Jakarta, mediaperkebunan.id – Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai salah satu negara penghasil kopi dunia. Namun, di tengah pertumbuhan konsumsi kopi dan pesatnya perkembangan industri hilir, pengembangan kopi di tingkat hulu dinilai masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi kontinuitas program, produktivitas, dan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Hal tersebut disampaikan Achmad Mangga Barani, Direktur Jenderal Perkebunan periode 2006–2010, dalam wawancara bersama Media Perkebunan di sela-sela acara International Coffee Day 2026, Rabu (30/9/2026).
Menurut Achmad, kopi bukan komoditas baru bagi Indonesia. Budidaya kopi telah dilakukan secara turun-temurun dan Indonesia pernah menjadi salah satu negara besar penghasil kopi dunia, khususnya untuk jenis robusta. Namun, posisi tersebut menghadapi persaingan dari negara lain, salah satunya Vietnam yang saat ini telah melampaui Indonesia dalam produksi kopi.
“Kita pernah menjadi salah satu penghasil kopi yang besar di dunia, khususnya robusta. Tetapi sekarang Vietnam sudah melampaui kita karena mereka sangat intensif mengembangkan kopi. Sementara pengembangan kopi di kita masih tersendat dan belum berjalan secara konsisten,” ujar Achmad Mangga Barani.
Perkembangan industri kopi di Indonesia saat ini terlihat semakin kuat di sisi hilir. Pertumbuhan kedai kopi, kafe, serta berbagai merek dan produk olahan menunjukkan bahwa permintaan terhadap kopi terus berkembang.
Menurut Achmad, perubahan pola konsumsi juga menjadi peluang yang perlu ditangkap oleh sektor perkebunan. Jika dahulu kopi lebih identik dengan konsumen usia tua, kini kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda.
“Sekarang anak muda juga banyak yang menyukai kopi. Ini menunjukkan adanya demand yang berkembang dan harus kita tangkap. Persoalannya, perkembangan di hilir sudah cukup pesat, sementara di tingkat on-farm perkembangannya belum secepat itu dan produktivitasnya masih perlu ditingkatkan,” jelasnya.
Kondisi tersebut menurutnya perlu menjadi perhatian karena meningkatnya konsumsi domestik berpotensi semakin memperbesar kebutuhan bahan baku kopi. Apabila produksi dalam negeri tidak tumbuh secara seimbang, industri pengolahan dan perdagangan kopi akan menghadapi kebutuhan pasokan yang semakin besar.
Achmad Mangga Barani menilai pengembangan kopi di tingkat hulu tidak dapat dilakukan secara parsial. Program pemerintah tidak cukup hanya memberikan bibit atau bantuan sarana produksi, tetapi perlu dikawal dari awal hingga pascapanen.
“Kalau kita mengembangkan kopi, harus betul-betul diikuti secara berkelanjutan. Jangan sekadar menyiapkan bibit atau memberikan bantuan sarana. Pengembangannya harus menjadi satu paket, mulai dari pembibitan, budidaya, sampai pascapanen, sehingga kita dapat membangun produksi kopi yang berkelanjutan dan berkualitas,” katanya.
Kontinuitas Program Menjadi Tantangan
Salah satu persoalan yang disoroti Achmad adalah keberlanjutan program pengembangan kopi. Menurutnya, program yang hanya berjalan dalam periode tertentu tanpa kesinambungan dapat membuat pengembangan komoditas kembali terhenti.
Ia mencontohkan bahwa petani juga sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar. Ketika harga kopi dinilai menguntungkan, petani terdorong untuk mengembangkan tanaman kopi. Sebaliknya, ketika pasar melemah, pengembangan dapat ikut berhenti.
“Kita sering merintis program, tetapi persoalannya adalah kontinuitas. Ada program yang berjalan beberapa waktu, kemudian berhenti. Padahal pengembangan kopi membutuhkan kesinambungan karena tanaman dan usaha perkebunan tidak bisa dikembangkan hanya dalam waktu singkat,” tutur Achmad Mangga Barani.
Karena itu, ia melihat pentingnya keterpaduan program antara pemerintah, swasta, petani, dan pemangku kepentingan lainnya. Dewan Kopi juga dinilai dapat memainkan peran dalam menggalang berbagai pihak agar program pengembangan kopi tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Dewan Kopi dapat menggalang pemerintah dan swasta untuk menyatukan program dan kegiatan di lapangan. Dengan program yang terpadu dan berkelanjutan, pengembangan kopi tidak bergantung pada kondisi pasar sesaat, tetapi memiliki arah yang lebih jelas,” ujarnya.
