilakukan oleh pengrajin batik diperoleh hasil bahwa malam kelapa sawit lebih baik daripada malam konvensional yang berasal dari paraffin.
Iwan Setiawan selaku ketua paguyuban menyampaikan, “Hasil pengujian kualitas malam kelapa sawit menunjukkan kualitas yang lebih baik daripada malam yang biasa kami pakai. Malam kelapa sawit lebih cepat meleleh, asap yang ditimbulkan lebih sedikit, dan aromanya tidak menyengat. Pada saat dicantingkan ke kain juga lebih mudah dan tidak lengket sehingga membuat pekerjaan lebih efisien”.
Hasil batikan dari malam kelapa sawit juga tidak mudah retak sehingga fungsi utama malam sebagai perintang warna dapat berfungsi dengan baik. Kain yang terintangi oleh malam putih bersih dan tidak ada sisa malam setelah dilorod. Hasil pewarnaan juga baik. Melalui kegiatan pengabdian ini, INSTIPER mengajak pengrajin batik Kampung Tamansari untuk melestarikan dan menghasilkan produk batik yang berkelanjutan dengan memanfaatkan bahan yang ramah lingkungan seperti malam kelapa sawit. Stearin yang berasal dari turunan minyak kelapa sawit dapat menjadi substitusi paraffin karena bersifat biodegradable, dapat diperbarui, dan memiliki emisi gas rumah kaca yang lebih rendah.
Kegiatan ini diharapkan dapat belanjut dan terbuka kolaborasi dengan pihak-pihak terkait untuk mendukung produksi batik yang berkelanjutan di Kampung Batik Tamansari. “Kami tertarik untuk beralih ke malam batik kelapa sawit karena lebih ramah lingkungan. Kami juga berharap kerjasama dengan INSTIPER atau pihak-pihak terkait dapat berlanjut. Kami terbuka jika ada pihak seperti perusahaan kelapa sawit mau berkolaborasi dengan
kami untuk mewujudkan eco-batik lestari yang sesuai dengan judul kegiatan pengabdian
ini”, jelas Iwan Setiawan.