Jakarta, mediaperkebunan.id – Arah pengembangan kakao menurut Profesor Rubiyo dari BRIN untuk meningkatkan produksi dan daya saing, menggunakan varietas unggul yang potensi daya hasilnya tinggi ( >2 ton/ha/tahun); kadar lemak biji >50%; tahan terhadap hama penyakit utama; peremajaan atau penanaman baru. Prof Rubiyo dari BRIN menyatakan hal ini pada webinar Akselerasi Hilirisasi Kakao untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang diselenggarakan Media Perkebunan.
Strategi pengembangan adalah dengan mengoptimalkan varietas unggul; kebun induk yang tersertifikasi; sistem usaha tani kakao yang efisien; sistim informasi peta digital kakao; peningkatan kinerja pendampingan, mempertajam arah penelitian dan pengkajian; regulasi/kebijakan yang mendorong dari pemerintah.
Permasalahan kakao Indonesia saat ini adalah kualitas biji tergolong rendah karena tidak terfermentasi dan tingkat produktivitas masih rendah dibawah tingkat potensi varietas yang ada. Budidaya kakao harus Kembali ke SOP dan hal dasar yaitu memenuhi persyaratan tumbuh tanaman kakao. Iklim curah hujan 1.100-3.000 mm/tahun, suhu 30-320C (ideal 25-260C). Tanah pH 6-7 serta tidak < 4. Sifat fisik (tekstur) lempung liat berpasir, solum 90 cm, drainase baik. Budidaya tanaman kakao dimulai dari persiapan lahan: penanaman penaung tetap dan sementara n-1), pembuatan lubang tanam, penanaman. Pembibitan klonal (okulasi, sambung) sehingga dihasilkan bibit seragam untuk kakao edel dan dengan biji hibrida F1 mudah dilakukan untuk kakao lindak.
Penaung tetap lamtoro, kelapa, gamal sedang penaung sementara Mogania, tanaman pisang dan tanaman lain. Syarat tanaman penaung mudah diatur dan bukan tanaman alelopati. Perbanyakan bisa dilakukan dengan benih/biji; vegetatif (sambung) , cara ini tingkat keberhasilan penyambungan tinggi (>90%), teknik lebih mudah, boros entres, sudah digunakan secara komersial; okulasi, tingkat keberhasilan penyambungan sedang (60-80%), teknik relatif lebih sulit, butuh waktu lebih lama, hemat entres, vigor bibit seragam, sudah digunakan skala komersial.
Pemeliharaan meliputi pangkas, pemupukan dan pengendalian OPT. Pemangkasan terdiri dari pangkas bentuk setelah tanaman berumur minimal 1 tahun di kebun; pangkas pemeliharaan 2 bulan sekali untuk menghasilkan tajuk yang baik.
Bibit klonal plagiotrof, dari bawah sudah bercabang seperti kipas perlu diatur dan dipangkas sehingga seperti punya jorget. Pangkasan yang salah membuat buah yang terbentuk merata besarnya, asimilat tidak berjalan dengan baik, memicu terjadinya serangan hama dan penyakit, tanaman rusak dan usia produktif menjadi pendek.
Tiga hama utama kakao adalah PBK (Penggerek Buah Kakao), penyakit busuk buah kakao, penyakit VSD. OPT pada akar adalah uret dan jamur; pada batang bawah penggerek batang/cabang dan kanker batang; pada buah PBK, Helopeltis, tikus, tupai, babi, busuk buah, antraknos colletortichum, pada batang atas VSD,jamur upas, colectrichum; hama pada daun ulat kilan, ulat bulu dan ulat api.
Hama PBK C. cramerella, stadium larva yang merusak tinggal dalam buah, kepompong dbungkus dengan kokon, relative sulit dikendalikan. Gejala serangan buah masak awal, gerekan larva. Derajat serangan PBK tergantung pada umur buah, total larva dalam buah, lama periode larva makan buah. Kehilangan hasil dapat mencapai 80%.
Standar operasional pengendalian PBK pangkasan, pemupukan, panen sering, sanitasi. Kerugian akibat serangan PBK mutu fisik biji rendah, kandungan sampah meningkat, meningkatkan kadar kulit ari, menurunkan rendemen, menurunkan berat jenis, meningkatkan biaya panen.