Jakarta, mediaperkebunan.id – Kondisi kekeringan pada perkebunan kelapa sawit tidak hanya dapat dilihat dari berkurangnya curah hujan. Respons tanaman terhadap kondisi atmosfer dan ketersediaan air di dalam tanah juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan, salah satunya melalui konsep Vapor Pressure Deficit (VPD) dan gejala fisiologis pada tanaman.
Praktisi P3PI, Marlon Sitanggang, menjelaskan bahwa VPD secara sederhana menggambarkan besarnya “daya tarik” atmosfer terhadap uap air. Semakin tinggi VPD, semakin besar dorongan air untuk keluar dari daun melalui proses transpirasi.
Analogi sederhananya dapat dilihat pada pakaian yang dijemur di dalam ruangan. Meskipun tidak terkena sinar matahari secara langsung, pakaian tetap dapat mengering karena air menguap menuju udara yang lebih kering.
Menurut Marlon, kondisi VPD tinggi pada kelapa sawit belum tentu langsung menjadi persoalan apabila akar masih mampu memasok air dalam jumlah yang cukup. Persoalan mulai muncul ketika VPD tinggi terjadi bersamaan dengan rendahnya ketersediaan air di dalam tanah.
“Ketika VPD tinggi terjadi bersamaan dengan ketersediaan air tanah yang rendah, kehilangan air dari daun tidak lagi dapat sepenuhnya diimbangi oleh serapan air dari akar. Kondisi ini kemudian memicu respons tanaman, mulai dari penurunan status air, penutupan stomata, penurunan fotosintesis, hingga melambatnya ekspansi daun,” jelas Marlon.
Daun Tombak Dapat Menjadi Sinyal Water Stress
Salah satu gejala yang menarik diamati di lapangan adalah daun tombak yang tidak segera membuka. Dalam kondisi normal, keberadaan satu daun tombak merupakan bagian dari pertumbuhan kelapa sawit. Namun, ketika terdapat beberapa daun tombak yang menumpuk pada satu pokok, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi adanya gangguan dalam proses pembukaan daun.
Marlon menjelaskan, pembukaan daun muda membutuhkan tekanan turgor yang cukup agar jaringan dapat berkembang dan anak daun membuka. Ketika tanaman mengalami defisit air, proses tersebut dapat melambat.
Pada saat yang sama, daun baru tetap berkembang sementara daun sebelumnya belum selesai membuka. Akibatnya, daun tombak dapat mengalami akumulasi.
Dalam pengamatannya, terdapat pokok kelapa sawit dengan empat daun tombak yang belum membuka. Fenomena tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan apakah jumlah daun tombak dapat digunakan sebagai indikator sederhana di lapangan untuk memantau perkembangan water stress, khususnya selama periode El Niño.
“Tanaman sering kali memberikan sinyal lebih dahulu sebelum dampaknya terlihat pada produksi. Karena itu, akumulasi daun tombak menarik untuk diamati lebih lanjut sebagai kemungkinan indikator lapangan dalam memantau perkembangan water stress selama periode El Niño,” ujar Marlon.
Empat Daun Tombak dan Potensi Pergeseran Produksi
Respons fisiologis tersebut kemudian dikaitkan dengan kemungkinan perubahan distribusi produksi. Pertanyaannya, jika pembukaan daun mengalami keterlambatan, apakah perkembangan bunga dan buah juga dapat mengalami pergeseran waktu?
Marlon mencoba melihat kemungkinan tersebut melalui simulasi sederhana. Ia menggunakan asumsi tanaman kelapa sawit berumur 12 tahun dengan produksi sekitar 25 pelepah per pokok per tahun. Dengan demikian, rata-rata satu pelepah muncul setiap sekitar 14,6 hari.
Pada setiap ketiak pelepah terdapat potensi infloresens yang dapat berkembang menjadi bunga dan tandan. Dalam simulasi tersebut, empat daun tombak yang belum membuka diasumsikan mewakili empat posisi dalam pipeline bunga dan buah yang mengalami pergeseran waktu.
