BPDP Dorong UMKM Kakao Naik Kelas, Siapkan Dukungan Pengembangan Usaha Hingga Tembus Pasar Global

BPDP Dorong UMKM Kakao Naik Kelas, Siapkan Dukungan Pengembangan Usaha Hingga Tembus Pasar Global

Jakarta, mediaperkebunan.id - Indonesia memiliki kekayaan komoditas perkebunan yang sangat besar, mulai dari kelapa sawit, kelapa, hingga kakao. Potensi tersebut tidak hanya menjadi sumber bahan baku, tetapi juga membuka peluang luas bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menciptakan produk bernilai tambah dan berdaya saing.

Melalui dukungan pengembangan kapasitas, riset, hilirisasi, promosi, hingga kolaborasi lintas sektor, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mendorong UMKM berbasis komoditas perkebunan untuk terus tumbuh dan naik kelas. Salah satu contoh inspiratif datang dari Minang Kakao, UMKM asal Sumatera Barat yang berhasil mengolah potensi kakao lokal hingga mendapat pengakuan di tingkat internasional.

Hal tersebut disampaikan dalam podcast Bincang UMKM Perkebunan Indonesia yang diselenggarakan di Rumah UMKM BPDP @smescoindonesia. Podcast ini menghadirkan Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, serta Founder Minang Kakao, Afdhal Aliasar, untuk membahas langkah UMKM naik kelas melalui inovasi produk berbasis komoditas perkebunan.

Helmi Muhansyah mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan UMKM berbasis komoditas perkebunan. Sebagai salah satu produsen sawit terbesar dunia, sekaligus negara yang memiliki potensi besar di sektor kakao dan kelapa, Indonesia memiliki sumber daya yang dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.

Menurutnya, UMKM memiliki posisi strategis dalam mendorong hilirisasi komoditas perkebunan. Petani tidak lagi hanya menjual hasil perkebunan dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat mengembangkan usaha pengolahan yang memberikan nilai ekonomi lebih besar.

Dalam perspektif BPDP, konsep UMKM naik kelas tidak hanya diukur dari peningkatan aset, omzet, atau kualitas manajemen. UMKM berbasis komoditas perkebunan juga diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dan mengampanyekan manfaat positif komoditas perkebunan Indonesia.

"Sisi naik kelasnya selain omzetnya meningkat dan manajemennya bagus, juga ikut mengampanyekan kebaikan-kebaikan komoditas ini," ungkap Helmi.

Helmi menjelaskan, khususnya pada komoditas sawit, pelaku UMKM dapat berperan dalam menyampaikan informasi mengenai berbagai manfaat dan produk turunan sawit kepada masyarakat. Dengan demikian, UMKM yang naik kelas tidak hanya semakin kuat secara bisnis, tetapi juga memiliki kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat, petani, dan ekosistem perkebunan nasional. "Selain omzetnya meningkat dan manajemennya bagus, juga ikut mengampanyekan kebaikan-kebaikan komoditas ini," jelasnya.

Semangat hilirisasi tersebut tercermin dalam perjalanan Minang Kakao. Afdhal Aliasar menceritakan, gagasan mendirikan Minang Kakao berawal dari keresahan melihat banyaknya tanaman kakao di Sumatera Barat yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Pohon kakao dapat tumbuh di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di halaman rumah masyarakat. Namun, minimnya perawatan dan pengetahuan membuat produktivitas tanaman kakao belum maksimal. Bahkan, di sejumlah wilayah, tanaman kakao hanya menjadi pohon pelindung.

Padahal, menurut Afdhal, kakao merupakan komoditas bernilai tinggi di pasar dunia. Karena itu, ia melihat adanya peluang besar untuk mengembangkan kakao Indonesia sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang mengelolanya. "Kita punya sesuatu hal yang sangat berharga. Kemudian kita lewatkan kesempatan untuk tidak memperhatikan kakao," ujarnya.

Berangkat dari keresahan tersebut, Minang Kakao mulai membangun pendekatan yang lebih komprehensif, mulai dari perbaikan budidaya hingga pengembangan produk akhir.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Minang Kakao adalah mengubah pola pikir dan praktik masyarakat dalam mengelola kebun kakao.

Afdhal bersama tim kemudian bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) di Jember untuk mendapatkan klon unggul kakao hasil riset peneliti Indonesia. Bibit tersebut kemudian dikembangkan melalui praktik budidaya yang lebih baik. Tidak berhenti pada sosialisasi, Minang Kakao juga mengambil langkah dengan membangun kebun percontohan di sekitar lahan petani.

