AKPY Tekankan Pentingnya Kompetensi Panen untuk Jaga Rendemen Sawit Rakyat

AKPY Tekankan Pentingnya Kompetensi Panen untuk Jaga Rendemen Sawit Rakyat

Bengkulu, mediaperkebunan.id - Menjaga produktivitas sawit tidak berhenti pada kegiatan memanen tandan buah segar (TBS). Pekebun juga perlu memahami tingkat kematangan buah, menjaga rotasi panen, serta memastikan penanganan TBS setelah dipanen dilakukan dengan tepat. Seluruh tahapan tersebut berperan dalam mempertahankan rendemen sekaligus kualitas minyak sawit.

Hal tersebut disampaikan Praktisi Kebun Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Ir. Hartono, M.Si., saat membuka Pelatihan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 kelas Panen dan Pascapanen bagi 115 pekebun asal Kabupaten Bengkulu Selatan, Selasa (8/9/2026), di Bengkulu.

Pelatihan yang berlangsung pada 8–12 September 2026 tersebut diselenggarakan oleh AKPY dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pekebun dalam menerapkan teknik panen dan pascapanen secara tepat.

Menurut Hartono, kualitas hasil kebun sudah ditentukan sejak proses panen. Salah satu indikator yang dapat digunakan pekebun untuk menentukan waktu panen adalah munculnya brondolan. Pada kondisi tersebut, pembentukan minyak dalam buah telah mencapai tingkat optimal.

Sebaliknya, membiarkan buah matang terlalu lama di kebun tidak akan meningkatkan pembentukan minyak. Kondisi tersebut justru dapat menyebabkan asam lemak bebas (ALB) terus meningkat sehingga berpotensi menurunkan kualitas CPO dan nilai ekonomi TBS.

“Panen yang tepat adalah panen pada tingkat rendemen tertinggi dan pada tingkat asam lemak bebas yang rendah,” katanya.

Selain memperhatikan tingkat kematangan buah, konsistensi rotasi panen juga menjadi faktor penting. Rotasi yang tepat dapat membantu mencegah buah dipanen sebelum waktunya maupun terlalu lama berada di pohon.

Hartono mencontohkan penerapan sistem rotasi 6/7 yang digunakan di perkebunan besar untuk mempertahankan tingkat kematangan buah pada kondisi yang optimal.

“Dengan rotasi 6/7 akan mendapatkan tingkat rendemen tertinggi, tingkat asam lemak yang rendah,” ujarnya.

Tahapan setelah panen juga menjadi bagian yang tidak boleh diabaikan. Brondolan perlu dikumpulkan dengan baik, TBS segera ditangani dan diangkut, serta prosesnya dapat ditelusuri hingga sampai ke pabrik kelapa sawit (PKS).

Ketidaktepatan pada salah satu tahapan tersebut dapat menyebabkan kehilangan hasil sekaligus memengaruhi kualitas TBS yang dihasilkan.

Hartono menilai peningkatan produktivitas perkebunan sawit rakyat tidak cukup hanya melalui perluasan lahan, penggunaan bibit unggul, maupun pemupukan. Kualitas sumber daya manusia, khususnya kompetensi pekebun, juga menjadi faktor penting dalam menghadapi perkembangan teknologi, perubahan iklim, serta tuntutan keberlanjutan.

“Keberhasilan sawit Indonesia ke depannya tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk yang digunakan, tetapi juga ditentukan oleh kualitas manusianya, ditentukan oleh kualitas petaninya,” katanya.

Menurut Hartono, pengalaman yang dimiliki pekebun tetap menjadi modal berharga. Namun, pengalaman tersebut perlu berjalan beriringan dengan pengetahuan dan perkembangan teknologi agar pekebun mampu menghadapi perubahan di sektor sawit.

“Teknologi perlu di-upgrade. Petani masa depan bukan lagi petani yang hanya mengandalkan pengalaman saja, tetapi petani yang mau belajar dan mampu beradaptasi terhadap perubahan,” ujarnya.

Bengkulu dinilai memiliki potensi besar untuk terus mengembangkan sektor perkebunan kelapa sawit. Potensi tersebut perlu diikuti dengan peningkatan produktivitas, perbaikan kualitas hasil panen, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia pekebun.

Sebanyak 115 pekebun asal Bengkulu Selatan mengikuti pelatihan Panen dan Pascapanen yang terbagi dalam empat kelas. Melalui program SDMP 2026, AKPY bersama BPDP dan Ditjenbun mendorong agar materi pelatihan tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat diterapkan secara langsung di kebun.

Hartono menegaskan bahwa peningkatan kompetensi pekebun merupakan investasi penting untuk menjaga keberlanjutan perkebunan sawit rakyat dalam jangka panjang.

“Keberhasilan kebun tidak semata-mata ditentukan luas lahan yang dimiliki. Sawit yang hebat tidak lahir dari kebun yang luas, tetapi dari petani yang terus belajar,” pungkasnya.