Perhitungan menggunakan sejumlah asumsi, yaitu populasi 136 pokok per hektare, BJR 22,2 kg per janjang, dan AKP 12%.
Dengan parameter tersebut, perhitungannya adalah:
4 × 136 × 12% = 65,28 janjang/ha
Kemudian:
65,28 × 22,2 kg = 1.449 kg TBS/ha
atau sekitar 1,45 ton TBS per hektare.
Namun, Marlon tidak memandang angka tersebut sebagai produksi yang hilang. Menurutnya, angka tersebut lebih tepat dilihat sebagai produksi yang berpotensi mengalami pergeseran waktu.
“Saya tidak melihat angka 1,45 ton TBS per hektare sebagai produksi yang hilang, tetapi sebagai produksi yang berpotensi bergeser waktunya. Ketika hujan kembali, VPD turun, dan water deficit berkurang, daun tombak pada akhirnya dapat membuka. Pertanyaannya kemudian adalah apakah kalender fisiologis tanaman akan kembali persis seperti semula,” ungkapnya.
Marlon menegaskan bahwa simulasi tersebut masih sederhana. Sejumlah faktor seperti AKP, BJR, umur tanaman, tingkat water deficit, jenis tanah, serta respons tanaman dapat memengaruhi hasil akhirnya.
Karena itu, angka 1,45 ton TBS per hektare tidak dapat langsung diperlakukan sebagai besaran kehilangan produksi akibat kekeringan. Simulasi tersebut lebih ditujukan untuk melihat kemungkinan adanya pergeseran distribusi produksi sebagai konsekuensi dari respons fisiologis tanaman terhadap tekanan air.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah jumlah daun tombak dapat menjadi petunjuk awal terhadap pergeseran distribusi produksi yang baru terlihat beberapa bulan setelah tanaman mengalami tekanan air.
Menurut Marlon, pertanyaan tersebut masih membutuhkan pengamatan dan data lapangan yang lebih banyak.
“Simulasi ini tentu masih sederhana. AKP, BJR, umur tanaman, tingkat water deficit, jenis tanah, dan respons tanaman akan memengaruhi hasil akhirnya. Karena itu, semakin banyak pengalaman dan data lapangan yang kita bagikan, semakin baik kita memahami respons kelapa sawit terhadap El Niño dan mempersiapkan langkah berikutnya,” katanya.
Memahami Respons Tanaman Sejak Dini
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengamatan terhadap respons tanaman selama periode kekeringan. Dampak El Niño dan water deficit tidak selalu langsung terlihat dalam bentuk penurunan produksi. Perubahan fisiologis tanaman dapat muncul lebih awal dan berpotensi memberikan informasi mengenai kondisi tanaman.
Dalam konteks tersebut, pengamatan terhadap daun tombak menjadi salah satu hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Jika terdapat hubungan yang konsisten antara akumulasi daun tombak, tekanan air, dan pergeseran distribusi produksi, indikator tersebut berpotensi membantu pengelola kebun memahami kondisi tanaman lebih awal.
Namun, diperlukan pengamatan lapangan dan data yang lebih luas untuk mengetahui seberapa kuat hubungan tersebut.
Bagi Marlon, memahami respons kelapa sawit terhadap El Niño bukan hanya persoalan menghitung berapa banyak hujan yang tidak turun. Lebih jauh, diperlukan pemahaman mengenai bagaimana tanaman merespons kondisi atmosfer dan ketersediaan air, serta bagaimana respons tersebut dapat berkaitan dengan pertumbuhan dan produksi.
“El Niño dan water deficit berdampak pada kita semua. Semakin banyak pengalaman, data lapangan, dan pengetahuan yang kita bagikan, semakin baik kita memahami respons kelapa sawit dan mempersiapkan langkah berikutnya,” pungkas Marlon.