Pendekatan tersebut terbukti efektif. Ketika petani melihat langsung kebun yang dirawat dengan baik, menggunakan bibit unggul, dipupuk, disanitasi, dan menghasilkan buah yang sehat serta produktif, muncul ketertarikan untuk mengikuti praktik serupa.

"Kalau cuma diajarin dan ngomong, dia belum tentu dikerjakan. Tapi begitu sudah melihat hasilnya, 'Oh, saya mau ikut dong seperti Bapak ini'," kata Afdhal. Dari sinilah pengembangan kakao dilakukan secara bertahap bersama masyarakat.

Setelah membangun dan memperluas kebun kakao, Minang Kakao tidak berhenti pada penjualan biji kakao kering. Afdhal melihat bahwa nilai tambah terbesar justru dapat diperoleh ketika kakao diolah hingga menjadi produk cokelat.

Namun, proses tersebut menghadirkan tantangan baru. Mengolah hasil perkebunan menjadi produk cokelat berkualitas membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang berbeda dari budidaya tanaman.

Minang Kakao kemudian terus belajar, melakukan riset, dan menggali pengetahuan dari berbagai sumber, termasuk para ahli dan chef dari luar negeri. Tujuannya adalah menghasilkan produk cokelat berkualitas yang mampu bersaing di pasar internasional.

Bagi Afdhal, edukasi konsumen juga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Masyarakat perlu mengenal kualitas cokelat berbasis kakao asli dan memahami perbedaan karakteristik produk cokelat dengan produk compound.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi Minang Kakao untuk meningkatkan apresiasi terhadap produk kakao berkualitas sekaligus memperkuat posisi kakao Indonesia.

Perjalanan Minang Kakao menunjukkan bahwa UMKM berbasis perkebunan memiliki peluang untuk menembus pasar global ketika konsisten menjaga kualitas dan melakukan inovasi.

Minang Kakao yang mulai berdiri sekitar 2017 dan mulai mengembangkan penanaman pada 2018 tersebut berhasil mendapatkan pengakuan internasional sebagai salah satu 50 Best Cacao in the World.

Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa kakao Indonesia memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan kakao dari berbagai negara penghasil kakao dunia.

Bagi Minang Kakao, keberhasilan tersebut bukan sekadar penghargaan. Ada misi yang lebih besar, yakni memastikan pertumbuhan bisnis memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan petani kakao di Sumatera Barat.

"Kalau Anda membeli produk Minang Kakao dan mengonsumsi produk Minang Kakao, berarti Anda juga turut membantu para petani yang berkebun di daerah Sumatera Barat," tutur Afdhal.

BPDP Siap Dorong Lahirnya "Minang Kakao" di Berbagai Daerah

Melihat keberhasilan Minang Kakao, BPDP mendorong agar model pengembangan UMKM berbasis komoditas perkebunan serupa dapat tumbuh di berbagai wilayah Indonesia.

Helmi menyebut, keberhasilan Minang Kakao dapat menjadi inspirasi bagi lahirnya berbagai UMKM berbasis kakao, kelapa, dan sawit di daerah lain. "Kami ingin copy paste nih. Mungkin nanti ada Java Kakao, Bali Kakao. Jadi Minang Kakao ini semakin banyak," katanya.

Untuk mendukung UMKM naik kelas, BPDP telah menjalankan berbagai program, antara lain workshop teknis, pengembangan pengetahuan, pemanfaatan hasil riset, pameran, promosi produk, hingga pendampingan terkait peluang ekspor.

BPDP juga menggandeng berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan tenaga ahli, untuk membuka akses pengetahuan dan mendorong komersialisasi hasil riset yang dapat diterapkan oleh UMKM.

Dalam pengembangan ekspor, BPDP juga dapat berkolaborasi dengan instansi terkait seperti Bea Cukai untuk memberikan pemahaman kepada pelaku UMKM mengenai proses dan peluang pasar ekspor.

Dukungan tersebut juga diwujudkan melalui Rumah UMKM BPDP yang menjadi ruang promosi, kolaborasi, pembelajaran, dan pengembangan bagi UMKM berbasis komoditas perkebunan. "Kita namakan ini Rumah UKM Perkebunan. Kita ingin ini menjadi tempat yang paling nyaman bagi teman-teman UKM yang bergerak di kakao, kelapa, kemudian juga di UKM sawit untuk bisa berkolaborasi," jelasnya.

