1st IICCE 2026: Bioteknologi Dorong Pengembangan Perbenihan Kelapa Nasional

1st IICCE 2026: Bioteknologi Dorong Pengembangan Perbenihan Kelapa Nasional

Medan, mediaperkebunan.id – Pengembangan perbenihan menjadi salah satu kunci dalam upaya merevitalisasi industri kelapa nasional. Penggunaan bioteknologi dinilai dapat memperkuat proses pemuliaan, perbanyakan tanaman, hingga penyediaan bahan tanaman unggul dalam skala besar.

Hal tersebut disampaikan Dr. Imron Riyadi, S.P., M.Si., Peneliti PT Riset Perkebunan Nusantara, dalam 1st Indonesian International Coconut Conference & Exposition (IICCE) yang berlangsung di Medan, 10 Juli 2026. Dalam pemaparannya berjudul “The Role of Biotechnology in Coconut Breeding”, Imron menjelaskan perkembangan aplikasi bioteknologi dalam pemuliaan kelapa, termasuk teknologi kultur in vitro dan biologi molekuler.

Menurut Imron, bioteknologi memiliki dua ruang aplikasi utama dalam pengembangan kelapa, yakni kultur in vitro dan molecular biology. Kultur in vitro dapat digunakan untuk melakukan rescue terhadap tanaman atau bahan tanaman yang tidak dapat tumbuh secara alami, sekaligus mendukung perbanyakan dalam jumlah besar. Sementara itu, biologi molekuler dapat dimanfaatkan untuk genetic screening, genetic selection, serta analisis kesamaan genetik antartanaman.

Imron menjelaskan bahwa penerapan bioteknologi menjadi semakin penting pada jenis kelapa yang memiliki karakteristik khusus maupun nilai ekonomi tinggi.

Beberapa pertimbangan penerapan teknologi tersebut antara lain pada kelapa yang tidak dapat tumbuh secara alami, seperti kelapa kopyor, jenis kelapa dengan nilai ekonomi tinggi seperti kopyor dan pandan wangi, kebutuhan bahan tanaman dalam volume besar untuk kepentingan industri, konservasi plasma nutfah seperti kelapa Bido, serta kelapa dengan karakteristik unik dan langka.

Imron menyebut, kelapa kopyor menjadi salah satu contoh keberhasilan pengembangan melalui embryo rescue technology. Teknologi tersebut dikembangkan untuk membantu penyelamatan embrio kelapa kopyor yang memiliki karakter khusus dan kemudian menghasilkan tanaman yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Pengembangan kelapa kopyor diawali dengan karakterisasi dan seleksi terhadap berbagai tipe kelapa, termasuk tipe tinggi (tall) seperti Sumenep dan Maok serta tipe pendek (dwarf) seperti Pati dan Banjarnegara. Tahapan berikutnya meliputi pengumpulan sumber eksplan dari lapangan maupun ruang khusus, kemudian dilanjutkan dengan kultur eksplan berupa embrio zigotik di laboratorium.

Dalam proses kultur embrio dan regenerasi, terdapat empat tahapan utama yang dikembangkan, yaitu perkecambahan embrio zigotik, pengembangan germinan dan pembesaran plantlet, perakaran secara in vitro, serta aklimatisasi plantlet.

Pada tahap pertama, yaitu perkecambahan embrio zigotik, penelitian diarahkan untuk mendorong perkecambahan secara efektif, meningkatkan tingkat kelangsungan hidup, menyelamatkan perkecambahan abnormal, serta mempercepat pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Tahap ini dilakukan secara bertahap untuk mendapatkan formula terbaik yang dapat mendukung keberhasilan kultur.

Selanjutnya, tahap pengembangan germinan dan pembesaran plantlet diarahkan untuk mempercepat pertumbuhan dan perkembangan, meningkatkan efektivitas serta efisiensi proses kultur, sekaligus meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan keberhasilan tanaman sebelum memasuki tahap aklimatisasi.

Tahap ketiga adalah in vitro rooting, yang bertujuan menginduksi dan memperbaiki pembentukan akar plantlet, mempercepat siklus kultur di laboratorium, serta meningkatkan tingkat keberhasilan tanaman sebelum aklimatisasi.

Adapun tahap terakhir adalah plantlet acclimatization. Pada tahap ini, penelitian difokuskan pada penciptaan kondisi aklimatisasi yang tepat, termasuk formulasi media dan pengaturan mikroklimat. Tujuannya adalah mempercepat pertumbuhan plantlet hingga siap dipindahkan ke lapangan sekaligus meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan keberhasilannya.

