1st International Environment Forum Tegaskan Sawit Tak Menghabisi Lahan, CPOPC : Hanya Gunakan Sekitar 7 persen

1st International Environment Forum Tegaskan Sawit Tak Menghabisi Lahan, CPOPC : Hanya Gunakan Sekitar 7 persen

Jakarta, mediaperkebunan – Industri sawit belakangan mendapat tuduhan negatif, Wakil Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, M.T di 1st International Environment Forum (IEF) 2026 tegas membantah.

Musdhalifah menegaskan peran strategis kelapa sawit dalam memenuhi kebutuhan global dan menilai berbagai tuduhan terhadap industri kelapa sawit kerap tidak disertai pemahaman yang utuh dan berbasis data. Data dari World Wide Fund for Nature United Kingdom menyebutkan bahwa perkebunan kelapa sawit dunia hanya menggunakan sekitar 6% hingga 11% dari total lahan yang digunakan untuk produksi minyak nabati dunia.

“Saat ini kenyataannya untuk penggunaan lahan sawit di dunia itu hanya 28,85 juta hektar tapi mampu memproduksi 80 juta ton minyak nabati. Kontribusi kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia adalah sekitar 34% hanya dengan menggunakan 7% lahan dunia,” ujar Musdhalifah di 1st International Environment Forum (IEF) 2026 pada hari Rabu (22/4/2026).

Lebih lanjut, Musdhalifah menyampaikan betapa besarnya produktivitas kelapa sawit dalam menghasilkan minyak dan efisien dalam penggunaan lahan jika dibandingkan dengan minyak nabati lain. “Padahal, penggunaan lahan untuk vegetable oil misalnya soybean sebanyak 100-200 juta hektar tetapi kontribusinya hanya sekitar 15-20%,” katanya.

Dalam materi yang disampaikan, ditegaskan bahwa apabila produksi minyak sawit digantikan oleh komoditas lain seperti kedelai atau bunga matahari, maka kebutuhan lahan akan meningkat drastis. Bahkan, untuk menggantikan volume yang sama, dunia membutuhkan tambahan hingga ratusan juta hektare lahan baru.

“Kalau 80 juta ton itu digantikan dengan minyak nabati lain, kebutuhan lahannya akan sangat besar,” jelasnya, seraya menekankan bahwa produktivitas sawit yang mencapai 3–5 ton per hektare jauh melampaui komoditas lain seperti kedelai yang hanya sekitar 0,45 ton per hektare.

Selain untuk pangan, CPOPC juga menegaskan peran strategis sawit dalam sektor energi dan industri. Musdhalifah menyebut bahwa sekitar 50% pemanfaatan sawit saat ini juga mengarah pada kebutuhan energi, termasuk biofuel dan bioavtur.

“Produk kelapa sawit bukan hanya untuk pangan, dalam kehidupan sehari-hari pupuk dari limbah kelapa sawit mulai dari serabutnya, cangkangnya, liquid waste POME-nya, itu bisa jadi alternatif pupuk. Belum juga untuk B50 dan sawit juga alternatif untuk bioavtur. Jadi kalau sekarang dunia sibuk dengan minyak fosil, Indonesia bisa mengandalkan sawit,” ungkapnya.

CPOPC sendiri merupakan organisasi yang dibentuk pada 21 November 2015 dengan anggota utama seperti Indonesia dan Malaysia sebagai pendiri. Seiring waktu, keanggotaan berkembang dengan bergabungnya Papua Nugini, Honduras, serta Republik Demokratik Kongo, dan dalam proses perluasan ke negara Afrika seperti Nigeria dan Ghana.

Kemudian, CPOPC telah merumuskan kerangka kerja global melalui Global Framework of Principles for Sustainable Palm Oil (GFP-SPO), yang bertujuan menyelaraskan berbagai standar keberlanjutan seperti ISPO dan MSPO. Strategi ini mencakup pemanfaatan platform sawit yang ada, kolaborasi dengan produsen minyak nabati lain, serta upaya membangun narasi global yang lebih adil terhadap sawit.

Di sisi lain, perhatian terhadap petani kecil (smallholder) juga menjadi isu krusial. Tantangan seperti produktivitas rendah, keterbatasan penerapan praktik budidaya yang baik, serta rendahnya tingkat peremajaan tanaman menjadi fokus perbaikan ke depan.

Sekjen CPOPC juga menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif antarnegara produsen untuk menghadapi tekanan global. “Kita tidak bisa bergerak sendiri. Perlu kerja sama untuk memastikan sawit tetap menjadi bagian penting dalam sistem pangan dan energi dunia,” ujarnya

Dengan berbagai tantangan dan peluang yang ada, CPOPC optimistis bahwa kelapa sawit akan tetap menjadi komoditas strategis global, selama pengelolaannya terus diarahkan pada prinsip keberlanjutan, kolaborasi, dan berbasis data.