Produk-produk yang ditampilkan telah melalui proses kurasi untuk menjaga kualitas. Rumah UMKM BPDP diharapkan menjadi tempat yang nyaman bagi pelaku UMKM sawit, kelapa, dan kakao untuk bertemu, belajar, berkolaborasi, serta memperluas akses pasar. 

Selain itu, BPDP juga menyediakan katalog produk UMKM yang dapat menjadi sarana promosi bagi produk-produk berbasis komoditas perkebunan.

Ke depan, katalog dan ekosistem tersebut diharapkan tidak hanya berisi produk berbasis sawit, tetapi juga semakin banyak menampilkan produk unggulan dari sektor kakao dan kelapa.

Baik BPDP maupun Minang Kakao sepakat bahwa pengembangan UMKM perkebunan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi antara petani, pelaku usaha, pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, komunitas, dan masyarakat.

Afdhal juga mendorong generasi muda untuk kembali melihat perkebunan sebagai sektor yang memiliki prospek ekonomi besar. Namun, kembali ke sektor perkebunan tidak berarti mengulang cara lama.

Generasi muda perlu membawa ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan tata kelola modern ke sektor perkebunan. Dengan begitu, potensi lahan dan komoditas Indonesia dapat dikelola secara lebih produktif dan berkelanjutan.

Menurutnya, Indonesia tidak hanya memiliki kakao. Berbagai komoditas lain seperti pala, kayu manis, kelapa, kopi, dan komoditas perkebunan lainnya juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Dukungan terhadap pengembangan ekosistem perkebunan juga dilakukan BPDP melalui pengembangan sumber daya manusia. Helmi menyampaikan bahwa BPDP memiliki program beasiswa SDM sawit yang memberikan kesempatan bagi generasi muda dari ekosistem sawit untuk menempuh pendidikan di sejumlah perguruan tinggi, termasuk dukungan biaya pendidikan dan uang saku sesuai ketentuan program.

Program tersebut menjadi salah satu upaya untuk menyiapkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas dan mampu membawa inovasi baru bagi sektor perkebunan Indonesia.

Dengan dukungan pendidikan, riset, inovasi, dan pengembangan usaha, sektor perkebunan diharapkan semakin menarik bagi generasi muda.

Afdhal melihat peluang UMKM perkebunan Indonesia ke depan sangat besar. Di tengah dinamika global dan gangguan rantai pasok, Indonesia memiliki modal penting berupa kekayaan sumber daya alam dan kemampuan untuk menghasilkan berbagai komoditas pangan serta perkebunan.

Menurutnya, peluang tersebut harus dimanfaatkan tidak hanya dengan menghasilkan bahan mentah, tetapi juga mengembangkan produk hingga tahap akhir.

Kakao, misalnya, tidak cukup hanya dijual sebagai biji kering. Dengan hilirisasi, kakao dapat diolah menjadi cokelat berkualitas tinggi yang memberikan nilai tambah lebih besar bagi pelaku usaha dan petani.

Hal serupa juga berlaku bagi komoditas kelapa dan sawit yang memiliki beragam produk turunan. Karena itu, UMKM perkebunan perlu terus berinovasi, menjaga kualitas, memperkuat kapasitas manajemen, serta membuka akses ke pasar yang lebih luas.

Bagi BPDP, keberhasilan Minang Kakao menjadi contoh bahwa komoditas lokal dapat dikembangkan menjadi produk unggulan berkelas dunia. Tantangannya kini adalah memperbanyak kisah sukses serupa di berbagai daerah.

Dukungan tersebut terangkum dalam semangat "UKM Perkebunan, UKM Sawit, Kelapa, dan Kakao, Kaya Bersama BPDP."

Pada akhirnya, UMKM naik kelas bukan hanya tentang menjadi lebih besar secara bisnis, tetapi juga tentang menciptakan nilai tambah, meningkatkan kesejahteraan petani, membuka lapangan ekonomi baru, serta membawa nama baik komoditas perkebunan Indonesia ke tingkat global.

Seperti pesan yang disampaikan Afdhal, Indonesia memiliki tanah yang subur dan komoditas yang unggul. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut ditanam, dikelola, diolah, dan dikembangkan menjadi produk berkualitas.

BPDP hadir untuk mendorong proses tersebut melalui kolaborasi, penguatan kapasitas, hilirisasi, riset, promosi, dan pengembangan UMKM. Dari kebun menuju produk unggulan, dari komoditas lokal menuju pasar global UMKM kakao Indonesia didorong untuk terus naik kelas.