2nd T-POMI
2023, 13 Desember
Share berita:

Oleh: Dadang Gusyana – Member American Society of Agronomy (ASA) 

Tanah yang terkena dampak garam merupakan ancaman yang semakin besar di seluruh dunia karena efek toksiknya yang mengurangi kesuburan tanah dan penyerapan air pada tanaman. Rata-rata 418 juta ha tanah bersifat asin. Iklim, bahan induk tanah dan pelapukan batuan selanjutnya, air tanah, banjirnya daratan oleh air laut, dan reaksi kesetimbangan mengendalikan sumber salinitas alami. Misalnya, daerah dengan muka air tanah yang tinggi dan tingkat evapotranspirasi yang tinggi dapat menyebabkan akumulasi garam di permukaan tanah karena air hilang ke atmosfer dan garam tertinggal.

Jika tanah mengandung garam natrium berlebih dan kompleks lempung masih mengandung kalsium yang dapat ditukar, tanah tersebut disebut tanah salin. Proses akumulasi garam yang mengarah pada pembentukan tanah dikenal sebagai salinisasi. (i) Tanah salin biasanya mengandung klorida, sulfat, bikarbonat, dan terkadang natrium nitrat.Adanya unsur klorida dan natrium sulfat memberikan warna putih pada permukaan tanah.

Jika nitrat berlebihan, maka tanah akan berwarna coklat. (ii) Persentase natrium tertukar (ESP) sangat rendah, kurang dari 15% dari total kapasitas pertukaran kation (C.E.C.). (iii) Akibat rendahnya ESP, umumnya pH bervariasi antara 7,5 dan 8,5. (iv) Total kandungan garam terlarut lebih dari 0,1%. itu cukup tinggi untuk mengganggu pertumbuhan normal sebagian besar spesies tanaman. (v) Konduktivitas listrik (E.C.) ekstrak larutan (tanah jenuh) adalah 4 atau lebih m mhos/ cm. (vi) Tanah salin tetap dalam kondisi terflokulasi (berbutir). Ini permeabel terhadap air dan udara. (vii) Tanah salin biasanya memiliki kerak permukaan berupa garam berwarna putih, terutama pada musim ketika pergerakan bersih kelembaban tanah meningkat.

Garam yang terlarut dalam air tanah akan naik ke permukaan dan tertinggal dalam bentuk kerak ketika air menguap. Ketika tanah terkena garam, kapasitas produktifnya menurun dan tanaman yang ditanam di dalamnya tidak dapat tumbuh dengan baik.Ketika tanah menjadi asin, air dan organisme dari kapiler I kembali ke tanah yang larut, sehingga tanaman mulai layu dan mati.

Baca Juga:  Bioteknologi: Peluang dan Perbaikan Ekonomi Petani

Akar tanaman juga tidak mampu menyerap air dan unsur hara dalam jumlah yang dibutuhkan. Walaupun ada kelembapan tetapi tanaman merasakan tidak adanya kelembapan. Untuk mengurangi efek racun diperlukan pengelolaan tanah salin yang tepat.

Air irigasi garam meningkatkan dan mempertahankan tingkat salinitas tanah. Salinitas menyebabkan berkurangnya ion hara, dan serapan air mempunyai pengaruh negatif yang signifikan terhadap hasil panen. Biasanya tanah salin masih memiliki struktur fisik yang baik dan infiltrasi air serta permeabilitas tanah tidak terpengaruh. Menghilangkan kelebihan garam dari zona perakaran sangat penting untuk pertumbuhan tanaman yang sehat. Pencucian garam dengan air adalah hal biasa, namun di daerah dengan permukaan air tinggi, drainase sebelum pencucian mungkin diperlukan.