2nd T-POMI
2024, 30 Januari
Share berita:

Jakarta, mediaperkebunan.id – Upaya cegah Ganoderma pada perkebunan sawit diungkap dalam acara Simposium Internasional Ganoderma yang diselenggarakan di Bandung pada hari ini, Selasa (30/01).

Hadirkan banyak praktisi perkebunan rakyat, Simposium Internasional Ganoderma merupakan acara yang diselenggarakan oleh Media Perkebunan, Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI), dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Dalam pertemuan ini, para praktisi perkebunan rakyat akan diberi tahu mulai dari ciri-ciri adanya Ganoderma sampai dengan cara mengatasi penyakit ganoderma.

Direktur Jenderal Perkebunan, Andi Nur Alam Syah dalam pembukaan acara menyatakan bahwa perkebunan rakyat yang terkena Ganoderma mencapai 46.767 ha, paling besar di Sumut yang sudah masuk generasi ke lima, yaitu seluas 34.000 ha. Perkebunan rakyat yang terkena Ganoderma tersebut tersebar di 12 provinsi yaitu NAD, Sumut, Riau, Sumbar, Jambi, Bangka Belitung, Sumsel, Lampung, Kalteng, Kaltim, Kalbar dan Sulbar.

Selain dengan memperhatikan ciri-ciri tanaman kelapa sawit seperti batang, daun, dan akar tanaman, penggunaan pupuk organik juga perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas tanah sehingga mengurangi potensi Ganoderma pada kelapa sawit. Ganoderma sendiri merupakan penyakit busuk pangkal batang pada tanaman sawit yang disebabkan oleh jamur ganoderma boninense.

Serangan Ganoderma pada tanaman kelapa sawit penting untuk diantisipasi, beberapa upaya telah dilakukan untuk mencegah serangan jamur ganoderma boninense, berikut di antaranya.

Upaya Pencegahan Ganoderma pada Perkebunan Rakyat yang Telah Dilakukan

Dirjen Perkebunan menyambut baik Simposium Internasional Ganoderma dan mengharapkan semua pihak bersinergi untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang tanaman kelapa sawit tersebut. Diharapkan pihak-pihak perkebunan sawit melakukan pelaporan secara konkrit kepada pemerintah melalui Sistem Informasi Informasi Pelaporan dan Rekap Data (Sipereda OPT).

Baca Juga:  Prinsip ISPO Bisnis Kelapa Sawit Berkelanjutan

Sampai saat ini, pemerintah masih konsisten dalam melakukan pemantauan dan pelaporan Ganoderma di semua provinsi dengan aplikasi Sipereda OPT. Siperada OPT sendiri merupakan informasi pengendalian OPT melalui aplikasi sistim informasi kesehatan tanaman (sinta).

Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Jambi, Agus Rizal menyatakan bahwa selama ini Disbun Jambi telah membantu dengan trichoderma yang dibuat oleh UPT Perlindungan Perkebunan Disbun. Jambi siap berkolaborasi dengan semua pihak sebagai percontohan pengendalian Ganoderma, terutama untuk perkebunan rakyat. Sebagai salah satu sentra perkebunan kelapa sawit, Ganoderma di Jambi jadi pokok masalah yang sangat penting untuk ditanggulangi.

Lalu, Komite Riset BPDPKS, Tony Liwang menyatakan bahwa BPDPKS sudah membiayai beberapa riset terkait Ganoderma seperti penggunaan drone untuk deteksi dini. Kalau sudah bisa diaplikasikan diharapkan dapat membantu mengurangi serangan Ganoderma.

Riset-riset tentang Ganoderma lainnya seperti deteksi dini, pengendalian dengan mikoriza, dan lain-lain diharapkan bisa semakin banyak yang bisa diaplikasikan. BPDPKS sangat berkepentingan untuk menjaga keberlanjutan sawit Indonesia, termasuk dari ancaman ganoderma.

