Pontianak, mediaperkebunan.id – Ratusan Petani kelapa sawit swadaya di Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), sudah menggunakan aplikasi Hamurni yang diciptakan oleh WWF Indonesia, salah satu organisasi nonpemerintah (ornop) atau non-goverment organization (NGO) yang fokus pada kelestarian alam.
Aplikasi Hamurni, seperti keterangan resmi yang dikutip mediaperkebunan.id, Kamis (3/4/2025), adalah perangkat digital yang praktis, inklusif dan terukur untuk pemetaan dan ketelusuran rantai pasok. Aplikasi Hamurni bertujuan untuk memberdayakan para petani sawit mandiri dan mentransformasikan industri kelapa minyak sawit menuju industri yang transparan dan lestari.
Irfan Bakhtiar selaku Direktur Climate Market and Transformation WWF-Indonesia menerangkan, dalam sektor perkebunan, WWF-Indonesia mendukung pengembangan model kelapa sawit berkelanjutan melalui pendampingan dan pelatihan kepada petani.
Melalui inisiatif ini, tutur Irfan Bakhtiar lebih lanjut, dua kelompok tani Kabupaten Sintang, Provinsi Kalbar, berhasil mendapatkan sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) melalui koperasi unit desa (KUD) Harapan Jaya dan Koperasi Rimba Harapan. “Saat ini, tercatat sebanyak 458 petani menjadi terhimpun dalam Koperasi Rimba Harapan,” kata Irfan Bakhtiar dalam sebuah diskusi bertajuk “Implementasi Deforestation and Conversion-Free (DCF) dalam Pendekatan Yurisdiksi untuk Pengelolaan Komoditas Berkelanjutan di Indonesia”. “
Mereka (para petani sawit anggota Koperasi Rimba Harapan – red) mengelola 1.033,22 hektar (Ha) lahan perkebunan kelapa sawit dengan kapasitas produksi 19.764 ton tandan buah segar (TBS) per tahun,” bilang Irfan Bakhtiar menambahkan.
Irfan Bakhtiar menerangkan, kedua koperasi yang didampingi oleh WWF-Indonesia telah menggunakan aplikasi Hamurni terkait pencatatan informasi rantai pasok, legalitas, dan geolokasi yang selaras dengan prinsip serta kriteria RSPO.
Irfan Bakhtiar menyebutkan bahwa aplikasi Hamurni yang dikembangkan oleh WWF-Indonesia mampu melacak asal-usul TBS yang dipanen sehingga pada akhirnya diterima oleh pabrik kelapa sawit (PKS) untuk diolah menjadi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Aplikasi Hanurni, ujarnya, turut membantu para petani dalam pencatatan setiap transaksi penjualan secara digital. Dengan demikian, petani dan pelaku usaha dapat memastikan seluruh proses produksi terdokumentasi dengan baik dan transparan.
Upaya kolaboratif antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat sipil telah mampu menghasilkan solusi yang berdampak positif dan berkelanjutan bagi lingkungan tanpa meninggalkan kesejahteraan masyarakat. “Di masa depan, kami mengharapkan seluruh program berkelanjutan dapat diimplementasikan secara optimal melalui dukungan kuat dan koordinasi efektif antar pemangku kepentingan,” pungkas Irfan Bakhtiar.