DITJENBUN : KENDALIKAN GULMA DENGAN PHT

DITJENBUN : KENDALIKAN GULMA DENGAN PHT

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Andi Asjayani, Koordinator pada Direktorat Perlindungan Perkebunan, Ditjen Perkebunan menyatakan gulma merupakan salah satu kendala dalam peningkatan produksi dan produktivitas tanaman kelapa sawit. Kehadiran gulma di perkebunan kelapa sawit dapat mengakibatkan penurunan kuantitas dan kualitas produksi TBS. Gangguan terhadap pertumbuhan tanaman, peningkatan serangan hama dan penyakit, gangguan tata guna air dan secara umum akan meningkatkan biaya usaha tani.

Contohnya gulma Mikania micrantha dapat menurunkan produksi TBS sebesar 20%. Ada 4 jenis gulma di perkebunan kelapa sawit terdiri dari gulma pakis, gulma berdaun lebar, gulma berkayu, gulma berdaun sempit.

Pestisida diakui sangat bermanfaat dalam pertanian dan perkebunan. Perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu pengguna yang sering menggunakan pestisida untuk pemeliharaan tanamannya.

Pestisida yang paling banyak digunakan di perkebunan adalah herbisida diikuti insektisida, fungisida dan rodentisida. Penggunaan pestisida juga berdampak pada kesehatan manusia, pencemaran lingkungan dan residu pada produk yang dipanen.

Kebijakan pemerintah terkait pengendalian gulma pada perkebunan kelapa sawit adalah dengan bimbingan teknis “Instruktur Brigade Proteksi Tanaman (BPT) di Bogor pada tahun 2018. Menerapkan konsep ISPO yang sejalan dengan RSPO.

Bimbingan dan pendampingan pada pekebun terkait dengan pengendalian OPT khususnya gulma pada perkebunan kelapa sawit secara PHT yaitu tidak menerapkan konsep permberantasan. Konsepnya pengendalian populasi gulma berdasarkan hasil monitoring dan dan menerapkan semua teknik pengendalian yang kompatibel, serta pengendalian kimiawi dijadikan pilihan terakhir.

Pengendalian gulma dengan dengan rawat piringan adalah bertujuan untuk mengurangi kompetisi hara dan air, meningkatkan efisiensi pemupukan, mempermudah kontrol pelaksanaan panen dan pengutipan brondolan. Hal ini berkaitan dengan fungsi piringan yang merupakan areal perakaran dan tempat menaburkan pupuk. Gulma pada piringan umumnya didominasi oleh Mikania micrantha, Chomolena odorata, Neprolepis bisserata , Asystasia coromandeliana dan kentosan (anak sawit liar).

Pekerjaan pada babat gawangan yaitu membabat pakis, seperti Dicrapnoteris linearis, Neprolephis bisserata, dan Stenoclaena palustris. Pekerjaan membabat hanya dilakukan pada pakis yang tumbuh tinggi dan semak serta tidak dibabat seluruhnya. Hal ini dikarenakan tumbuhan pakis dapat menjaga kelembaban tanah dan mengurangi laju air.

Pada tanaman kelapa sawit juga terdapat gulma yang tumbuh di bagian batang contohnya pakis, anak kayu dan gulma berdaun lebar lainnya sehingga akan menganggu pada saat panen serta tempat tersisipnya brondolan. Brondol yang tersisip di area batang dan tanah harus diambil karena bila tidak terjadi kehilangan hasil panen dan brondol yang tumbuh akan menjadi gulma.