Upaya Pencegahan Ganoderma Lain untuk Keberlanjutan Perkebunan Kelapa Sawit

Selain melakukan pelaporan Ganoderma melalui aplikasi Sipereda, Simposium Internasional Ganoderma juga ungkap ada beberapa upaya lain untuk cegah penyebab penyakit Ganoderma pada sawit. Upaya ini penting dilakukan mengingat pentingnya industri kelapa sawit bagi keberlangsungan ekonomi nasional ke depan.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono menyatakan industri kelapa sawit merupakan industri yang mengelola sumber daya alam untuk pangan dan energi. Ketika pandemi Covid 19, industri kelapa sawit bertumbuh dan menjaga neraca perdagangan tetap positif. 

Selain penghasil devisa yang sangat besar, industri kelapa sawit juga membuka lapangan kerja untuk 16,2 juta orang baik langsung atau tidak langsung. Namun, Ganoderma merupakan ancaman luar biasa bagi kelapa sawit, sangat menakutkan karena mengancam keberlanjutan.

Baca Juga:  Produksi CPO 2023 Naik Tujuh Persen

Secara biologis, Ganoderma tergolong pada kelompok cendawan yang lemah. Serangan pada kelapa sawit menjadi dominan karena terjadi ketidakseimbangan agroekosistem di perkebunan kelapa sawit dan tidak adanya cendawan kompetitor dalam tanah, akibat menurunnya unsur hara organik dalam tanah dan aplikasi herbisida yang tidak bijaksana.

Dulu, penyakit ini menyerang setelah tanaman sawit masuk generasi kedua, tapi sekarang generasi pertama juga sudah ada yang terserang. Semula hanya Sumatera, sekarang ada di Kalimantan dan Sulawesi. Penelitian ganoderma perlu diperbanyak dengan pendanaan BPDPKS sehingga menghasilkan mitigasi baru yang selama ini tidak terpikirkan.

Dewan Pakar P3PI, Karyudi menyatakan Ganoderma ini sudah lama ada di Indonesia dan sekarang jadi masalah berat sebab bila terlambat dideteksi menyebabkan tanaman sawit mati. Kalau seranganya masif dan meluas produksi kelapa sawit Indonesia dipastikan menurun.

Pegendaliannya adalah mengembalikan kondisi tanah seperti pada masa lalu dengan memasukan organisme antagonis seperti mikoriza dan trichoderma. Sekarang yang diperlukan adalah pengendalian yang tepat sesuai kondisi setempat sebab beda daerah akan berdeda pengendaliannya. Setelah ini yang penting tindak lanjutnya yaitu bagaimana masing-masing peserta menindaklanjuti di lapangan.

Banyak upaya lain untuk melakukan mitigasi ganoderma seperti sanitasi, deteksi dini, dan rekayasa tanaman tahan ganoderma, namun hasilnya belum memuaskan sehingga harus dilakukan berbagai upaya. Serangan ganoderma sudah meluas di sentra provinsi sawit dan pengendaliannya sangat spesifik lokasi, sehingga mitigasi A bisa saja berhasil di satu provinsi tetapi belum tentu berhasil di provinsi lain.

Banyak pihak termasuk GAPKI menyambut baik diadakannya Simposium Internasional Ganoderma. Pertemuan pakar dan praktisi perusahaan perkebunan diharapkan bisa menjadi jalan keluar nyata supaya Ganoderma tidak lagi jadi ancaman bagi kelapa sawit Indonesia.

Baca Juga:  Indonesia dan Malaysia Harus Buat Standar Kelapa Sawit Sendiri

Dapat disimpulkan upaya cegah Ganoderma pada perkebunan kelapa sawit yang dapat dilakukan antara lain adalah pelaporan melalui Sipereda OPT, mengembalikan kondisi tanah dengan mikroza dan trichoderma, sanitasi, deteksi dini, dan rekayasa tanaman tahan Ganoderma, namun tentunya pihak perkebunan rakyat memerlukan ahli dan riset terlebih dahulu untuk melakukan hal tersebut.