Jakarta, mediaperkebunan.id – Penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Ganoderma menjadi salah satu ancaman terbesar dalam budidaya kelapa sawit. Penyebaran Ganoderma terjadi melalui dua jalur utama yaitu melalui infeksi akar secara langsung dan lewat udara melalui spora. Hal ini dikatakan oleh Dr. Sukarman ST., MM., MSi., Coordinator R&D Wilmar International Plantation pada acara TKS & Field Trip Sampit, Kalimantan Tengah.
Infeksi akar terjadi ketika akar tanaman yang telah sakit bersentuhan langsung dengan akar tanaman sehat. Transfer penyakit ini berlangsung sangat cepat, terutama jika tanaman dalam kondisi lemah atau sedang sakit. Sedangkan penyebaran melalui udara berlangsung saat tubuh buah jamur melepaskan spora yang sangat halus.
“Sporanya keluar dari bagian buahnya yang putih. Spora Ganoderma itu sifatnya satu sel, monokariotik. Untuk menjadi jamur baru, dia butuh kawin dengan spora lain agar menjadi dikariotik. Kalau cocok, maka bisa menginfeksi tanaman. Kenapa lebih ganas? Karena itu hasil dari perkawinan dua sel ini,” jelas Sukarman.
Selain udara dan tanah, serangga juga menjadi agen utama dalam penyebaran penyakit ini. Tidak hanya itu, hewan besar seperti sapi juga berkontribusi dalam memperparah penyebaran penyakit ini.
Ketika sapi berada di dalam areal perkebunan, tanah menjadi padat karena terinjak-injak. Pemadatan tanah mengurangi kadar oksigen dalam tanah dan membuat akar tanaman lebih rentan terinfeksi. Selain itu, kondisi tanah yang padat juga menurunkan kesehatan tanah dan menghambat pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.
Dalam rangka mendeteksi dan mengendalikan Ganoderma, Sukarman menjelaskan adanya sistem klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit yang disebut DSI (Disease Severity Index). Pada DSI 0, tanaman masih sehat dan belum menunjukkan gejala apa pun.
Masuk ke DSI 1 pelepah tanaman mulai menunjukkan posisi tidak normal atau sengklek. Pada DSI 2 pelepah tetap sengklek dan tanaman tampak masih hijau, namun di bagian bawah batang sudah muncul tubuh buah Ganoderma.
Jika memasuki DSI 3, tanaman mulai menguning dan batangnya menjadi keropos. Dan pada DSI 4, tanaman sudah mati. Uniknya, tanaman yang berada di sekitar pokok terinfeksi, meskipun belum menunjukkan gejala, tetap dikategorikan sebagai DSI 1 karena berada di zona risiko tinggi.
Untuk mendeteksi penyakit ini ada empat metode yang digunakan, yaitu secara visual, melalui media GSM, menggunakan teknologi Ganotech, dan pendekatan molekular seperti PCR. Metode visual paling murah dan umum digunakan meskipun akurasinya sedang. Sedangkan metode lain bisa dipilih tergantung kebutuhan dan ketersediaan teknologi di lapangan.
Salah satu contoh pengelolaan Ganoderma yang dilakukan oleh PT Wilmar Indonesia adalah dengan memanfaatkan peta serangan Ganoderma untuk menentukan prioritas pengendalian. Proses dimulai dengan melakukan sensus terhadap tanaman yang menunjukkan gejala.
“Dilakukan sensus untuk mengetahui jumlah yang terserang. Setelah itu dimasukkan ke dalam peta serangan Ganoderma, lalu ke dalam peta estate agar strategi pengendalian lebih terarah,” ungkapnya.
Tindakan pencegahan ganoderma ini harus dilakukan sejak dini, bahkan dimulai dari fase pembibitan (nursery). Di tahap ini, penggunaan media tanam yang bebas dari inokulum Ganoderma sangat krusial. Bibit harus diperlakukan dengan aplikasi agen hayati yaitu Trichoderma sebanyak 90 gram dan Mikoriza sebanyak 50 gram per bibit, yang diberikan secara terpisah.
Pupuk Rock Phosphate juga disarankan untuk mendukung kekuatan akar. Setelah aplikasi, tanah perlu ditutup kembali untuk memastikan mikroorganisme bekerja efektif. Monitoring produk juga perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan efektivitasnya.
“Pengendalian di nursery merupakan sebuah investasi karena murah di awal dan akan mahal jika lalai,” tegasnya.
Jika tanaman telah menunjukkan gejala, maka penanganannya harus disesuaikan dengan tingkat keparahan. Pada DSI 1 dan 2, pengendalian dilakukan dengan injeksi batang menggunakan Hexaconazole dan metabolit sekunder. Interval injeksi Hexaconazole dilakukan setiap sembilan bulan dengan dosis 90 ml dalam 10 liter air per pokok, sementara metabolit sekunder diaplikasikan setiap enam bulan dengan dosis 1 liter per pokok.
Jika sudah memasuki DSI 3 atau 4, maka sanitasi menjadi satu-satunya jalan. Sanitasi ini melibatkan proses penandaan pokok, penumbangan, pencacahan (chipping), pembuatan lubang sanitasi, penyemprotan fungisida, parit isolasi, aplikasi Trichoderma, hingga pemasangan patok untuk rekap koordinat lokasi.