Selain persoalan produktivitas, perubahan tren konsumsi kopi juga membawa perubahan pada kebutuhan SDM di industri kopi. Menurut Achmad, konsumen saat ini tidak selalu memilih kopi berdasarkan jenisnya, seperti arabika, robusta, atau liberika.
Perkembangan merek dan produk kopi membuat proses pencampuran atau blending, pengolahan, hingga penyajian menjadi bagian penting dalam menciptakan karakter produk yang diterima pasar.
“Sekarang konsumen tidak lagi selalu fanatik pada jenis kopi. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana kopi tersebut diolah dan disajikan sehingga menghasilkan rasa dan pengalaman yang disukai. Di sinilah sumber daya manusia memiliki peranan yang sangat penting,” katanya.
Ia mencontohkan peran barista atau tenaga profesional yang mengolah dan meracik kopi. Kemampuan SDM dalam mengolah bahan baku menjadi produk dengan karakter tertentu turut menentukan kualitas produk yang diterima konsumen.
Menurutnya, perkembangan tersebut juga membuka lapangan pekerjaan baru sekaligus menciptakan kebutuhan terhadap tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus di industri kopi.
Sekolah Kopi untuk Menyiapkan SDM
Salah satu upaya yang disoroti Achmad dalam penguatan SDM kopi adalah pengembangan Sekolah Kopi. Ia menyebut pendidikan kopi tidak seharusnya hanya berfokus pada aspek budidaya, tetapi juga menyiapkan SDM untuk berbagai kebutuhan dalam ekosistem kopi.
Achmad menyambut baik inisiatif Sekolah Kopi yang mulai dikembangkan oleh INSTIPER. Menurutnya, pengembangan SDM menjadi faktor penting karena persaingan industri kopi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh komoditas dan lahan, tetapi juga kemampuan manusia yang mengelolanya.
“Sekolah Kopi jangan hanya melihat kopi dari sisi tanamannya. Yang paling penting adalah bagaimana mempersiapkan SDM. SDM kopi kita membutuhkan regenerasi yang lebih kreatif agar lahir kader-kader baru yang mampu membawa industri kopi berkembang lebih jauh,” ungkapnya.
Ia menilai pendidikan dan pengembangan keterampilan dapat menjadi fondasi untuk membangun SDM kopi yang lebih adaptif terhadap perubahan industri. Mulai dari budidaya, pengolahan, pascapanen, hingga penyajian dan pengembangan produk membutuhkan tenaga yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya.
“Tanaman kopi di berbagai tempat pada dasarnya dapat dikembangkan dengan teknologi budidaya yang baik. Tetapi manusia yang mengelolanya menjadi faktor pembeda. Karena itu, pengembangan SDM harus menjadi bagian penting dalam membangun daya saing kopi Indonesia,” tegasnya.
Persoalan produktivitas perkebunan kopi Indonesia juga tidak dapat dilepaskan dari regenerasi SDM. Ia menilai pengembangan petani dan tenaga profesional di sektor kopi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar sektor ini mampu merespons perubahan pasar.
Menurutnya, keberlanjutan pengembangan kopi tidak cukup hanya dengan memperluas atau memperbaiki tanaman. Program harus mampu membangun ekosistem yang mendukung petani sejak pembibitan hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.
Penguatan SDM juga diperlukan untuk menjembatani kebutuhan antara sektor hulu dan hilir. Dengan demikian, pertumbuhan kafe, merek kopi, serta industri pengolahan dapat diikuti dengan ketersediaan bahan baku yang memadai dan berkualitas dari dalam negeri.
“Kita harus melihat kopi sebagai satu kesatuan dari hulu sampai hilir. Produksi harus diperkuat, tetapi SDM juga harus dipersiapkan. Kalau program berjalan secara konsisten dan didukung oleh manusia yang memiliki kemampuan, saya kira kopi Indonesia memiliki peluang untuk berkembang lebih baik,” pungkasnya.
Menurut Achmad, tantangan kopi Indonesia pada akhirnya bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi, tetapi bagaimana memastikan pengembangan yang konsisten, peningkatan produktivitas, penguatan SDM, serta keterhubungan antara hulu dan hilir berjalan dalam satu ekosistem.