Jakarta, mediaperkebunan.id – Sustainable Aviation Fuel (SAF) adalah kunci untuk dekarbonisasi industri penerbangan dunia dan Indonesia bisa berperan sangat signifikan . M Farras Warsono dari PT Tripartra Engineering menyatakan hal ini.
Penerbangan mentargetkan nol emisi tahun 2050, kuncinya ada pada SAF yang bisa menurunkan emisi sampai 70%. Permintaan SAF meningkat sangat cepat, tahun 2030 diperkirakan mencapai 19 juta ton tahun 2030. Masalahnya adalah keterbatasan bahan baku, ketersediaan limbah minyak terbatas. Indonesia punya limbah minyak sawit yang melimpah sehingga kedepan bisa jadi pusat SAF dunia.
HEFA (Hydroprocessed Ester and Fatty Acid) yang berasal dari minyak nabati , lemak hewan dan minyak dari limbah , dalam jangka pendek merupakan sumber bahan baku yang memungkinkan, dari sisi teknologi paling siap, biaya produksi relatif rendah tetapi bahan baku masih masalah.
Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar punya bahan baku SAF yang memenuhi CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation) yaitu :
Minyak dari POME yang merupakan limbah PKS, minyak yang di-recovery dari limbah cair sawit; memenuhi syarat ICAO (International Civil Avation Organization)/CORSIA/RED III; Potensi 800-1500 ribu ton/tahun; Perlu treatment yang luar biasa (air/asam lemak bebas/metal).
Minyak jelantah, yang berasal dari rumah tangga/hotel restoran catering; memenuhi syarat ICAO/CORSIA/RED III; potensi 300-600 ribu ton/tahun dengan hambatan utama adalah infrastruktur pengumpulan; kedepan akan langka dan harga naik karena permintaan ekspor tinggi dan sifat pasarnya informal.
Palm Fatty Acid Distilate yang merupakan produk samping refinery; memenuhi syarat ICAO/CORSIA , tidak memenuhi syarat RED III; potensi hasil 2000-2.500 ribu ton/tahun tetapi kenyataannya lebih sedikit karena kompetisi dengan industri oleokimia; penerimaan di Eropa terbatas.
Minyak dari tandan kosong sawit, minyak yang diekstrak dari tandan kosong yang merupakan limbah PKS; memenuhi syarat ICAO/CORSIA/RED III; potensi 800-1.500 ribu ton/tahun; produksi minyak rendah, kelembaban tinggi dan logistik berat.
Dari HEFA saja Indonesia bisa membuat 5 juta ton SAF. Peluang untuk meningkatkan nilai tambah adalah harga yang lebih murah, harga kompetitif dan ada margin tambahan untuk diinvestasikan pada fasilitas hijau; emisi rendah, bebas ILUC (Indirect Land Use Change), perubahaan penggunaan lahan tidak langsung sebab berasal dari limbah, juga ada biomethane dan pembangkit listrik untuk lebih menurunkan emisi; infrastruktur yang siap , jalan dan pelabuhan yang digunakan CPO bisa langsung digunakan, penggunaan biofuel untuk truk dan kapal akan semakin menurunkan emisi.
Risiko, lokasi yang tersebar membuat logistik mahal, solusi buat pabrik dengan lokasi bahan baku; bahan baku sangat tidak murni dan tidak ada spesifikasi khusus sehingga harus ada upaya ekstra dengan teknologi terkini untuk proses pre treatment; pabrik didesain dengan bahan baku fleksible; integritas dan tracebility, dilakukan sertifikasi rantai pasok dan bangun sistim ketelusuran berbasis block chain.
Kombinasi sistem tracebility dengan insentif harga membuat integritas jauh diatas sertifikasi. Sertifikat CORSIA membuat dunia internasional tahu bahwa memenuhi standar ICAO, meyakinkan perusahaan penerbangan bahwa sudah memenuhi persyaratan ISSC CORSIA dan EU. Sistem rantai pasok yang bisa menelusuri asal minyak dari limbah dengan menggunakan mekanisme mass balance; menggunakan blockchain dan deteksi anomali jika untuk mencegah kecurangan. Harga mengacu pada indeks harga CPO dengan diskon tergantung kemurnian dan kandungan air; mencegah kecurangan berupa pencampuran minyak POME dengan CPO.
Studi dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan dengan dukungan Kementerian Luar Negeri, dengan tim ahli yang berasal dari TRIPATRA bersama IPOSS (Indonesia Palm Oil Stategic Studies). Proses pengajuan POME dimulai sejak bulan November 2024, mencakup pengumpulan data lapangan pada pabrik kelapa sawit (PKS), penyusunan working paper untuk ICAO Working Group 5, serta diskusi teknis dengan berbagai negara anggota. POME diajukan sebagai residu proses pengolahan sawit yang tidak memiliki beban Indirect Land Use Change (ILUC), sehingga dinilai memenuhi kriteria keberlanjutan ICAO untuk jalur HEFA.
Setelah proses evaluasi teknis selama satu tahun, dengan melalui perbandingan dengan studi akademik dari Hasselt University dan verifikasi oleh Joint Research Centre (JRC), POME memperoleh nilai Life Cycle Assessment (LCA) sebesar 18,1 gCO₂e/MJ, yang menunjukkan emisi lebih rendah dibandingkan avtur konvensional. Nilai ini selanjutnya dapat digunakan sebagai default value dalam skema CORSIA bagi produsen SAF di seluruh dunia.
Wendy Aritenang, perwakilan Indonesia di ICAO/CORSICA menyatakan Indonesia harus jadi produsen SAF karena bahan baku berlimpah. UCO dan kelapa afkir sudah memenuhi mendapat persetujua ICAO/CORSIA tetapi pengajuanya bukan dari Indonesia. Industri yang dibangun harus berbahan baku minyak dari POME. Saat in sebuah perusahaan kelas dunia sudah membangun pabrik SAF di negara tetangga tetapi bahan bakunya dari Indonesia.