JAKARTA, mediaperkebunan.id – Sektor hulu sawit menjadi kunci keberlanjutan progam biodisel. Untuk itu urgensi penyelesaian masalah di sektor ini karena menyangkut ketersediaan bahan baku.
Demikian diungkapkan Head Of Sustainability Division Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Rapolo Hutabarat dalam Focuss Group Discussion (FGD) yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) bertema Biodiesel untuk Negeri di Jakarta, Kamis (20/7/2024).
“Permasalahan ini memang harus segera diselesaikan oleh negeri ini, terutama dari sisi hulu. Kita tahu bahwa banyak yang harus dikerjakan di sektor hulu, terutama karena inilah yang menentukan ada tidak bahan bakunya,” ujar Rapolo.
Di samping itu, kata Rapolo, pentingnya keberlanjutan program blending biofuel, seperti B40 dan kemungkinan peningkatan lebih lanjut ke B45 atau B50. Keberhasilan program-program ini sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku di sektor hulu.
“Pandangan kami dari Aprobi bahwa bahan baku itu menjadi salah satu kunci untuk dilakukan hilirisasi, baik dari sisi hilirisasi pangan, energi, dan kebutuhan lainnya untuk oleokimia,” ujar Rapolo.
APROBI berharap pemerintah dapat segera menyelesaikan permasalahan di sektor hulu agar Indonesia dapat mencapai cita-cita besar dalam industri sawit, termasuk target produksi CPO sebesar 100 juta ton pada tahun 2045.
Kepala Divisi Perusahaan BPDPKS, Achmad Mulizal Sutawijaya, menjelaskan pentingnya kesamaan persepsi menyangkut program biodisel. Karena program ini sangat penting untuk menentukan dalam industri sawit.
“Kita harus memahami kembali bahwa adanya biodiesel ini program sangat penting mulai dari pendanaannya, aneka edukasi dari BPDPKS sendiri dengan Kementerian ATR. Karena kami masih banyak mendapat beberapa miss informasi terkait biodiesel,” ujar Maulizal.
Menurut Maulizal, masih banyak yang mengatakan biodiesel ini hanya untuk koperasi, tidak bermanfaat langsung bagi petani swadaya. Demikian juga ketika biodiesel disebut menghapuskan atau mengurangi dari kebermanfaatan minyak goreng misalnya.
Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Rino Afrino mengungkapkan, tantangan di sektor hulu sawit yang sangat penting untuk diselesaikan.
Isu legalitas lahan, misalnya. Menurut Rino, permasalahan ini menjadi tantangan utama dalam meningkatkan produktivitas. “Hari ini ada 3,4 juta hektare sawit yang tervonis dalam kawasan hutan, yang terancam akan hilang. Berapa devisanya? Berapa kebutuhan yang hilang?,” tukasnya.
Rino menekankan perlunya peningkatan produktivitas melalui langkah-langkah pembenahan sektor hulu. “Pertama, legalitas. Kedua, tadi disorot bagaimana PSR dari 2,4 juta hektare ternyata baru 390 ribu ha, tidak sampai 10 persen,” ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana Fungsi Perencanaan Pemasaran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bina Restituta Barus, menyampaikan bahwa sawit itu adalah anugerah terbesar Tuhan kepada bangsa Indonesia.
“Kita negara tropis yang mungkin limpah Sumber Daya Alamnya, tapi sebenarnya sawit ini adalah emas, bahkan banyak negara lain juga yang melirik penggunaaan sawit,” ungkap Bina.
Menurut Bina, sawit dari hulu – hilir bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya. Ini harus dimanfaatkan sebagai modal dimasa depan, mengembangkan teknologi, bagaimana upayakan sawit supaya bermanfaat untuk dunia. (YR)

