Hari Bumi: IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Hari Bumi: IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Jakarta, mediaperkebunan.id – Peringatan Hari Bumi Sedunia yang jatuh setiap 22 April menjadi momentum penting untuk meluruskan berbagai persepsi keliru terkait industri kelapa sawit. Menjawab maraknya narasi negatif yang menyebut sawit sebagai perusak lingkungan, Media Perkebunan menggelar 1st International Environment Forum (IEF) 2026 sebagai ruang diskusi berbasis ilmiah dan data.

Belakangan ini, opini yang mengaitkan kelapa sawit sebagai penyebab utama banjir bandang di sejumlah wilayah seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh semakin meluas di ruang digital. Namun, anggapan tersebut dinilai tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat dan cenderung menyederhanakan persoalan lingkungan yang kompleks.

Ketua Panitia IEF 2026, Hendra J. Purba, menyampaikan bahwa forum ini sengaja mengangkat tema “Kelapa Sawit Merusak Lingkungan?” untuk menguji kebenaran narasi tersebut secara objektif. Ia berharap forum ini mampu menjadi wadah edukasi, khususnya bagi generasi muda, agar lebih kritis dalam menyikapi informasi yang beredar.

“Forum ini diharapkan dapat menjadi ruang ilmiah yang mendorong penyebaran informasi positif berbasis data, bahwa tudingan sawit merusak lingkungan tidak sepenuhnya benar,” ujarnya dalam pembukaan acara, Rabu (22/4/2026).

Senada dengan itu, Pemimpin Umum Media Perkebunan, Ir. Bambang, MM menegaskan bahwa industri kelapa sawit justru memiliki tingkat produktivitas yang tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya. Hal ini membuat kebutuhan lahan menjadi lebih efisien, sehingga tidak serta-merta dapat disimpulkan sebagai penyebab kerusakan lingkungan.

“Kita dapat mengandalkan mahasiswa untuk menginformasikan seluruh lapisan masyarakat bahwa sawit sendiri memiliki produktivitas yang lebih baik dibandingkan dengan komoditas minyak nabati lain, sehingga menanam sawit lebih sedikit menggunakan lahan dibandingkan menanam komoditas minyak nabati lain,” kata Bambang. Sebagai informasi, acara IEF 2026 dihadiri oleh mahasiswa/i, akademisi, praktisi, perusahaan perkebunan, dan pemerhati.

Dari sisi kebijakan dan kontribusi nasional, sawit merupakan komoditas strategis yang berperan besar dalam perekonomian Indonesia. Selain menjadi penyumbang devisa nonmigas, industri ini juga menyerap jutaan tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.

Plt. Dirjenbun yang diwakili oleh Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kuntoro Boga Andri, turut menegaskan bahwa sawit tidak hanya berperan dalam sektor pangan, tetapi juga energi, terutama dalam mendukung implementasi program biodiesel seperti B50. Secara global, Indonesia bahkan menyumbang lebih dari setengah produksi minyak sawit dunia.

Lebih lanjut, aspek keberlanjutan dalam industri sawit juga terus diperkuat melalui penerapan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), yang mengatur tata kelola lingkungan dan legalitas lahan. Hal ini menjadi bukti bahwa praktik perkebunan sawit di Indonesia telah diarahkan untuk memenuhi standar keberlanjutan global.

“Standar yang kita miliki (ISPO) bisa diakui oleh negara lain. Sebagai produsen sawit terbesar dunia, pada dasarnya kita memiliki nilai keberlanjutan yang sama secara universal. Sawit ramah terhadap lingkungan yang kita pijaki dan memberikan impact positif pada lingkungan dan keberlanjutan,” ujar Kuntoro.

Terkait isu banjir bandang, akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Sudarsono Soedomo, menjelaskan bahwa faktor utama penyebab banjir adalah curah hujan ekstrem yang melampaui kapasitas daya tampung lingkungan. Ia menilai, menyalahkan sawit sebagai penyebab tunggal merupakan simplifikasi yang tidak tepat.

“Dalam kondisi hujan ekstrem, bahkan hutan sekalipun memiliki batas kemampuan. Banjir adalah fenomena kompleks yang tidak bisa disederhanakan hanya pada satu faktor,” jelasnya.

Melalui penyelenggaraan IEF 2026, diharapkan muncul pemahaman yang lebih utuh mengenai isu lingkungan, serta mendorong kebijakan dan opini publik yang berbasis data, bukan sekadar persepsi. Forum ini sekaligus menegaskan bahwa narasi “sawit merusak lingkungan” tidak benar dan perlu dikaji ulang secara objektif dan ilmiah.