Pengembangan teknologi tersebut juga diikuti dengan pembentukan koleksi tanaman kelapa kopyor. Koleksi ini memiliki beberapa tujuan utama, yaitu sebagai koleksi tanaman untuk kepentingan penelitian, sumber eksplan untuk produksi kelapa kopyor, serta mendukung peningkatan kapasitas produksi.

Koleksi plasma nutfah kelapa kopyor tersebut berada di Kebun Percobaan Ciomas dan Cibodas, Bogor. Koleksi terdiri atas berbagai tipe warna, yakni hijau, cokelat, hijau kekuningan, dan kuning. Selain itu, koleksi mencakup tiga tipe tanaman, yaitu dwarf, hybrid, dan tall.

Pengembangan kultur jaringan kelapa kopyor kemudian dilanjutkan dengan pengamatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman hasil kultur jaringan di lapangan dan perkebunan. Materi presentasi juga menunjukkan adanya evaluasi terhadap performa kelapa kopyor yang berasal dari kultur jaringan.

Menuju Produksi Kelapa dalam Skala Besar

Selain kelapa kopyor, penelitian bioteknologi juga diarahkan pada pengembangan kultur in vitro untuk mendukung produksi bahan tanaman kelapa dalam jumlah besar.

Berdasarkan pengalaman kultur in vitro di laboratorium, Imron memaparkan dua pendekatan utama, yaitu organogenesis dan somatic embryogenesis.

Organogenesis memiliki tingkat proliferasi atau multiplikasi moderat, yakni lebih dari 10 kali. Teknologi ini menghasilkan karakter genetik klonal, memiliki tahapan penelitian yang relatif lebih cepat, serta menghasilkan karakter akar lateral atau berserat. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman di lapangan disebut normal, dengan efisiensi biaya sebagai salah satu karakteristiknya.

Sementara itu, somatic embryogenesis memiliki tingkat proliferasi yang lebih tinggi, yakni lebih dari 50 kali. Karena tingkat multiplikasinya tinggi, pendekatan ini diprioritaskan untuk kebutuhan perbanyakan dalam skala besar.

Namun, teknologi tersebut memiliki tahapan penelitian yang lebih kompleks dan membutuhkan waktu lebih panjang. Karakter genetiknya tetap klonal, sedangkan karakter akarnya berupa akar tunggang pada dikotil atau akar kuat menyerupai akar tunggang pada monokotil. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman di lapangan tercatat normal hingga sangat baik, meskipun membutuhkan biaya yang lebih tinggi.

Dalam pengembangan kultur kelapa, sejumlah sumber eksplan yang digunakan antara lain embrio zigotik yang telah diiris, perbungaan muda, dan daun muda.

Riset Embriogenesis Somatik Masih Berjalan

Dalam materi yang dipaparkan, IOPRI (PPKS-PT RPN) saat ini terus mengembangkan penelitian coconut somatic embryogenesis. Tahap penelitian mencakup fase kultur in vitro yang meliputi callus, somatic embryo, germinant and shoot, hingga plantlet.

Penelitian kemudian dilanjutkan pada tahap aklimatisasi dan pembentukan bibit, sebelum memasuki fase uji lapangan (field trial).

Meski demikian, teknologi tersebut masih berada dalam tahap pengembangan. Materi presentasi mencatat bahwa tingkat multiplikasi saat ini masih kurang dari lima kali, sehingga penelitian terus dilakukan untuk menemukan protokol terbaik yang memungkinkan produksi massal.

Bahan tanaman yang dikembangkan mencakup berbagai tipe kelapa, yaitu dwarf, hybrid, dan tall.

Pengembangan bioteknologi dalam pemuliaan kelapa menunjukkan bahwa penyediaan bahan tanaman tidak hanya bergantung pada metode konvensional. Teknologi kultur in vitro membuka peluang untuk menyelamatkan, memperbanyak, dan mengembangkan tanaman dengan karakter tertentu, sementara teknologi biologi molekuler dapat mendukung proses identifikasi dan seleksi berdasarkan karakter genetik.

Pengalaman pengembangan kelapa kopyor melalui embryo rescue menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menangani tanaman dengan karakter khusus. Di sisi lain, pengembangan somatic embryogenesis diarahkan untuk menjawab kebutuhan perbanyakan bahan tanaman dalam skala besar.

Dengan demikian, pengembangan teknologi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sistem perbenihan kelapa yang mampu menyediakan bahan tanaman berkualitas untuk mendukung revitalisasi industri kelapa nasional.

Penyempurnaan protokol, peningkatan tingkat multiplikasi, pengujian lapangan, serta pengembangan berbagai tipe kelapa menjadi bagian dari proses untuk menghasilkan teknologi perbanyakan yang efektif dan dapat diterapkan secara luas.